Forsep | HealthyEnthusiast

You are here: » Forsep

Forsep

Forsep
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Ekstraksi forsep adalah tindakan obstetric yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan cara menarik bagian terbawah janin (kepala) dengan alat forsep, tindakan ini dilakukan karena ibu tidak dapat mengejan secara efektif untuk melahirkan janin. Walaupun sebagian besar proses pengeluaran dihasilkan dari ekstraksi forsep tapi bukan berarti kekuatan menjadi tumpuan kebersihan.

Ketrampilan dan seni sangat sangat menentukan hasil atau pengeluaran dari prosedur ini. Tarikan pada kepala bayi dilakukan dengan mencengkram kedua sisi lateral kepala (dengan memperhatikan dominator) sehingga tidak banyak menimbulkan trauma pada janin. Pemasangan forsep disesuaikan dengan tingkat penurunan dan  diameter jalan lahir, agar pemasangan dan ekstraksi tidak menimbulkan trauma hebat pada ibu, (Prawirohardjo, 2002 :501)

Jenis forsep :

Forsep yang paling sering digunakan dalam praktek antara lain:

  1. forsep naegale
  2. forsep kjelland
  3. forsep pipper (sering digunakan untuk menarik kepala yang sulit lahir pada letak sungsang)
  4. forsep boerma
  5. forsep taerneer
  6. forsep simpson

Perbedaan dan persamaan forsep naegalle dan kjelland

 No. Forsep naegale Forsep kjelland
1

 

 

2

 

 

 

 

 

 

3..

 

 

 

 

 

4.

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

6. .

 

7.

 

 

8.

 

 

 

9.

 

 

10.

Dapat dipasang biparietal atau miring terhadap kepala

 

  • kunci forsep hampir selalu menghadap uuk, kecuali bila uuk terletak disebelah belakang.
  • Tangkai forsep menghadap ketungaki atas ibu yang sesuai dengan tempat letak uuk.

 

Bila kepala berada pada:

  • H IV: forsep hanya mesuk sampai pangkal sendok forsep saja
  • H III : sendok forsep masuk sampai kunci forsep berada dalam vulva

 

Bila kepala berada:

  • H IV : tangkai forsep 30° dengan bidang horizontal
  • H III : tangkai forsep terletak dibidang horizontal
  • H III :tangkai forsep 30° dibawah bidang horizontal

 

Sendok forsep kiri terletak disebelah kiri jalan lahir, sendok forsep kanan terletak di sebelah kanan jalan lahir.

 

Kunci forsep dapat digese-geser (kunci mati).

Lebih cocok untuk forsep rendah (oleh karena adanya lengkung panggul)

 

Letak sendok forsep terhadap:

  • Kepala: bias miring atau biparietal
  • Panggul: bias miring atau melintang

 

Memasang forsep selalu harus forsep kiri yang dimasukkan labih dahulu.

 

Mempunyai lengkung kepala dan lengkung panggul

Selalu harus dipasang biparietal terhadap kepala

 

  • Serupa/sama

 

 

  • Tangkai sejajar dengan garis meridian

 

 

 

 

  • Serupa/ sama

 

  • Serupa/ sama

 

 

 

  • H IV : tangkai forsep terletak di bidang horizontal
  • H III : tangkai forsep 30° dibawah bidang horisintal
  • H III : tangkai forsep menghadap ke lantai

 

  • Pada prinsipnya serupa, tetapi sendok forsep dapat terletak sembarang bagian jalan lahir.

 

  • Kunci forsep dapat digeser-geser.

 

  • Lebih cocok untuk forsep tinggi

 

 

Letak sendok forsep terhadap:

  • Kepala:selalu harus biparietal
  • Panggul: bias dalam semua kedudukan

 

 

 

  • Hanya mempunyai lengkung kepala dan tidak punya lengkung panggul.

 

Tujuan dan kegunaan:

  • Traksi

Yaitu menarik anak yang tidak bisa lahir secara spontan yang disebabkan oleh karena satu hal dan lainnya.

  • Koreksi

Yaitu merubah letak kepal bila uuk terletak di kiri atau di kanan depan atau pada keadaan tertentu dimana uuk melintang kiri dan kanan.

  • Komprisi

Untuk menambah maulage kepala.

 

B.   TEKNIK PEMASANGAN

Aplikasi atau cara kerja forsep adalah sebagai berikut:

  1. Operator membayangkan pemasangan daun forsep melintang terhadap kepal bayi dan melintang terhadap jalan lahir.
  2. daun forsep kiri di pasang  du sebelah kiri penderita dan di pegang oleh tangan kiri.
  3. Pemasangan daun fprsep kanan dengan tangan kanan dan di pasang di sebelah kanan pasien.

  1. Teknik pemasangan daun forsep sebagai berikut:
  • Dua jari tangan kanan masuk vagina sedalam mungkin
  • Forsep dipegang tangan kiri seolah-olah memegang pensil, dengan gagang forsep berada diatas lipatan paha.
  • Daun forsep di pasang sengan tuntunan dua jari tangan kanan
  • Dua forsep didorong perlahan sampai lengkungan forsep berada di tulang parietalis
  • Etelah terpasang gagang forsep di jepit diantara jari manis dan kelingking tangan kiri
  • Dua jari tangan kiri dimasukkan ke dalam vagina. Forsep kanan dipegang sama seperti forsep kiri, dimasukkan dengan tuntutan dua jari tangan kiri.
  • Setelah dua daun forsep di masukkan sesuai dengan posisinya lalu forsep di kunci
  • Setelah terkunci lakukan evaluasi guna mencari apakan tidak ada bagian tubuh ibu (cervik)yang terjepitantara kepala janin dan daun forsep
  • Dilakukan tarikan percobaan dengan dengan ringan serta jari menyentuh kepal bayi
  • Tarikan percobaan berhasil, di lakukan tarikan definitive dengan melakukan tarikan curamke bwah sehingga hipomoklion berada di bawah simfisi
  • Lakukan tarikan keatas untuk melahirkan ubun-ubun besar, hidung, muka, dagu, dan kepala bayi seluruhnya
  • Setelah kepal lahir daun forsep dikeluarkan
  • Kepala di berikan kesempatan untuk melakukan putar paksi luar
  • Kepal bayi ditarik curam kebawah dan keatas untuk melahirkan bahu depan dan bahu belakang
  • Setelah kedua bahu lahir  ketiak ditarik untuk mengeluarkan badan bayi
  • Lender pada jalan nafas di bersihkan
  • Setelah bayi menangis tali pusat di potong dan bayi diserahkan untuk dirawat sebagaimana mestinya

C.   INDIKASI

Indikasi tindkan ekstraksi forsep perlu memperhitungkan petunjuk (indikasi) yang tepat sehingga komplikasinya dapat diminimalkan. Indikasi  pertolongan ekstraksi forsep adalah:

  1. Persalinan distosia (kemacetan persalinan)
  • persalinan terlantar
  • rupture uteri intermitten
  • kala dua lama
  1. Prioritas penyakit sistemik ibu
  • geostasis
  • penyakit jantung
  • penyakit paru-paru
  1. Indikasi bayi
  • distress janin
  • kedudukan ganda kepala dengan
  • anggota badan (ekstremitas)
  • prolapsus frinikuli: keadaan dimana tali pusat berada di samping    melawati bagian terandah janin pada jalan lahir setelah ketuban pecah.
  1. Indikasi waktu
  • indikasi prinard: setelah mengejan 2 jam tidak lahir
  • modifikasi pemels:setelah kepala didasar panggul di berikan 5 unit oksitosin, tunggu 1 jam jika tidak lahir lakukan ekstraksi forsep

D.   KONTRA INDIKASI

  • Janin sudah lama mati sehingga kepal tidak bulat dan keras lagi sehingga menyebabkan kepal sulit dipegang dengan forsep
  • Anensefalus(tak ada otak )
  • Adanya disproporsi sefalo pelvic
  • Kepala masih tinggi, ukuran terbesar kepala belum melewati PAP
  • Pembukaan belum lengkap
  • Pasien bekas operasi vesiko(vaginal vistel)
  • Jika lingkaran kontraksi patologik dan sidah hampir setinggi pusat atau lebih

E.   KOMPLIKASI ATAU PENYULIT EKSTRAKSI FORSEP

Komplikasi atau penyulit ekstrasi forsep dibagi menjadi:

A.    Komplikasi langsung akibat aplikasi forsep dibagi menjadi:

    1. Komplikasi ibu: ” Trias Komplikasi Ibu”
      1. Perdarahan terjadi karena:

-          Atonia uteri.

-          Retensio plasenta.

-          Trauma jalan lahir: Ruptura uteri, ruptura serviks, robekan formiks – kolpoforeksis, robekan vagina, hematoma luas, robekan perineum.

  1. Infeksi terjadi karena:

-          Sudah terdapat sebelumnya.

-          Aplikasi alat menimbulkan infeksi.

-          Plasenta rest atau membran bersifat benda asing, yang dapat memudahkan infeksi dan menyebabkan subinvolusi uteri.

-          Saat melakukan pemeriksaan dalam.

  1. Robekan jalan lahir:

-          Ruptura uteri.

-          Ruptura serviks.

-          Robekan forniks – kolpoforeksis.

-          Robekan peritoneum.

-          Simfisiolisis.

  1. Komplikasi segera pada bayi: ”Trias Komplikasi Bayi”
    1. Asfiksia.

-          Terlalu lama didasar panggul, terjadi rangsangan pernapasan menyebabkan aspirasi lendir dan air ketuban.

-          Jepitan langsung forsep yang menimbulkan perdarahan intrakranial, edema intarakranial, kerusakan pusat vital di medula oblongata, trauma langsung jaringan otot.

  1. Infeksi oleh karena infeksi pada ibu menjalar ke bayi.
  2. Trauma langsung forsep.

-          Trauma tulang kepala.

-          Dislokasi sutura tulang kepala: kerusakan pusat vital di medula oblongata; trauma langsung pada mata, telinga dan hidung; trauma langsung pada persendian tulang leher; gangguan fleksus brakialis/poralis erb.

-          Kerusakan saraf trigeminus dan fasialis.

-          Hematoma pada daerah tertekan.

 B.     Komplikasi kemudian atau terlambat

    1. Komplikasi terlambat untuk ibu:
      1. Perdarahan.

-          Plasenta rest.

-          Atonia uteri sekunder.

-          Jahitan robekan jalan lahir yang terlepas.

  1. Infeksi.

-          Penyebaran infeksi makin meluas.

  1. Trauma jalan lahir.

-          Terjadi fistula vesiko – vaginal.

-          Terjadi fistula rekto – vaginal.

-          Terjadi fistula utero – vaginal.

  1. Komplikasi terlambat pada bayi:
    1. Trauma ekstrasi forsep.

-          Cacat karena aplikasi forsep.

  1. Infeksi.

-          Infeksi yang berkembang menjadi sepsis dan dapat menyebabkan kematian.

-          Ensafilitis sampai meningitis.

  1. Gangguan susunan saraf pusat

-          Trauma langsung pada susunan saraf pusat dapat menimbulkan gangguan intelektual.

-          Gangguan pendengaran dan keseimbangan.

(Manuaba, 1998 : 350)

 

F.    SYARAT-SYARAT EKSTRASI FORSEP

    1. Besar dan konsistensi kepala dalam batas normal.
    2. Pembukaan lengkap atau hampir lengkap.
    3. Ketuban sudah pecah atau dipecahkan.
    4. Kedudukan dan posisi kepala diketahui dengan pasti.
    5. Tidak terdapat disproporsi kepala panggul sehingga mungkin lahir pervaginam.

Dengan memenuhi syarat tersebut diharapkan dapat mengurangi komplikasi (penyulit) tindakan ekstrasi forsep.

Prinsip dilakukan Forsep adalah:

  1. Kedua daun forsep dapat dipishkan, kanan dan kiri.
  2. Terjadi persilangan saat mengunci.
  3. Setiap daun forsep mempunyai:
  • Blade – pemegang kepala dan pintunya.
  • Tangkai.
  • Kunci.
  • Pemegang untuk melakukan tarikan.
  • Lengkungan kepala untuk menjepit kepala.
  • Lengkungan pelvis sesuai dengan jalan lahir.
  • Sistem inggris, tanpa penyangga, dapat bergeser.
  • Sistem prancis, dengan penyangga, tidak mudah bergeser.
  1. Daun forsep mempunyai:
  1. Bentuk kuncinya:

(Manuaba, 1998; 347 – 349)

Tindakan pertolongan persalinan forsep.

Bentuk persalinan forsep dapat dibagi menjadi:

  1. Forsep rendah
  • Dilakukan setelah kepala bayi mencapai Hodge III / lebih.
  • Kepala bayi mendorong perineum, forsep dilakukan dengan ringan disebutkan outlet forsep.
  • Pada kedudukan kepala antara Hodge II / III.
  • Salah satu bentuk forsep tengah adalah forsep percobaan untuk membuktikan diabsorpsi panggul dan kepala. Bila aplikasi dan tarikan forsep berat membuktikan terdapat disporsi kepala – panggul, forsep dapat diganti dengan ekstrasi vakum.
  • Dilakukan pada kedudukan kepala diantara Hodge I / II.
  • Forsep tinggi sudah diganti dengan seksio sesarea.
  1. Forsep tengah
  1. Forsep tinggi

 

G.  ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

Pada tiap-tiap passien yang akan ditolong, terlebih dahulu harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan umum:

  1. Anamnesa – palpasi – tensi / nadi / suhu badan.
  2. Inspeksi – auskultasi – KU / KE, anemia.
  3. Perkusi – status plasenta – dan lian-lian.

Anamnesa

Tanyakanlah nama, umur alamat CP AB, dll.

-          Bagaimana sejarah persalinan yang lalu.

-          Kapan keluar tanda-tanda (show), mulai sakit; apakah ada didorong-dorong / diperiksa dalam, dll sebelum sampai di RS.

-          Kapan menarche, haid terakhir, dimana melakukan prenatal care?

-          Sudah berapa jam mengejan, dll.

Inspeksi

-          Perhatikan keadaan peru pasien (TFU, dll)

-          Apakah terlihat ada lingkaran kontraksi patologik Bandl?

-          Apakah ada tanda-tanda Osborn, apakah kandung kemih penuh?

Perkusi

-          berapa tinggi fundus uteri

-          apakah ada lingkaran patologi bandl

-          apakah ada nyeri tekan

-          tentukan bagian-bagian janin, jika tidak ada kepala pastikan apakah sudah masuk PAP

-          apakah kandung kemih penuh

Auskultasi

-          Apakah Masih Terdengar DJJ kalau masih terdengar berapa frekkuensinya dan teratur atau tidak

Pemeriksaan dalam

-          Apa yang menjadi bagian terbawah janin

-          Jika letak kepala tentukan berapa jauh turunya, posisi, letak ubun-ubun kecil, apakah sudah ada kaput atau tidak

-          Apakah disamping kepala ada bagian-bagian janin yang lain(tangan, tali pusat, kaki)

-          Berapa pembukaanya

-          Bagaimana keadaan servik uteri(masih tebal, sudah menipis dan lembek, atau tidak teraba lagi)

-          Apakah ada keluhan darah atau mekonium dari vagina sewaktu periksa dalam

-          kalau kepala belum jauh turunya, misalnya baru sampai H-II atauH-III lakukan penilaian tentang keadaan panggil antara lain:

  • ukuran dalam panggul
  • keadaan spina ischiadika kiri dsn kanan
  • keadaan sakrum
  • keadaan oskogsigis
  • keadaan panggul/sakrum

-          Apakah ada tumor/varises dalam vagina

Persiapan sebelum melakukan tindakan ekstraaksi forsep:

  1. Persiapan penolong (dokter/bidan)

Dokter/bidan/asisten harus dalam keadaan suci hama. cuci tangan secara fushbringer, pakai masker, sarung tangan, baju operasi dll.

  1. Persiapan pasien

Pasien di tidurkan pada dwarsbed dengan rambut disekitar vulva yang yang telah dicukur. kemudian daerah operasi segera disuci hamakan, kandung kemih dan rectum bisa di kosongkan. sekitar daerah operasi ditutup dengan kain steril.

  1. persiapan alat dan obat-obatan

Sediakan alat-alat yang diperlukan: forsep, gunting siebold, pinset anatomis dan sirugis, klem-klem kocher, jarum, hecting, alat resusitasi, dll.

obat-obat yang disediaka antara lain narkosa, kloretil, atau obat-obat yang diperlukan untuk anestesi pudendal atau untuk anestesi lumbal, uterotonika, alat untuk resusitasi, dll

Intervensi Keperawatan

no.

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasional

1.

Perubahan perfusi jaringan b.d syok hipovolemia Tujuan:

menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat

Kriteria hasil:

  1. DJJ 120-160 kali permenit
  2. Tidak menunjukkan wajah pucat dan tidak ada keluhan pusing
  3. TTV normal
  4. Kapiler refill kurang dari 3 menit
  5. Volume perfusi / sirkulasi adekuat dengan keluaran urine 30-50 ml/jam atau lebih besar
  6. Hb 11-14%mg
Mandiri

  1. Perhatikan status fisiologis ibu, sirkulasi dan volume darah (lebih 500 cc).
  2. Auskultasi dan laporkan DJJ, catat bradikardi atau takikardi, catat perubahan pada aktivitas janin (hipoaktivitas atau hiperaktivitas).

 

 

 

  1. Catat kehilangan darah ibu, serta kemungkinan adanya kontraksi uterus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri.

 

Kolaborasi

  1. Berikan inhalasi O2 pada klien.
  2. Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan.
 

 

  1. Mengkaji: berlanjutnya hipoksia janin pada awalnya, janin berespon pada penurunan kadar O2 dengan takikardi dan peningkatan gerakan. Bila tetap defisit, bradikardi dan penurunan aktivitas terjadi.
  2. Bila kontraksi uterus disertai dilatasi serviks, tirah baring dan medikasi mungkin tidak efektif dalam mempertahankan kehamilan, menghilangkan tekanan pada vena kava inerior dan meningkatkan sirkulasi plasenta/ janin dan pertukaran O2.
  3. Meningkatkan ketersediaan O2 untuk ambilan janin.

2.

Resti gangguan kerusakan integritas kulit/ jaringan b.d pemakaian forsep. Tujuan: Menunjukkan perbaikan  integritas kulit.

Kriteria hasil:

  1. Bebas dari laserasi yang dapat dicegah.
  2. Otot-otot perienal rileks selama upaya mengejan.
  3. Bantu klien/ pasangan dengan posisi tepat, pernapasan dan upaya untuk rileks. Yakinkan klien tersebut merilekskan dasar perineal sambil menggunakan otot abdomen dalam mendorong.
 

 

 

 

 

 

 

  1. Tempatkan klien pada posisi simlateral kiri untuk melahirkan, bila nyaman.

 

 

 

  1. Bantu sesuai kebutuhan dengan manuver tangan; berikan tekanan pada dagu janin melalui perineum ibu saat tekanan pengeluaran  pada oksiput dengan tangan lain (Manuver ritgen yang dimodifikasi).
  2. Bantu dengan episiotomi garis tengah atau mediolateral, bila perlu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bantu dengan penggunaan forsef pada kepala janin, bila perlu catat forsep yang digunakan.
    1. Membantu meningkatkan peregangan bertahap dari perineal dan jaringan vagina. Bila jari maternal  dalam jalan lahir atau perineum menahan peregangan bertahap saat bagian presentasi dari janin turun, trauma atau laserasi serviks, vagina, perineum uretra dan klitoris dapat terjadi.
    2. Menurunkan tegangan perineal meningkatkan kekuatan gravitasi menurunkan perlunya episiotomi.
    3. Memungkinkan melahirkan lambat saat kepala bayi telah distensi di perineum 5 cm; menurunkan trauma pada jaringan ibu.
 

 

 

 

 

  1. Meskipun kontroversial, episiotomi dapat mencegah robekan perineum pada kasus bayi besar; persalinan cepat dan ketidakcukupan relaksasi perineal. ini dapat memperpendek persalinan tahap I khususnya bila forsep digunakan.
  2. Trauma jaringan ibu meningkat karena penggunaan forsef, yang dapat mengakibatkan kemungkinan laserasi atau ekstensi episiotomi.

3.

Resti terjadinya infeksi b.d invasif dan persalinan lama. Tujuan:

Infeksi dapat dikontrol dan dicegah.

Kriteria hasil:

Klien dapat bebas dari infeksi.

  1. Lakukan perawatan perianal setiap 4 jam (lebih sering bila ketuban telah pecah untuk waktu yang lama) dengan menggunakan asepsis medis.
  2. Pantau suhu, nadi dan SDP sesuai indikasi.

 

 

  1. Berikan antibiotik sesuai indikasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Berikan kondisi aseptik untuk kelahiran.

 

 

  1. Genakan asepsis bedah pada persiapan peralatan.
    1. Membantu meningkatkan kebersihan mencegah terjadinya infeksi uteri asenden dan kemungkinan sepsis.
 

  1. Peningkatan suhu atau nadi >100 dpm dapat menandakan infeksi.
  2. Digunakan hanya kadang-kadang. Antibiotik provilaktif masih kontroversial dan harus digunakan dengan kewaspadaan karena ini dapat merangsang pertumbuhan berlebih dari organisme resisten.
  3. Membantu mencegah infeksi post partum dan endometritis.
  4. Menurunkan resiko kontaminasi.

4.

Resti kerusakan pertukaran gas pada janin b.d kompresi mekanis kepala dan persalinan yang lama. Tujuan: Janin tidak mengalami kerusakan pertukaran gas.

Kriteria hasil:

  1. Mempertahankan kontrol pola pernapasan.
  2. Menggunakan posisi yang meningkatkan aliran balik vena/ sirkulasi plasenta.
    1. Kaji station janin presentasi dan posisi posterior oksiput, tempatkan klien menyimpang.
 

 

 

  1. Posisikan klien pada rekumben lateral atau posisi tegek atau miring dari sisi ke sisi sesuai indikasi.

 

 

 

  1. Hindari menempatkan klien pada posisi dorsal rekumben.

 

 

  1. Kaji pola pernapasan. Perhatikan laporan sensasi kesemutan dari wajah atau tangan, pusing atau spasme kardopedal.
  2. Biarkan klien bernapas kedalam kedua telapak tangan yang ditangkupkan di depan hidung dan mulut atau ke dalam kantong kertas kecil sesuai indikasi.
  3. Selama persalinan tahap II, janin paling rentan pada bradikardi dan hipoksia yang dihubungkan dengan stimulasi negal selama kompresi kepala.
  4. Meningkatkan perfusi plasenta mencegah sindrom hipotensif suprime dan memindahkan tekenen dari bagian presentasi dari tali pusat.
  5. Menimbulkan hipoksia dan amidosis, janin menurunkan dasar varibilitas dan sirkulasi plasenta.
  6. Mengidentifikasi pola pernapasan tidak efektif.
 

 

 

 

 

 

  1. Meningkatkan CO2 dan memperbaiki alkalosis respiratori yang disebabkan oleh hiperventilasi.

DAFTAR PUSTAKA

 Doenges, Marilyn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal / Bayi. Pedoman Untuk perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. EGC. Jakarta.

Hanifa, Wiknjosastro. 2002. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo. Jakarta.

Manuaba, Ida bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. ECG. Jakarta.

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. EGC. Jakarta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buklu Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Forsep”

  1. Comments are closed.
Apr
24
2012