ANAK DENGAN KANKER | HealthyEnthusiast

You are here: » ANAK DENGAN KANKER

ANAK DENGAN KANKER

ANAK DENGAN KANKER
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Asuhan bagi anak-anak dengan kanker merupakan salah satu tanggung jawab yang paling sulit yang sering dihadapi para profesi kesehatan, karena tatalaksana yang intensif terhadap berbagai masalah baik fisik, psikososiaL maupun spiritual yang dihadapi anak-anak dan keluarga mereka. Perhatian terhadap penyembuhan sering dapat mengaburkan kenyataan bahwa kematian dapat terjadi, sekalipun dengan intervensi. Pemilihan asuhan paliatif sebagai intervensi seringkali dianggap keluarga maupun para profesi kesehatan sebagai suatu kegagalan, sehingga tetap memfokuskan pada pengobatan penyakit. Asuhan akhir-kehidupan (end of life care) sering terlupakan dan pentingnya kenyamanan serta dukungan sering diabaikan demi upaya menyelamatkan si anak. Asuhan bagi anak dengan sakit yang terminal adalah suatu proses multifaset yang intensif, yang memerlukan penatalaksanean terPokus pada masalah fisik, psikososial dan spiritual dengan tujuan akhir yang jelas untuk meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup anak dan keluarganya. Setiap anggota tim asuhan kesehatan mempunysi peran penting dalam meyakinkan bahwa kualitas hidup dipertahankan selama sisa hidup anak.

Fakta

  • World Health Organization (WHO) telah menegaskan bahwa asuhan paliatif harus dimasukkan ke dalam asuhan semua anak dengan kanker, tidak tergantung lokasi.
  • Asuhan Paliatif Anak (Pediatric palliative care) paling berhasil diterapkan menggunakan pendekatan multidisiplin.
  • Kebanyakan keluarga menginginkan anak mereka diberikan asuhan di rumah. Oleh karena itu, asuhan paliatif anak memerlukan pendekatan multidisiplin yang luwes dan terkoordinasi.
  • Menurut suatu study terkini tentang anak-anak yang meninggal karena kanker di Inggris, 52% anak dan remaja serta 30% dewasa muda meninggal di rumah. Hal tersebut menunjukkan bahwa asuhan primer dan pelayanan masyarakat sangat kritis dalam pemberian pelayanan asuhan paliatif anak.

Transisi ke Perawatan Paliatif

Suatu tantangan yang sulit bagi tim yang memberikan asuhan kepada anak dengan penyakit progresif adalah transisi dari suatu asuhan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit ke suatu asuhan yang terfokus pada tatalaksana gejala untuk memberikan kenyamanan. Pada awalnya ketika anak diberikan diagnosis suatu kondisi yang kronik dan membahayakan jiwa, pusat perhatian adalah menyembuhkan atau mengendalikan penyakit untak memberikan anak usia hidup yang semaksimal mungkin. Pada masa ini keluarga, anak dan tim kesehatan mempunyai toleransi besar terhadap efek samping dan ketidaknyamanan pasien. Akan tetapi, bagi beberapa anak, penyakitnya berjelan terus, sehingga keluarga dan profesi kesehatan harus menghadapi dilema etika. Dokter harus mengerti definisi serta penilaian keluarga tentang kualitas hidup untuk membimbing keluarga melalui perjalanan penyakit anak mereka dan akhirnya kematian.

American Academy of Pediatrics (AAP) telah menetapkan standar minimum asuhan paliatif anak, mencakup: kemudahan transisi antara berbagai keadean asuhan kesehatan, termasuk seorang pengasuh yang konsisten, tersedianya asuhan paliatif setiap saat, serta tersedianya suatu tim interdisiplin untak mengatasi kebutahan fisik, psikososial, emosional, dan spiritual anak dan keluarga. Ada 6 rekomendasi AAP untuk asuhan paliatif anak dan keluarganya, termasuk:

  1. Asuhan paliatif dan program terkait perlu dikembangkan dan tersedia luas untuk memberikan tatalaksana gejala serta mempromosikan kepentingan anak-anak yang hidup dengan kondisi membahayakan jiwa atau terminal.
  2. Pada diagnosis suatu kondisi membahayakan jiwa atau terminal, sangat penting untuk menawarkan suatu cara asuhan paliatif terpadu yang berkesinambungan selama perjalanan penyakit, tanpa memperhatikan hasil akhirnya.
  3. Perubahan dalam peraturan serta penggantian biaya asuhan paliatif dan pelayanan hospis diperlukan untuk memperbaiki kemudahan bagi anak dan keluarga yang memerlukan pelayanan tersebut. Modifikasi peraturan sekarang harus mencakup: Pertama, kriteria eligibility yang lebih luas tentang lamanya survival yang diharapkan (expected survival). Kedua, masa tenggang dari perpanjangan-hidup dan asuhan paliatif yang sedang berlaku. Ketiga, tersedianya terapi lain di luar terapi yang menuruti definisi sempit”indikasi medis”.
  4. Semua tenaga medis, dokter dan dokter spesialis maupun dokter spesialis konsultan terkait harus memahami pemberian asuhan paliatif pada anak.
  5. Peningkatan tunjangan untuk penelitian tentang program asuhan paliatif anak yang efektif, peraturan dan penggantian biaya, tatalaksana nyeri dan gejela, serta konseling masa kedukaan juga diperlukan. Perusahaan farmasi harus menyediakan informasi label tentang obat pengurangan gejala pada populasi anak serta menyediakan formula yang cocok untuk penggunaan pada anak.
  6. Praktik bantuan dokter (physician assisted) untuk bunuh diri atau euthanasia bagi anak tidak boleh didukung.

Dilema Etika yang Sering Ditemukan

Kendali Nyeri

Dasar pemberian: 1. Kenyamanan adalah tujuan utama, 2. Memperbaiki kualitas hidup, 3. Proses kematian lebih mudah apabila anak bebas nyeri

Dasar menghindari pemberian:  1. Efek samping opioid, 2. Penurunan tingkat kognisi, 3. Ketakutan akan ketergantungan (tidak ditemukan pada pasien yang sakit terminal)

Kemoterapi atau Terapi Eksperimental

Dasar pemberian: 1. Memperpanjang kehidupan;  2. Kemungkinan peningkatan kualitas hidup; 3. Menimbulkan perasaan bahwa keluarga telah melakukan segalanya untuk menyelamatkan anak mereka

Dasar menghindari pemberian:  1. Menurunkan jumlah sel darah, meningkatkan risiko infeksi, perdarahan; 2. Efek samping terapi mungkin menimbulkan sakit, tidak nyaman.

Nutrisi suplemen dan Hidrasi (intravena, nasogastric tube, g-tube)

Dasar pemberian:  1. kepercayaan bahwa anak lapar/haus.; 2. anak tidak bisa atau tidak mau makan; 3. takut anak “mati kelaparan”; 4. peran utama orang tua adalah memberi makan; 5. rasa bersalah orang tua

Dasar menghindari pemberian:  1. nutrisi suplemental melebihi yang dapat dicerna anak dapat menyebabkan nausea/muntah;  2. peningkatan pertumbuhan tumor (memberi makanan untuk tumor); 3. meningkatkan volume cairan dapat menyebabkan payah jantung, meningkatkan sekresi dan/atau kongesti pulmoner, yang menimbulkan pertanyaan apakah perlu atau tidak memberikan diuretika;  4. peningkatan pengeluaran urin menyebabkan peningkatan risiko kulit lecet apabila anak mengalami inkontinensia;  5. kematian lebih nyaman dan alamiah;  6. keluhan haus berhubungan dengan proses kematian, bukan tingkat hidrasi (Zerwekh, 1997)

Resusitasi

Dasar pemberian:  1. keluarga tidak mau menyerah; 2. konflik dengan kultur dan kepercayean agama; 3. penolakan (denial) bahwa anak sebenarnya akan meninggal.

Dasar menghindari pemberian:  1. membiarkan terjadi proses alamiah; 2. keluarga yakin bahwa anak mereka telah sangat menderita, tidak menginginkan intervensi agresif; 3. membebaskan keluarga dari tanggung jawab untuk menghentikan intervensi yang dapat memperpanjang hidup.

Pertimbangan Tumbuh Kembang

Perkembangan kognitif dan usia membentuk dasar pengertian anak terhadap konsep kematian. Pengertian muncul melalui waktu dalam pola sekuensial, akan tetapi prosesnya bervariasi pada setiap anak. Terdapat beberapa pemikiran dalam mengasuh anak berbagai usia pada akhir hidup mereka (Rando,1984)

Bayi 0-2 tahun

Perkembangan normal untuk bayi meliputi pembentukan kepercayaan pada orang tua sementara mendapatkan rasa untuk membedakan. Perpisahan dengan orang tua adalah perasaan takut yang utama. Bayi yang berada di akhir kehidupan tidak mempunyai konsep tentang kematian, serta sangat dipengaruhi keadaan fisik dan emosi keluarga. Reaksi terjadi berhubungan dengan perpisahan dari pengasuh dan perubahan dari rutin atau lingkungan. Untuk mendukung anak seusia ini, orangtua dianjurkan tinggal bersama anak sebanyak mungkin sambil memberikan kelegaan dan kenyamanan fisik. Perkembangan anak kecil (toddler) meliputi pembentukan kemandirian dari orang tua sedikit demi sedikit, menginginkan rasa kendali terhadap lingkungan, dan mempelajari ketrampilan dasar mengurus diri. Anak di bawah dua tahun dengan sakit terminal mempunyai pengertian terbatas tentang proses kematian. Oleh karena perbedaan dari orang lain tidak lengkap, maka anak usia dini ini dipengaruhi oleh emosi orang lain, sering bereaksi sewaktu melihat orang tuanya bereaksi. Perawatan rumah sakit adalah hal yang sangat menekan (stressful). Mengurangi perpisahan anak dari orangtua sebanyak mungkin akan sangat mendukung; mendorong aktivitas bermain secara teratur dan memberikan rasa lega fisik dan kenyamanan yang maksimal.

Masa kanak-kanak (3-5 tahun)

Pada usia ini mulai terbentuk kesadaran dan anak menikmati membuat keputusan serta ekspresi sendiri. Perasaan untuk menjelajah dan mengagumi mendorong maju anak, dan menjadi lebih dibedakan dari orang tua serta menikmati pencukupan diri. Dunia dilihat dari baik dan jahat, dan berpikir magic memboat anak percaya bahwa mereka mempunyai dampak langsung terhadap kejadian dalam hidupnya. Konsep kematian terbatas bagi anak kecil pra sekolah dan kematian mungkin dipandang sementara atau reversibel. Sakit atau perpisahan dari orang tua dapat dianggap sebagai hukuman karena pikiran atau perbuatan buruk; perasaan bersalah dan tanggung jawab atas terjadinya sakit/kematian dapat muncul. Anak dapat mundur secara perilaku dalam upaya untuk merasa aman. Untuk mendukung maka perlu meyakinkan anak bahwa mereka tidak dihukum; beri penjelasan yang jujur dan jelas tentang penyakit dan pengobatannya. Minimalkan perpisahan dari orang tua dan buat perubahan seminimal mungkin. Menyediakan pembuangan/pelampiasan bagi impuls dan emosi normal anak serta juga lingkungan yang mendorong rasa ingin tau. Berikan kelegaan dan kenyamanan fisik.

Masa kanak-kanak menengah (6-9 tahun)

Sahabat adalah penting pada usia ini, namun demikian, anak kembali kepada rasa aman di rumah dan keluarga untuk kenyamanan. Anak mempunyai kemampuan belajar dan menguasai; aktivitas konstan adalah normal. Rasa kemandirian, percaya-diri dan kepribadian mulai muncul. Setiap tindakan dianggap mempunyai penghargsan atau hukuman. Perawatan rumah sakit atau penyakit dapat dilihat sebagai hukuman akibat kesalahan masa lampau. Rasa diri (sense of self) yang sedang berkembang pada anak dapat dipengarahi penyakit tersebut dan mengakibatkan rasa marah dan bingung. Orang tua dapat dituntut bertanggung jawab atas penyakitoya Anak harus diberikan penjelasan yang rinci dan jujur dengan komunikasi yang terbuka tentang penyakitnya. Berikan anak kesempatan menggunakan ketrampilan dan kemampuan sisa sehingga mereka dapat merasakan suatu keberhasilan, pencapaian dan penguasasn serta kendali. Interaksi dengan teman harus dipertahankan dan perpisahan dari orang tua harus diminimalkan. Sedapat mungkin biarkan anak terlibat dalam perencanean atau pelaksanaan prosedur pengobatan. Berikan kelegaan dan kenyamanan fisik maksimal.

Masa kanak-kanak lanjut (usia 10-12 tahun)

Melalui sosialisasi dengan teman dan awitan pubertas maka anak mulai membentuk jati diri percaya diri dan identitas diri. Teman adalah kritis dan privacy sangat penting. Remaja mulai menggabungkan informasi untuk memecahkan masalah dan ingin kemandirian dari orang tuanya. Anak usia ini mempunyai pandangan realistik tentang kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari (inevitable), tidak dapat kembali (irreversible) dan universal. Mereka mengerti bahwa kehidupan biologis berakhir dengan kematian. Ketika sakit terminal, remaja muda akan berjuang antara kebutahan perkembangan untuk mulai berpisah dari orang tua dengan kecenderungan alami untuk mundur akibat penyakit. Kelompok peer dapat merasakan kemandiriannya sendiri terancam dan dapat menarik diri, meninggalkan perasaan remaja terasing dari orang tua dan ditolak oleh teman kelompok (peer). Remaja muda perlu diikutsertakan dalam proses membuat keputusan dan diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan staf medik. Mereka perlu diizinkan atau didorong untuk membagi perasaan dan bertanya sehingga mereka merasakan cara untuk mengendalikan situasi. Remaja diperlakukan dengan rasa hormat dan bangga, disediakan komunikasi yang jelas, jujur dan langsung. Dorongan untuk asosiasi dengan teman dan berikan anak sebanyak mungkin kendali dan kemandirian. Berikan privacy dan kenyamanan serta kelegaan fisik maksimal.

Remaja (usia 13-18 tahun)

Perkembangan jati diri, percaya diri dan identitas diri berlanjut; dan sebagai tambahan mulai dibentuk identitas seksual. Anak muda usia ini mencari untuk menetapkan kemandirian emosional dan ekonomi dari orang tua. Terjadi pandangan dewasa tentang kematian, namun demikian, remaja sering menganggap mereka imortal (tidak bisa mati). Remaja dengan sakit terminal cemas tidak mampu memikat lawan jenisnya dan kelompok teman/peer akan menolak mereka. Remaja akan lebih mementingkan efek samping fisik pengobatan daripada kematian. Mereka merasa cemas bahwa kemandiriannya dari orang tua akan dihambat. Sewaktu penyakit memberikan efek terhadap tubuhnya mereka merasakan kehilangan kendali. Remaja harus diperlakukan dengan rasa hormat, menyediakan komunikasi yang jelas, jujur dan langsung. Berikan privacy, dan carikan cara untuk mengenali dan mendukung identitas unik remaja tersebut Menawarkan kesempatan mengekspresikan emosi dan mendorong asosiasi dengan teman sangatpenting. Berikan kendali dan kemandirian sebany~ak mungkin dan mengenali serta membicarakan masalah seksualitas. Berikan kelegaan fisik dan kenyamanan maksimal.

Tatalaksana masalah

Langkah paling penting dalam tatalaksana gejala penyakit terminal pada anak adalah secara menyeluruh menilai masalah yang muncul. Informasi tentang awitan gejala, beratnya dan efeknya terhadap kualitas hidup harus didapatkan dari anak orangtuanya. Selain untuk nyeri, masih kurang atau tidak ada alat ukur untuk gejala yang dialami anak dengan penyakit terminal. Dokter harus mempertimbangkan penyebab yang paling mungkin menyebabkan gejala dan menentukan intervensi yang tepat. Misalnya, nyeri dengan buang air kecil mungkin berhubungan dengan infeksi saluran kemih yang dapat diobati dengan antibiotika Kesulitan napas dengan aktivitas mungkin berhubungan dengan penyakit progresi£ Dukungan oksigen modifikasi aktivitas sehari-hari untuk menghemat energi dapat mengurangi gejala tersebut, akan tetapi, tidak akan mengeliminasi penyebab utama. Perbedaan ini penting dalam membantu keluarga mengerti hasil yang diharapkan dari pengobatan yang disarankan sehubungan dengan kondisi umum anaknya. Tatalaksana medik dan non-farmakologik dipadu untuk mengoptimalkan terapi. Cara pemberian obat pada anak harus diperhatikan; pada umumnya cara yang paling tidak invasif harus digunakan untuk tatalaksana nyeri dan gejala lain. Pandangan keluarga tentang kualitas hidup, nilai-nilai agama dan kultural serta tingkat penerimaan terhadap proses terminal akan membentuk jenis intervensi yang akan diberikan untak mengatasi gejala.

Tatalaksana Masalah Nyeri yang kompleks

Majoritas anak dengan nyeri kanker dapat mengalami bebas nyeri total dengan menggunakan obat-obatan. Akan tetapi, sejumlah kecil anak, terutama mereka dengan metastasis tulang dan/atau keterlibatan saraf, mungkin memerlukan teknik penatalaksanaan nyeri yang lebih invasi£ Anak-anak dengan masalah nyeri yang kompleks memerlukan pengenalan lengkap patogenesis nyeri serta konsultasi dengan berbagai pelayanan khusus yang berpengalaman dalam penatalaksanasn nyeri pada anak Sangat diperlukan komunikasi yang jelas dengan anak dan keluarga tentang tujuan /goal suatu intervensi potensial apapun. Apabila mempertimbangkan terapi invasif untak mengendalikan nyeri maka risiko dan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan prosedur tersebut harus dibandingkan dengan kemungkinan bebas nyeri yang akan dicapai bagi si anak.

Intervensi nonformakologik untuk nyeri

Intervensi nonfarmakologik dalam tatalaksana nyeri untuk beberapa prosedur telah dibuktikan sangat efektif untok beberapa anak. Beberapa prosedur tersebut mudah diterapkan, antara lain distraksi, relaksasi otot dan imaginasi terpimpin (guided imaginery) Terapi yang membutuhkan pelatihan khusus termasuk therapeutic touch dan accupressure.

Relaksasi otot.

Relaksasi otot digunakan untuk menurunkan ketegangan mental dan fisik; digunakan paling efektif pada anak lebih tua dan remaja karena melibatkan relaksasi otot rangka volunter. Perlahan-lahan setiap otot ditegangkan kemudian direlaksasikan dalam cara yang sistematik. Perhatian dipusatkan pada pernapasan yang menyebabkan individu sadar akan perasaan ketegangan dan relaksasi. Setelah pernapasan dapat dikendalikan maka perhatian dipusatkan pada otot-otot untuk mencapai relaksasi progresif. Teknik ini bermanfast sebelum suatu prosedur yang menimbulkan kecemasan. Kesada~an akan ketegangan menimbulkan keadaan relaksasi lebih baik, sehingga prosedur dapat dilakukan lebih mudah. Latihan relaksasi otot dapat diberikan pada kebanyakan anak di atas 5 tahun.

Distraksi

Distraksi digunakan untak memusatkan perhatian anak menjauhi rasa nyeri. Teknik distraksi pada anak dapat sangat efektif dalam mengurangi nyeri. Teknik distraksi yang paling disukai adalah melihat gambar di buku, meniup gelembung (blowing bubbles) dan menghitung. Sentuhan dapat menjadi teknik distraksi yang baik melalui usapan, tepukan dan mengayun bayi dan juga anak yang sedang dalam distres. Pernapasan dalam adalah teknik yang termudah digunakan pada anak kocil. Anak diinstruksikan mengambil napas dalam melalui hidung dan meniup keluar melalui mulut. Sambil menghitung respirasi anak, perhatian dapat dipusatkan pada pernapasannya. Bagi anak usia sekolah, dengan meminta mereka menahan napas sewaktu prosedur yang menyakitkan akan memindahkan perhatian mereka pada pemapasannya dan bukan pada prosedurnya. Meminta anak “meniup keluar nyeri” telah didiskusikan sebagai alat distraksi yang efektif (French, Painter and Coury, 1994). Orangtua harus diajarkan teknik distraksi dan didorong untuk mempertahankan anak mereka agar nyaman selama mungkin. Melatih orangtua memberi mereka jalan untuk berpartisipasi dalam nyeri anaknya, serta juga memberi manfaat dalam mengurangi kecemasan dan ansietas orangtua.

Imaginasi terpandu (guided imagery)

Imaginasi terpandu membuat anak sibuk memusatkan perhatiannya pada suatu aktivitas yang menyenangkan, memberi distraksi dari nyeri atau merubah persepsi pengalaman yang sakit. Imaginasi terpimpin digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk membayangkan berada pada situasi yang lebih menyenangkan. Penggunaan imaginasi yang efektif melibatkan semua indera si anak. Ketika membayangkan suatu tempat yang favorit, anak diminta merasakan kehangatan sekitar, melihat semua warnawarni, mencium bau enak dan mendengar suara-suara. Hal ini membantu anak menciptakan suatu skenario yang jelas dalam pikirannya. Penting untuk menekankan bahwa setiap anak memerlukan suatu tempat tujuan favorit yang aman. Tempat yang aman tersebut dapat menjadi pelarian. Seringkali anak ingin membayangkan sedang menonton acara Televisi atau film favorit. Anak dapat dilibatkan dalam jenis imaginasi ini dengan meminta mereka mendiskusikan apa yang sedang terjadi di acara televisi tersebut, seperti misalnya cerita kartun; kadang-kadang membayangkan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam cerita yang sedang dibayangkan.

Skenario Imaginasi favorit (Favorite Imagery Scenes) untuk anak

Imaginasi Visual; Tempat-tempat favorit; Binatang-binatang; Kebun bunga; TV (Televisi) atau film; Kamar Favorit; Olahraga Favorit

Imaginasi Auditory

Percakapan dengan orang lain yang penting; Lagu Favorit; Memainkan instrumen musik; Mendengarkan musik; Suara lingkungan (ombak, etc.)

Imaginasi Gerakan

Terbang; Berenang; Skating; Amusement rides; Aktivitas apa saja

Ketakutan

  1. Rasa takut akan kesulitan bemapas adalah efek samping yang serius dan terkenal dari opioid, akan tetapi jarang terjadi pada anak. Beberapa penelitian telah menunjukkan penggunaan opioid yang efektif dan aman pada anak tanpa peningkatan risiko depresi pernapasan
  2. Rasa takut akan kecanduan. Pasien dan keluarga mungkin mempunyai konsep yang keliru tentang kecanduan yang dapat menyebabkan keengganan melaporkan nyeri atau memakai obat yang diberikan.
  3. Rasa takut bahwa nyeri adalah tanda memburukuya penyakit.
  4. Rasa takut bahwa penggunaan morfin berarti anak telah dekat dengan kematian.

 

source: Angela B M.Tulaar

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “ANAK DENGAN KANKER”

  1. Comments are closed.
Jun
11
2012