Fraktur Tibia | HealthyEnthusiast

You are here: » Fraktur Tibia

Fraktur Tibia

Fraktur Tibia
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

 

  1. Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner and Suddarth).

Macam-macam fraktur:

  1. Fraktur komplit yaitu garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang, dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
  2. Fraktur incomplete yaitu fraktur yang melibatkan bagian potongan menyilang tulang. Salah satu sis patah, yang lain, biasanya bengkak (Green stick).
  3. Fraktur tertutup yaitu fraktur tidak meluas melewati kulit.
  4. Fraktur terbuka (compound) yaitu fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi.
  5. Fraktur tranversal yaitu fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.

-          Fraktur oblik (miring) yaitu fraktur yang arahnya membentuk sudut melintasi tulang yang bersangkutan biasanya tidak stabil dan sulit diatasi.

-          Fraktur spiral diakibatkan terpilihnya ekstremitas fraktur.

-          Fraktur comminuted fracture yaitu tulang terpisah menjadi bagian-bagian kecil.

  1. Fraktur patalogic yaitu fraktur terjadi karena adanya penyakit tulang (seperti kanker, osteoporosis) dengan tak ada trauma atau hanya minimal.

 

Proses Penyembuhan Tulang

  1. Hematoma terjadi setelah fraktur dan bahkan bisa terjadi perdarahan. Fungsi dari hematom tersebut untuk melindungi lokasi fraktur.
  2. Proliferasi sel terjadi setelah injury sel-sel dan kapiler, baru secara bertahap mengganti lokasi hematoma dan terjadi profilerasi fibrolast.
  3. Pembentukan kalus terjadi 6-10 hari setelah injury dan terbentuk jaringan granulasi.
  4. Pergeseran kalus terjadi pembentulan tulang melalui deposit calsium.
  5. Pemadatan dan pembentukan tulang dimana terbentuk model tulang yang utuh.

 

  1. Anatomi dan Fisiologi

Tulang tibia merupakan tulang besar dan utama pada tungkai bawah. Ia mempunyai kondilus besar tempat berartikulasi. Pada sisi depan tulang hanya terbungkus kulit dan periosteum yang sangat nyeri jika terbentur. Pada pangkal proksimal berartikulasi dengan tulang femur pada sendi lutut. Bagian distal berbentuk agak pipih untuk berartikulasi dengan tulang tarsal. Pada tepi lateral perlekatan dengan tulang fibula. Pada ujung medial terdapat mateulus medialis.

Tulang tibia merupakan tulang panjang dan kecil dengan kepala tumpul. Tulang fibula tidak berartikulasi dengan tulang femur (tidak ikut sendi lutut) pada ujung distalnya terdapat mateulus lateraris.

Pada daerah betis terdapat otot-otot seperti otot gastronemlus pada sisi belakang, otot soleus pada sisi, otot long dan short peroneal, otot tibia anterior, tendo achiles, dan lain-lain. Tulang tibia bersama-sama dengan otot-otot yang ada di sekitarnya berfungsi menyangga seluruh tubuh dari paha ke atas, mengatur pergerakan untuk menjaga keseimbangan tubuh pada saat berdiri dan beraktivitas lain. Disamping itu tulang tibia juga merupakan tempat deposit mineral (kalsium, fosfor) dan hematopoiesis.

 

  1. Etiologi

Penyebab paling umum fraktur tibia biasanya disebabkan oleh:

  1. Pukulan/benturan langsung.
  2. Jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi.
  3. Gerakan memutar mendadak.
  4. Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan atau penyakit primer seperti osteoporosis.

 

 

 

  1. Patofisiologi

-          Fraktur bawah lutut paling sering adalah fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan langsung, jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi, atau gerakan memuntir yang keras. Fraktur tibia dan fibula sering terjadi dalam kaitan satu sama lain. Pasien datang dengan nyeri deformitas, hematoma yang jelas, dan edema berat. Seringkali fraktur ini melibatkan kerusakan jaringan lunak berat karena jaringan subkutis di daerah ini sangat tipis.

-          Fungsi saraf peroneus dikaji untuk dipakai sebagai data dasar. Jika fungsi saraf terganggu, pasien tak akan mampu melakukan gerakan dorsofleksi ibu dari kaki dan mengalami gangguan sensasi pada sela jari pertama dan kedua. Kerusakan arteri tibialis dikaji dengan menguji respons pengisian kapiler. Gejalanya meliputi nyeri yang tak berkurang dengan obat dan bertambah bila melakukan fleksi plantar, tegang dan nyeri tekan otot di sebelah lateral krista tibia, dan parestesia. Fraktur dekat sendi dapat mengakibatkan komplikasi berupa hemartrosis dan keruskaan ligamen.

-          Kebanyakan fraktur tibia tertutup ditangani dengan reduksi tertutup dan imobilisasi awal dengan gips sepanjang tungkai. Reduksi harus relatif akurat dalam hal angulasi dan rotasinya. Ada saat dimana sangat sulit mempertahankan reduksi, sehingga perlu dan dipertahankan dalam posisinya dengan gips. Aktivitas akan mengurangi edema dan meningkatkan peredaran darah. Penyembuhan fraktur memerlukan waktu 6 sampai 10 minggu.

-          Fraktur terbuka atau komunitif dapat ditangani dengan traksi skelet, fiksasi interna dengan batang, plat, atau naik atau fiksasi eksterna. Latihan kaki dan lutut harus didorong dalam batas alat imobilisasi. Pembebanan berat badan dimulai sesuai resep, biasanya sekitar 4 sampai 6 minggu.

-          Seperti pada fraktur ekstremitas bawah, tungkai harus ditinggikan untuk mengontrol edema. Diperlukan evaluasi neurovaskuler berkesinambungan.

 Click here to download pathway

 

 

  1. Tanda dan Gejala
  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang dimobilisasikan.
  2. Krepitus yaitu saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.
  3. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
  4. Tak mampu menggerakkan kaki karena adanya perubahan bentuk/ posisi berlebihan bila dibandingkan dengan keadaan normal.

 

  1. Pemeriksaan Diagnostik
  1. Rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.
  2. Darah lengkap: menunjukan tingkat kehilangan darah (pemeriksaan Ht, Hb. Peningkatan sel darah putih sebagai respons normal terhadap respon stress setelah trauma.
  3. Masa pembekuan dan perdarahan

Persiapan pre operasi, biasanya normal jika tidak ada gangguan perdarahan.

  1. Pemeriksaan urine

Sebagai evaluasi fungsi ginjal.

  1. EKG: mendeteksi ada tidaknya kelainan pada jantung dan sebagai persiapan operasi.

 

  1. Therapi
  1. Gips untuk memberi immobilisasi, menyokong dan melindungi tulang selama proses penyembuhan, mencegah/memperbaiki deformitas.
  2. Traksi untuk mencapai aligment dengan memberi beban seminimal mungkin pada daerah distal.
  3. Prosedur operasi dengan oper reduction and internal fixation (ORIF). Dilakukan pembedahan dan dipasang fiksasi internal untuk mempertahankan posisi tulang (misalnya: skrup, plat, pin, kawat, paku). Alat ini bila dipasang di sisi maupun di dalam tulang, digunakan jenis yang sama antra plate dan sekrup untuk menghindari terjadinya reaksi kimia.
  4. Debridement dilakukan jika keadaan luka parah dan tidak beraturan untuk memperbaiki keadaan jaringan lunak di sekitar fraktur.

 

  1. Komplikasi
  1. Shock hipovolemik karena perdarahan (kehilangan daerah eksternal maupun yang tidak kelihatan).
  2. Emboli lemak pada saat fraktur lemak dapat masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler.
  3. Boneunion penyembuhan terlambat bila terdapat kerusakan jaringan yang luas yang dapat terjadi karena infeksi.
  4. Infeksi karena keadaan luka atau luka post pembedahan.
  5. Kompartemen karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat.

 

C.    Konsep Dasar Keperawatan

  1. Pengkajian
  1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan.

-          Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan yang memadai.

-          Adanya kegiatan yang berisiko cedera.

-          Adanya riwayat penyakit yang bisa menyebabkan jatuh.

  1. Pola nutrisi

-          Adanya gangguan nafsu makan karena nyeri.

  1. Pola eliminasi

- Obstipasi karena imobilitas.

  1. Pola aktivitas dan latihan

-          Ada riwayat jatuh/terbentuk ketika sedang beraktivitas atau kecelakaan lain.

-          Tidak kuat berdiri/menahan beban.

-          Ada perubahan bentuk atau pemendekan pada bagian betis/tungkai bawah.

  1. Pola tidur istirahat

-          Pola tidur berubah/terganggu karena adanya nyeri pada daerah cedera.

  1. Pola persepsi kognitif

-          Biasanya mengeluh nyeri hebat pada lokasi tungkai yang terkena.

-          Mengeluh kesemutan atau baal pada lokasi tungkai yang terkena.

-          Kurang pemahaman tentang keadaan luka dan prosedur tindakan.

  1. Pola konsep diri dan persepsi diri

-          Adanya ungkapan ketidakberdayaan karena keadaan cedera.

-          Rasa kuatir dirinya tidak mampu beraktivitas seperti sebelumnya.

  1. Pola hubungan peran

-          Kecemasan akan tidak mampu menjalankan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga dan melindungi.

-          Merasa tak berdaya.

  1. Pola seksual dan reproduksi

-          Merasa khawatir tidak dapat memenuhi kewajiban terhadap pasangan.

  1. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres

-          Ekspresi wajah sedih.

-          Tidak bergairah.

-          Merasa tersaingi di rumah sakit.

  1. Pola nilai kepercayaan

-          Menganggap cedera adalah hukuman.

 

  1. Diagnosa Keperawatan

Pre Operatif:

  1. Nyeri b.d patah tulang/spasus otot, edema, dan/atau kerusakan jaringan lunak.
  2. Perubahan perfusi jaringan b.d menurunnya aliran darah akibat cedera.
  3. Potensial infeksi b.d trauma tulang dan kerusakan jaringan lunak.
  4. Kecemasan b.d nyeri, ketidakmampuan dan gangguan mobilitas.
  5. Kurang pengetahuan tentang keadaan fraktur, pilihan tindakan.

 

Post Operatif:

  1. Nyeri b.d prosedur operasi dan keadaan luka.
  2. Gangguan mobilitas fisik b. perubahan status ekstremitas bawah sesudah operasi, nyeri dan terapi modalitas fisik.
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d bertambahnya kebutuhan metabolik, penyembuhan tulang dan penyembuhan jaringan lunak.
  4. Potensial komplikasi post operasi b.d intervensi pembedahan atau imobilitas.
  5. Potensial infeksi b.d kerusakan integritas jaringan/kulit.
  6. Kurang pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah.

 

  1. 3.      Rencana  Tindakan

Pre  Operasi

  1. Nyeri b.d prosedur operasi dan keadaan luka

HYD : Nyeri berkurang ditandai dengan :

-          TTV dalam kertas normal : S = 36ºִ< 37ºc 3,P = 20x / menit, N=80 x/menit, TD =120 / 80

-          Pasien mengatakan nyeri berkurang

-          Nyeri dalam batas

Intervensi keperawatan:

  1. Obsevasi TTV tiap 4 jam

R/ menunjukkan respon terhadap nyeri

  1. Kaji keluhan nyeri

R/ untuk mengetahui intervensi berikutnya

  1. Pertahankan imobilasasi  bagian yang sakit dengan tirah baring

R/ menghilangkan rasa nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang

  1. Latih tarik nafas dalam

R/ untuk mengurangi rasa nyeri

  1. Kolahorasi dengan dokter untuk tindakan selanjutnya

R/ untuk mrnghilangkan nyeri

 

  1. Perubahan Perfusi b.d menurunnya cairan darah akibat cedera

HYD : Perfusi terpenuhi ditandai dengan:

  1. TTV dalam batas normal, S = 36-37oC, TD = 120/80, N=80 x/mnt, P=18 x/mnt
  2. Kulit hangat dan kering

Intervensi  Keperawatan:

1.  Kaji TTV tiap 3-4 jam

R/ untuk menunjukkan  respon perfusi

2.  Lepaskan perhiasan dari ekstrimitas yang sakit

R/  Dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema

  1. Kaji alirankapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada faktur

R/ Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik), warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial.

  1. Awasi posisi / lokasi alat penyangga sementara

R/ Alat dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah

 

  1. Potensial infeksi b.d trauma tulang dan kerusakan jaringan lunak

HYD:  Infeksi tidak terjadi ditandai dengan :

  1. TTV dalam batas normal, S:36-37ºC

N=80x/mnt , P=18x/menit  TD=120/80 mmHg

  1. Kulit sekitar trauma tidak tampak prubahan mencolok

Intervensi Keperawatan:

  1. Kaji TTV tiap 3-4 jam

R/  peningkatan suhu dapat menunjukkan proses infeksi

  1. Pertahankan teknik antiaseptik

R/  meminimalkan kesempatan kontaminasi

  1. Infeksi kulit adanya iritasi

R/ untuk mengetahui proses infeksi

  1. Selidiki nyeri yang tiba – tiba/ keterbatasan gerakan dengan adanya edema local

R/ dapat mengindeifikasikan terjadinya infeksi

  1. Laksanakan program  medik untuk pemberian antibiotik

R/ antibiotik dapat mencegah proses infeksi dan mempercepat penyembuhan

 

  1. Kecemasan b.d. nyeri, ketidakmampuan dan gangguan mobilitas

HYD :  Cemas tidak terjadi ditandai dengan

  1. Wajah tampak rileks
  2. Pasien kooperatif dalam pengobatan
  3. TTV dalam batas normal, S = 36 – 37oc, N = 80 x /mnt, P = 18 x / mnt, TD = 120 / 80

 

Intervensi Keperawatan:

  1. Kaji tingkat pengetahuan pasien

R/ untuk mengetahui intervensi yang akan diberikan

  1. Diskusikaan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan

R/ pasien mengerti dan kooperatif

 

Post Operasi

  1. Nyeri b.d. tindakan operasi dan keadaan luka

HYD : nyeri berkurang sampai dengan hilang ditandai dengan :

  1. Pasien tampak rileks
  2. Mampu beradaptas dalam beraktivitas / tidur / istirahat
  3. Pasien dapat menunjukkan ketrampilan relaksasi
  4. Intensitas nyeri 1 – 2

Intervensi Keperawatan :

  1. Kaji TTV dalam 3 – 4

R/ untuk mengetahui respons nyeri

  1. Kaji tingkat rasa nyeri

R/ untuk mengetahui intervensi keperawatan yang akan dilakukan

  1. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips / traksi

R/ menghilangkan rasa nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang

  1. Tinggikan ekstremitas yang fraktur

R/  meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri

  1. Hindari penggunaan sprei/bantal plassik dibawah ekstremitas

R/ dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas

  1. Ajarkan teknik relaksasi

R/ untuk mengurangi rasa nyeri

  1. Beri obat sesuai dengan intruksi dokter untuk pemberian analgetik

R/ untuk mengurangi rasa nyeri

 

 

 

  1. Gangguan mobilitas pisik b.d perubahan status ektremitas bawah sesudah operasi, nyeri dan terapi modalitas fisik

HYD :       Meningkatkan/mempertahankan mobilitas fisik pada tingkat yang paling tinggi ditandai dengan : pasien mau bergerak secara perlahan.

Intervensi keperawatan:

  1. Kaji derajat mobilitas yang dapat dilakukan

R/ untuk mengindentifikasi rencana tindakan selanjutnya

  1. Dorong partisipasi klien dalam aktivitas dengan rekreasi, missal : dengan menonton TV.

R/ memberi kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan fikiran

Kembali

  1. Ajarkan pasien untuk bergerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit

R/ mempertahankan gerak sendi dan kekuatan otot

  1. Bantu/ dorong untuk melakukan perawatan diri sendiri, misal : mencukur

R/ meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi darah

  1. Awasi TD saat beraktivitas

R/ untuk mengindentifikasi keluhan pusing

  1. Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda,  kruk, tongkat

R/ untuk mempercepat proses penyembuhan dan adpatasi aktivitas yang dilakukan

  1. Beri minum 2000 – 3000 liter / hari

R/ mempertahankan hidrasi kulit, menurunkan resiko infeksi urinarius

  1. Batasi makanan yang mengandung gas, misal : kol

R/untuk mencegah konstipasi

  1. Beri obot sesuai instruksi dokter untuk pemberian pencahar

R/untuk mencegah konstipasi

 

  1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d bertambahnya kebutuhan metabolik penyembuhan tulang dan penyembuhan jaringan lunak

HYD:  Nutrisi terpenuhi ditandai dengan :

  1. BB naik 200 gram dalam 1 bulan
  2. Pasien mengatakan badannya mengalami ppenambahan BB
  3. Wajah tampak segar

Intervensi :

  1. Berikan batu es, air, setelah mual hilang

R/ mempertahankan cairan aadekuaaaat mencegah dehidrasi

  1. Anjurkan pasien untuk makan porsi kecil tapi sering

R/ untuk memenuhi nutrisi

  1. Kolaaborasi dengan dokter untuk memberikan diet tinggi kalori, vitamin, protein

R/ nutrisi penting untuk penyembuhan

 

 

 

  1. Potensial infeksi b.d kerusakan integritas jaringan kulit

HYD:   Infeksi tidak terjadi ditandai dengan :

  1. TTV dalam batas normal, S=36-37ºc, N=80x/mnt, P=18, TD= 120/80 mmHg.
  2. Kulit sekitar trauma tidak kemerahan

Intevensi:

  1. Kaji TTV dalam 1 – 4 jam

R/ indikator adanya infeksi

  1. Kaji rasa nyeri mendadak

R/ untuk mengindentifikasi rasa nyeri dan proses infeksi

  1. Kaji kulit akan adanya iritasi

R/ untuk mengetahui proses infeksi

  1. Pertahankan teknik antiseptik

R/ untuk mencegah kontaminasi silang

  1. Laksanakan program medik untuk pemberian antibiotik

R/ untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan

 

  1. Kurang pengetahuan tentang perubahan aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah.

HYD: Pasien dapat mengerti tentang aktivitas yang boleh dilakukan ditandai dengan :

  1. Pasien tidak bertanya dengan pertanyaan yang sama pada perawat
  2. Pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan

Intervensi :

  1. Kaji tingkat pengetahuan pasien

R/ untuk mengetahui rencana tindakan yang akan dilakukan

  1. Diskusikan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan

R/ pasien mengerti dan kooperatif

  1. Libatkan keluarga dalam perawatan

R/ untuk membantu bekerjasama dalam proses perawatan

 

 

 

  1. 4.      Discharge Planning
    1. Anjurkan pada pasien untuk check-up secara teratur di tempat pelayanan kesehatan.
    2. Anjurkan pada pasien untuk makan makanan yang bergizi dan banyak mengandung serat seperti: nasi ditambah lauk pauk dan susu.
    3. Minum obat sesuai dengan instruksi dokter.
    4. Saat berjalan gunakan tumpuan lebih banyak pada kaki yang tidak sakit.
    5. Melatih ujung kaki untuk digerakan 1-3 kali dalam setengah jam.
    6. Menjaga kebersihan luka dan segera laporkan ke tenaga kesehatan bila ada bau yang tidak enak, ada rembesan darah keluar, demam tinggi.
    7. Anjurkan untuk banyak minum 2-3 liter/hari.
    8. Jelaskan penyebab dari fraktur, pengobatan dan komplikasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC. 2002.

Doengus E. Marilynn, Mary Frances, Moorhouse, Alice, C. Geislet. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC. 1999.

Donna D. Ignatavicius, Marylin V.B. Medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach. Pensylvania: WB. Saunders Company. 1991.

Lynda Juall Carpenito. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta: EGC. 1997.

Sylvia A. Price. Lorraine M. Wilson. Patofisiologi. Edisi 4. Jakarta: EGC. 1995.

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Fraktur Tibia”

  1. Comments are closed.
May
5
2012