Glaukoma | HealthyEnthusiast

You are here: » Glaukoma

Glaukoma

Glaukoma
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

DEFINISI

Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokulus (lebih dari pada 20 mmhg). Tekanan yang sangat tinggi kadang-kadang mencapai 60-70mmHg, menyebabkan penekanan syaraf optikus sewaktu syaraf tersebut keluar dari bola mata sehingga terjadi kematian syaraf. Mula-mula timbul penurunan penglihatan perifer yang diikuti oleh gangguan penglihatan sentral, (Elizabeth, 2000). Glaukoma adalah suatu penyakit pada mata dimana terdapat peninggian tekanan intraokuler yang bila mana cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat menyebabkan kerusakan anatomis dan fungsional. Disebabkan oleh penambahan pembentukan cairan atau hambatan pengeluaran cairan intraokuler. Cairan ini disekresi oleh vili pada permukaaan korpus siliaris. Dan kamera okuliposterior cairan ini mengalir ke kamera okuli anterior melalui celah antara lensa, iris dan pupil, (Mansjoer, 1982).

Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap ditandai oleh peninggian tekanan intraokuler, penggaungan dan degenerasi pupil syaraf optik serta defek lapang yang khas, (Ilyas, dkk, 2003). Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan di dalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikus dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan. Glaukoma adalah penyakit mata kronis progresif yang mengenai saraf mata dengan neuropati (kelainan saraf) optik disertai kelainan bintik buta (lapang pandang) yang khas. Faktor utamanya adalah tekanan bola mata yang tinggi. Glaukoma merupakan sejenis kerusakan mata yang disebabkan oleh tekanan cair yang terlalu tinggi di dalam bola mata. Tekanan yang tinggi ini akan merusak sel retina dan serabut saraf sehingga ruang penglihatan sekitar orang itu menjadi semakin sempit dan akhirnya akan  menjadi buta.

KLASIFIKASI

Klasifikasi glaukoma meliputi:

Merupakan sebagian besar dari glaukoma (90-95%), yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueous mempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan trabekular, saluran schleem, dan saluran yang berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnosa dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.

Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, dan penglihatan yang kabur. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.

  1. Glaukoma sekunder

Dapat terjadi dari peradangan mata, perubahan pembuluh darah dan trauma. Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab.

  • Perubahan lensa
  • Kelainan uvea
  • Trauma
  • Bedah

  1. Glaukoma kongenital
  • Primer atau infantil
  • Menyertai kelainan kongenital lainnya

  1. Glaukoma absolut

Merupakan stadium akhir glaukoma (sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut. Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi  glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit. Sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.

Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.

 

ETIOLOGI

Penyebab tersering adalah tekanan bola mata di atas 21 mmHg (normal 10-20 mmHg). Tekanan di atas normal ini akibat cairan dalam bola mata yang berada dibilik mata depan tidak lancar mengalir keluar. Tekanan bola mata tersebut secara mekanik akan menekan serabut saraf mata sehingga terjepit. Selain itu juga akan terjadi proses iskemia (jaringan kekurangan nutrisi dan oksigen) karena darah tidak mengalir dengan baik di daerah saraf mata. Terjadilah kematian sel-sel saraf mata. Faktor risiko yang ikut memicu glaukoma selain perubahan tekanan bola mata adalah usia di atas 40 tahun, mempunyai keluarga yang menderita glaukoma, miopia, atau mempunyai penyakit sistemik seperti diabetes dan kardiovaskular.

Semua jenis glaukoma harus dikontrol secara teratur ke dokter mata selama hidupnya. Hal tersebut dikarenakan tajam penglihatan dapat menghilang secara perlahan tanpa diketahui penderitanya. Obat-obatan yang dipakai perlu dikontrol oleh dokter spesialis mata agar disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Satu hal yang perlu ditekankan adalah, bahwa saraf mata yang sudah mati tidak dapat diperbaiki lagi. Obat-obatan seperti obat tetes mata, obat makan, dan tindakan seperti laser dan bedah hanya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari saraf mata tersebut.

Penyebab dari glaukoma (Mansjoer, 1999) , yaitu:

  1. Obstruksi aliran aqueous humour.
  2. Herediter.
  3. Infeksi.
  4. Usia.
  5. Obat-obatan.

 

PATOFISIOLOGI

      Glaukoma disebabkan oleh obstruksi aliran aqueous humor. Substan aliran keluar disudut antara kornea dan iris (glaukoma sudut tertutup akut) dapat timbul mendadak akibat infeksi atau cidera. Usia yang berhubungan dengan fibrosis disudut tersebut atau saluran lain yang berperan dalam mengalirkan aqueous humour, dapat secara perlahan meningkatkan intraokulus.

      Glaukoma biasanya ditandai dengan berkurangnya lapang pandang akibat kerusakan syaraf optikus. Kerusakan ini berhubungan dengan derajat TIO yang terlalau tinggi untuk berfungsinya syaraf optikus secara normal. Semakin tinggi tekanannya maka semakin cepat kerusakan syaraf optikus itu berlangsung. Peningkatan TIO terjadi akibat perubahan patologis yang menghambat peredaran  normal humour aqueous. Pada keadaan dimana terjadi peningkatan TIO, diskus menjadi lebih cekung, sehingga mengakibatkan kerusakan syaraf optikus dan kehilangan penglihatan. Batas diskus juga tampak kabur tanpa tepi yang tegas, seperti terlihat pada edema papil (pembengkakan diskus optikus) dan peningkatan tekanan intra kranial yang mempengaruhi pusat mual-muntah. Peningkatan TIO pada ruang kamera posterior dapat mendesak keruang kamera anterior. Dengan adanya desakan yang terus-menerus dapat terjadi kebocoran pada ruang anterior. Begitu air bocor kedalam kornea, kornea menjadi buram dan berkabut, yang akan mempengaruhi penglihatan (Smeltzer, 2001).

Click here to Download Pathway

MANIFESTASI KLINIS

      Manifestasi klinis pada glaukoma yaitu:

  1. Rasa sakit hebat yang menjalar ke kepala disertai mual dan muntah.
  2. Mata merah dan bengkak.
  3. Tajam penglihatan sangat menurun.
  4. Melihat lingkaran-lingkaran seperti pelangi.
  5. Lapang pandang menjadi sempit.
  6. Kebutaan permanen.

 

PENATALAKSANAAN.

Tujuan penatalaksanaan pada glaukoma  adalah penurunan TIO ketingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan. Penatalaksanaan bisa berbeda bergantung pada klasifikasi penyakit dan responnya terhadap terapi. Terapi obat, pembedahan laser, pembedahan konvensional dapat dipergunakan untuk mengontrol kerusakan progresif yang diakibatkan oleh glaukoma.

  1. Farmakoterapi.

       Terapi obat merupakan penanganan awal yang utama untuk penanganan glaukoma sudut-terbuka primer. Meskipun program ini dapat diganti, terapi diteruskan seumur hidup. Bila terapi ini gagal menurunkan TIO dengan adekuat, pilihan berikutnya pada kebanyakan pasien adalah trabekulopasti laser dengan pemberian obat tetap dilanjutkan.

Tindakan pengobatan untuk glaukoma antara lain:

  1. Antagonis beta-adrenergik, seperti: timolol, levobunolol (betagen), dan optipraniolol (metipranolol), yang dapat menurunkan TIO dengan mengurangi pembentukan humour aqueous.
  2. Bahan kolinergik, misalnya: pilokarpin hidroklorida 1%-4%, asetilkolin, karbakol, digunakan dalam penanganan glaukoma jangka pendek dengan penyumbatan pupil akibat efek langsungnya pada reseptor parasimpatis iris dan badan silier.
  3. Agonis adrenergik, misalnya: epineprin dan fenileprin hidroklorida (neosynephrine), dapat menurunkan IOP dengan meningkatkan aliran keluar humour aqueous, memperkuat dilatasi pupil, menurunkan produksi humor aqueous, dan menyebabkan kontriksi pembuluh darah konjungtiva.
  4. Inhibitor anhidrase karbonat, misalnya: asetazolamid (diamox), diberikan secara sitemik untuk menurunkan IOP dengan menurunkan pembuatan humor aqueous.
  5. Diuretika osmotik, misalnya: monitol, dapat menurunkan TIO dengan meningkatkan osmolalitas plasma dan menarik air dari mata kedalam peredaran darah.

  1. Bedah laser.

Pembedahan laser untuk memperbaiki aliran humor aqueous dan menurunkan TIO dapat diindikasikan sebagai penanganan primer untuk glaukoma, atau bisa juga dipergunakan bila terapi obat tidak bisa ditoleransi atau tidak dapat menurunkan TIO dengan adekuat.

  1. Bedah konvensional.

Prosedur bedah konvensional dilakukan bila tehnik laser tidak berhasil, atau peralatan laser tidak tersedia, atau bila pasien tidak cocok untuk dilakukan (misalnya : pasien yang tidak bisa duduk diam atau mengikuti perintah).

Bedah konvensional dapat dilakukan dengan:

  1. Tradektomi Perifer/Sektoral.

Dilakukan untuk mengangkat sebagian iris untuk memungkinkan aliran humour aqueous dari kamera posterior ke anterior.

  1. Trabekulektomi.

Dilakukan untuk menciptakan saluran pengaliran baru melalui sklera  dengan melakukan ”disksi flap” ketebalan setengah sklera dengan engsel dilimbus I segmen jaringan trebekula diangkat flap, flap sklera ditutup dan konjungtiva dijahit rapat untuk mencegah kebocoran cairan humour aqueous.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

  1. Data Subyektif
    1. Mata terasa sakit.
    2. Penglihatan kabur.
    3. Tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar.
    4. Pusing.
    5. Rasa terbakar pada mata.
    6. Mual/muntah.
    7. Data Obyektif
      1. Peningkatan TIO.
      2. Lapang pandang sempit .
      3. Fotopobia.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO.
  2. Gangguan sensori-perseptual: penglihatan berhubungan dengan status organ indra.
  3. Ansietas berhubungan dengan kenyataan kehilangan penglihatan.
  4. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan/kerusakan penglihatan.
  5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/tak mengenal sumber.

INTERVENSI

NO Diagnosa

Keperawatan

Tujuan Dan

Kriteria Hasil

Rencana Keperawatan
Intervensi Rasional
1 Nyeri berhubungan

dengan peningkatan TIO

Tujuan : nyeri dapat berkurang/terkontrol.

Kriteria hasil:

  1. Tidak ada keluhan nyeri.
  2. Menunjukan ekspresi wajah rileks.
  3. Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
  4. Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep.
 

  1. Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul.

 

  1. Kurangi tingkat pencahayaan: cahaya diredupkan, diberi tirai/kain.

 

  1. Dorong pengguanaan kaca mata hitam pada cahaya kuat.
  2. Pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi nyeri dan meningkatkan rasa nyaman.
 

  1. Mengurangi edema akan dapat mengurangi nyeri.

 

 

  1. Tingkat pencahayaan yang lebih rendah akan membuat lebih nyaman.

 

  1. Cahaya kuat menyebabkan rasa tak nyaman setelah menggunakan tetes mata dilator.
2 Gangguan sensori-perseptual: penglihatan berhubungan dengan status organ indra. Tujuan mempertahankan penglihatan sebaik mungkin.

Kriteria hasil:

  1. Mempertahankan lapang ketajaman penglihatan.
  2. Mampu mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori.
  3. Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan.
 

 

  1. Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan penglihatan.

 

 

 

 

  1. Tunjukan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal tidak salah dosis.

 

  1. Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan.

 

 

 

 

 

  1. Berikan sedasi, analgesik sesuai kebutuhan.
1. Mempengaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan intervensi.

 

2. Sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasienmenghadapi kemungkinan tau mengalami pengalaman kehulangan penglihatan sebagian atau total.

 

3. Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut.

 

 

4. Menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang/kehilangan penglihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan.

 

5. Serangan akut glaukoma berhubungan dengan nyeri tiba-tiba, yang dapat mencetuskan ansietas/agitasi, selanjutnya TIO.

3 Ansietas berhubungan dengan kenyataan kehilangan penglihatan. Tujuan : menunjukan ansietas berkurang/hilang

Kriteria hasil:

  1. Pasien akan tampak rilek dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
  2. Pasien akan menggunakan sumber.
  3. Kaji tingkat ansietas, derajat pengalaman nyeri/timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
 

 

 

  1. Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan.

 

 

 

  1. Dorong pasien untuk mengetahui masalah dan mengekpresikan perasaannya.

 

  1. Identifikasi sumber/orang yang menolong.
  2. Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas, dan dapt mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO.
 

  1. Menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan /harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang pengobatan.

 

  1. Memberikan kesempatan pasien untuk menerima situasi nyata.

 

  1. Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.
4 Resiko cidera berhubungan dengan penurunan/kerusakan penglihatan. Tujuan : cidera dapat dicegah

Kriteria hasil :

Pasien akan :

  1. Menanyakan penmahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cidera.
  2. Menunjukan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri dari cidera.
  3. Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
    1. Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi sampai stabil dan mencapai penglihatan dan keterampilan koping yang memadai, menggunakan tehnik bimbingan penglihatan.
 

  1. Bantu pasien menata lingkungan. Jangan mengubah penataan meja kursi tanpan pasien diorientasi dahulu.

 

  1. Orientasikan pasien pada ruangan.

 

  1. Bahas perlunya penggunaan perisai mental atau kaca mata bila diperintahkan.

 

 

  1. Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma.

 

  1. Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata.
  2. Menurunkan resiko jatuh atau cidera ketika langkah sempoyongan atau tidak mempunyai keterampilan koping untuk kerusakan penglihatan.
 

 

  1. Memfasilitasi kemandirian & menurunkan resiko cedera.

 

 

 

  1. Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.

 

  1. Tameng logam/kaca mata melindungi terhadap cedera.

 

 

 

  1. Tekanan pada mata dapat mengakibatkan kerusakan serius lebih lanjut.

 

  1. Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata.
5 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/tak mengenal sumber. Tujuan : proses penyakit/prognosis dan program terapi dipahami.

Kriteria hasil :

  1. Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan.
  2. Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
    1. Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur.
 

  1. Tekanan pentingnya evaluasi perawatan rutin. Beritahu untuk melaporkan penglihatan berawan.

 

  1. Informasikan pasien untuk menghindarkan tetes mata yang dijual bebas.
  2. Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antara obat mata dan masalah medis pasien.

 

 

  1. Dorong aktifitas pengalih seperti mendengar radio, berbincang-bincang, menonton televisi.

 

 

 

  1. Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan upaya evaluasi medis, contoh nyeri tajam tiba-tiba, penurunan penglihatan, kelopak bengkak, dan kemerahan.
  2. Meningkatkan pemahaman dan kerja sama tentang program pengobatan.
 

  1. Pengawasan periodik menurunkan risiko komplikasi serius.

 

 

  1. Dapat bereaksi silang/campur dengan obat yang diberikan.
  2. Penggunaan obat mata topikal dapat menyebabkan TD meningkat pada pasien hipertensi; pencetus dispnea pada pasien PPOM.

 

  1. Memberikan masukan sensori, mempertahankan rasa normalitas, melalui waktu lebih mudah bila tak mampu menggunakan penglihatan secara penuh.

 

  1. Intervensi dini dapat mencegah terjadinya komplikasi serius, kemungkunan kehilangan penglihatan.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elisabeth. J. 2000. Buku Saku Patofisiologi/Elisabeth. J. Cowin. EGC: Jakarta.

Doenges, Marilynn. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk        perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC: Jakarta.

Ilyas, dkk.2003. Ilmu Penyakit Mata. FKUI: Jakarta.

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.

Smeltzer, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta.

 

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Glaukoma”

  1. Comments are closed.
Apr
22
2012