Hipotiroid | HealthyEnthusiast

You are here: » Hipotiroid

Hipotiroid

Hipotiroid
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Hipotiroidisme merupakan kelainan yang disebabkan berkurangnya fungsi kelenjar tiroid (Ranakusuma, B, 1992:35). Hipotiroidisme adalah suatu atau beberapa kelainan structural atau fungsional dari kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormone-hormone tiroid menjadi isufisiensi (Haznam, M.W, 1991: 149). Hipotiroidisme adalah suatu keadaan hipometabolik akibat defisiensi hormone tiroid yang dapat terjadi pada setiap umur (Long, Barbara.C, 1996:102). Hipotiroidisme adalah tiroid yang hipoaktif yang terjadi bila kelenjar tiroid berhenti atau kurang memproduksi hormon tiroksin (Semiardji, Gatut, 2003:14).

  1. ETILOGI

Etiologi dari hipotiroidisme dapat digolongkan menjadi tiga tipe yaitu

  1. Hipotiroid primer

Mungkin disebabkan oleh congenital dari tyroid (kretinism), sintesis hormone yang kurang baik, defisiensi iodine (prenatal dan postnatal), obat anti tiroid, pembedahan atau terapi radioaktif untuk hipotiroidisme, penyakit inflamasi kronik seperti penyakit hasimoto, amylodosis dan sarcoidosis.

  1. Hipotiroid sekunder

Hipotiroid sekunder berkembang ketika adanya stimulasi yang tidak memadai dari kelenjar tiroid normal, konsekwensinya jumlah tiroid stimulating hormone (TSH) meningkat. Ini mungkin awal dari suatu mal fungsi dari pituitary atau hipotalamus. Ini dapat juga disebabkan oleh resistensi perifer terhadap hormone tiroid.

  1. Hipotiroid tertier/ pusat

Hipotiroid tertier dapat berkembang jika hipotalamus gagal untuk memproduksi tiroid releasing hormone (TRH) dan akibatnya tidak dapat distimulasi pituitary untuk mengeluarkan TSH. Ini mungkin berhubungan dengan suatu tumor/ lesi destruktif lainnya diarea hipotalamus.Ada dua bentuk utama dari goiter sederhana yaitu endemic dan sporadic. Goiter endemic prinsipnya disebabkan oleh nutrisi, defisiensi iodine. Ini mengalah pada “goiter belt” dengan karakteristik area geografis oleh minyak dan air yang berkurang dan iodine.

      Sporadik  goiter tidak menyempit ke area geografik lain. Biasanya disebabkan oleh :

  • Kelainan genetic yang dihasilkan karena metabolisme iodine yang salah .
  • Ingesti dari jumlah besar nutrisi goiterogen ( agen produksi goiter yang menghambat produksi T4 ) seperti kobis, kacang, kedelai , buah persik, bayam, kacang polong, Strowbery, dan lobak. Semuanya mengandung goitogenik glikosida
  • Ingesti dari obat goitrogen seperti thioureas  ( Propylthiracil ) thocarbomen, ( Aminothiazole, tolbutamid ).

  1. ANATOMI PATOLOGI

            Kelenjar tiroid/gondok terletak di leher bawah laring  bagian depan, kanan dan kiri. Panjangnya 5 cm menyatu di garis terngah dan beratnya kurang dari 20 gram. Kelenjar tiroid berfungsi mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi kelenjar tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormone tersebut ke pembuluh darah.

             Yodium merupakan unsur penting hormone tersebut. Jika kelenjar tiroid kekurangan yodium maka kelenjar akan bekerja lebih aktif dan membesar. Pada orang sehat kadar hormone T3 dan T4 dipetahankan dalam batas normal oleh TSH. TSH diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior di bagian otak di belakang mata. Bila kadar hormone Tiroid menurun, produksi TSH meningkat.

  1. PATOFISIOLOGI

         Kelenjar tiroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan mensekresi hormone tiroid. Jika diet seseorang kurang mengandung iodine atau jika produksi dari hormone tiroid tertekan untuk alasan yang lain, tiroid akan membesar sebagai usaha untuk kompendasi dari kekurangan hormone. Pada keadaan seperti ini, goiter merupakan adaptasi penting pada suatu defisiensi hormone tiroid. Pembesaran dari kelenjar terjadi sebagai respon untuk meningkatkan respon sekresi pituitary dari TSH. TSH menstimulasi tiroid untuk mensekresi T4 lebih banyak, ketika level T4 darah rendah. Biasanya, kelenjar akan membesar dan itu akan menekan struktur di leher dan dada menyebabkan gejala respirasi disfagia.

         Penurunan tingkatan dari hormone tiroid mempengaruhi BMR secara lambat dan menyeluruh. Perlambatan ini terjadi pada seluruh proses tubuh mengarah pada kondisi achlorhydria (pennurunan produksi asam lambung), penurunan traktus gastrointestinal, bradikardi, fungsi pernafasan menurun, dan suatu penurunan produksi panas tubuh.

         Perubahan yang paling penting menyebabkan penurunan tingkatan hormone tiroid yang mempengaruhi metabolisme lemak. Ada suatu peningkatan hasil kolesterol dalam serum dan level trigliserida dan sehingga klien berpotensi mengalami  arteriosclerosis dan penyakit jantung koroner. Akumulasi proteoglikan hidrophilik di rongga interstitial seperti rongga pleural, cardiac, dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.

         Hormon tiroid biasanya berperan dalam produksi sel darah merah, jadi klien dengan hipotiroidisme biasanya menunjukkan tanda anemia karena pembentukan eritrosit yang tidak optimal dengan kemungkinan kekurangan vitamin B12 dan asam folat (Lukman and Sorrensons, 1993: 1810; Rumaharbo, H, 1999:)

Click here to Download PATHWAY

  1. MANIFESTASI KLINIS

Kulit dan rambut

  • § Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
  • § Pembengkakan, tangan, mata dan wajah
  • § Rambut rontok, alopeksia, kering dan pertumbuhannya buruk
  • § Tidak tahan dingin
  • § Pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal

v  Muskuloskeletal

  • Volume otot bertambah, glossomegali
  • Kejang otot, kaku, paramitoni
  • Artralgia dan efusi sinovial
  • Osteoporosis
  • Pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda
  • Umur tulang tertinggal disbanding usia kronologis
  • Kadar fosfatase alkali menurun

v  Neurologik

  • Letargi dan mental menjadi lambat
  • Aliran darah otak menurun
  • Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian kurang, penurunan reflek tendon)
  • Ataksia (serebelum terkena)
  • Gangguan saraf ( carfal tunnel)
  • Tuli perseptif, rasa kecap, penciuman terganggu

v  Kardiorespiratorik

  • Bradikardi, disritmia, hipotensi
  • Curah jantung menurun, gagal jantung
  • Efusi pericardial (sedikit, temponade sangat jarang)
  • Kardiomiopati di pembuluh. EKG menunjukkan gelombang T mendatar/inverse
  • Penyakit jantung iskemic
  • Hipotensilasi
  • Efusi pleural
  • Dispnea

v  Gastrointestinal

  • Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
  • Obstruksi usus oleh efusi peritoneal
  • Aklorhidria, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa

v  Renalis

  • Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
  • Retensi air (volume plasma berkurang)
  • Hipokalsemia

v  Hematologi

  • Anemia normokrom normositik
  • Anemia mikrositik/makrositik
  • Gangguan koagulasi ringan

v  Sistem endokrin

  • Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore / masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore dengan hiperprolaktemi
  • Gangguan fertilitas
  • Gangguan hormone pertumbuhan dan respon ACTH, hipofisis terhadap insulin akibat hipoglikemi
  • Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
  • Insufisiensi kelenjar adrenal autoimun
  • Psikologis / emosi : apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik diri, perilaku maniak
  • Manifestasi klinis lain berupa : edema periorbita, wajah seperti bula (moon face), wajah kasar, suara serak, pembesaran leher, lidah tebal, sensitifitas terhadap opioid, haluaran urin menurun, lemah, ekspresi wajah kosong dan lemah. (Stevenson, J. C& Chahal, P, 1993: 52-53)

  1. KOMPLIKASI

                  Komplikasi yang serius dari hipotiroidisme adalah koma miksedema dan kematian, efusi pericardial dan pleura, megakolon dengan paralitik ileus dan kejang. Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang di tandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermia tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi dan penurunan kesadaran hingga koma.

                  Penyakit yang sering muncul akibat hipotiroidisme adalah

  1. Penyakit Hashimoto

Disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat otoantobodi yang merusak jaringan tiroid. Ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik  negatif yang minimal.

  1. Gondok Endemic

Hipotiroid akibat defisiensi iodium dalam makanan. Ini terjadi karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalam usaha untuk menyerap semua iodium yang tersisa dalam darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik.

  1. Karsinoma Tiroid

Karsinoma Tiroid dapat  terjadi akibat terapi tiroidektomi,  pemberian obat penekan TSH atau terapi iodium radioaktif untuk menghancurkan jaringan tiroid. Terapi- terapi tersebut akan merangsan proliferasi dan hiperplasia sel tiroid. (Long, Barbara.C,2000:261 dan Hudak and Gallo,1996:479)

  1. PEMERIKSAAN  LABORATORIUM

            Pemeriksaan laboratorium yang didapatkan pada pasien hipotiroidisme didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Kegagalan hipofisis : respon TSH terhadap TRH mendatar
  2. Penyakit hipotalamus : TSH dan TRH meningkat
  • Titer autoantibody tiroid tinggi pada > 80% kasus
  • Peningkatan kolesterol
  • Pembesaran jantung pada sinar X dada
  • EKG menunjukkan sinus bradikardi, rendahnya voltase kompleks QRS& gelombang T datar atau inversi  (Haznam, M.W, 1991: 152)
  1. FOKUS PENGKAJIAN

                  Bayi baru lahir dapat memiliki tanda-tanda yaitu diantaranya fontanel posterior terbuka dengan jelas, ikterik fisiologis yang berkepanjangan, sulit makan, kulit dingin, mengelupas, hipotonia dan hernia umbilikalis. Setelah usia 6 bulan tanda-tanda yang muncul gagal tumbuh, pembesaran dan penonjolan ludah, wajah kasar, pola makan buruk, konstipasi.

                  Tanda-tanda dan gejala-gejala hipotiroidisme mencakup keletihan, kelemahan, penurunan bising usus, penurunan nafsu makan, kenaikan BB, dan perubahan gambaran EKG. Koma miksedema merupakan menifestasi yang jarang pada hipotiroidisme, ditandai dengan depresi berat pada fungsi sensorium, hipotermia, hipoventilasi, hiponatremia, hiporefleksia, hipotensi, dan bradikardia. Pasien dengan koma miksedema tidak menggigil, meskipun dilaporkan suhu tubuh dapat mencapai 800F. Diagnosa koma miksedema tergantung pada pengenalan gejala-gejala klinis, dan identifikasi factor pencetus yang mendasari. Faktor pencetus yang paling umum adalah infeksi paru; yang lain meliputi trauma, stress, infeksi, obat-obat seperti narkotik atau barbiturate, pembedahan dan gangguan metabolic.  (Nettina, S.M, 2001: 293)

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif.
  2. Perubahan suhu tubuh : hipotermi  berhubungan dengan penurunan metabolisme
  3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal.
  4. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.
  5. Perubahan proses berfikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernafasan.
  6. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lambatnya laju metabolisme tubuh
  7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup.  (Smeltzer, S. C, 2001: 1304)

  1. INTERVENSI DAN RASIONALISASI
  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif.

Kriteria hasil:

                  Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian berupa:

  • Beraktifitas dalam perawatan mandiri
  • Melaporkan penurunan tingkat kelelahan
  • Memperlihatkan perhatian dan kesadaran pada lingkungan
  • Berpartisipasi dalam aktivitas dan berbagai kejadian dalam lingkungan
  • Berpartisipasi dalam peristiwa dan aktivitas keluarga
  • Melaporkan tidak adanya rasa nyeri dada, peningkatan kelelahan atau gejala sesak napas yang menyertai peningkatan aktivitas.

Intervensi dan Rasionalisasi Keperawatan

a)      Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat ditolerir.

Rasionalisasi: Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat.

b)      Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.

Rasionalisasi: Memberikan kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan-mandiri.

c)      Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktivitas yang tidak menimbulkan stress.

Rasionalisasi: Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.

d)     Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktivitas.

Rasionalisasi: Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.

  1. Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan gangguan BMR

Kriteria hasil:

Pemeliharaan suhu tubuh yang normal berupa:

  • Mengalami berkurangnya gangguan rasa nyaman dan intoleransi terhadap hawa dingin.
  • Mempertahankan suhu tubuh dasar
  • Melaporkan rasa hangat yang adekuat dan berkurangnya gejala menggigil.
  • Menggunakan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.
  • Menjelaskan rasional untuk menghindari sumber panas dari luar.

Intervensi dan Rasionalisasi Keperawatan

a)      Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.

Rasionalisasi: Meminimalkan kehilangan panas.

b)      Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar (misalnya bantal pemanas, selimut listrik atau penghangat).

Rasionalisasi: Mengurangi risiko vasodilatasi perifer dan kolaps vaskuler

c)      Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan penurunanya dari nilai dasar suhu normal pasien.

Rasionalisasi: Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan dimulainya koma miksedema.

d)     Lindungi terhadap pajanan hawa dingin dan hembusan angina.

Rasionalisasi: Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas.

  1. Konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal.

Kriteria hasil:

Pemulihan fungsi usus yang normal ini di buktikan dengan:

  • Mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang normal.
  • Melaporkan fungsi usus yang normal.
  • Mengenali dan mengkonsumsi makanan yang kaya serat
  • Minum cairan sesuai dengan yang dianjurkan setiap hari.
  • Berpartisipasi dalam peningkatan latihan yang ditingkatkan secara bertahap.
  • Menggunakan pencahar seperti yang diresepkan dan menghindari ketergantungan yang berlebihan pada pencahar serta enema.

Intervensi dan Rasionalisasi Keperawatan

a)      Dorong peningkatan asupan cairan dalam batas-batas restriksi cairan.

Rasionalisasi: Meminimalkan kehilangan panas.

b)      Berikan makanan yang kaya akan serat

Rasionalisasi: Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar.

c)      Ajarkan kepada pasien tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung air.

Rasionalisasi: Memberikan rasional peningkatan asupan cairan kepada pasien.

d)     Pantau fungsi usus.

Rasionalisasi: Memungkinkan deteksi konstipasi dan pemulihan kepada pola defekasi yang normal.

e)      Dorong pasien untuk meningkatkan mobilitas dalam batas-batas toleransi latihan.

Rasionalisasi: Meningkatkan evakuasi usus.

f)       Dorong pasien untuk menggunakan pencahar dan enema hanya bila diperlukan saja.

Rasionalisasi: Meminimalkan ketergantungan pasien pada pencahar serta enema, dan dorong pola evakulasi usus yang normal.

  1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi.

Kriteria hasil:

Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas yang normal , ini dibuktikan dengan:

  • Memperhatikan perbaikan status pernafasan dan pemeliharaan pola pernafasan yang normal.
  • Menunjukkan frekuensi, kedalaman dan pola respirasi yang normal.
  • Menarik nafas dalam dan batuk ketika dianjurkan.
  • Menunjukkan suara napas yang normal tanpa bising tambahan pada auskultasi.
  • Menjelaskan rasional penggunaan obat yang berhat-hati.
  • Berpartisipasi pada saat dilakukan pengisapan dan ventilasi.

                  Intervensi dan Rasionalisasi Keperawatan

a)      Pantau frekuensi, kedalaman, pola pernafasan; oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial.

Rasionalisasi: Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektivitas intervensi.

b)      Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk.

Rasionalisasi: Mencegah atelektasis dan meningkatkan pernafasan yang adekuat.

c)      Berikan obat (hipnotik dan sedative) dengan hati-hati.

Rasionalisasi: Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernafasan akibat penggunaan obat golongan hipnotik-sedatif.

d)     Perhatikan saluran nafas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan ventilasi jika diperlukan.

Rasionalisasi: Penggunaan saluran nafas artificial dan dukungan ventilasi mungkin diperlukan jika terjadi depresi pernafasan.

  1. Perubahan proses berfikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernafasan.

Kriteria hasil:

Perbaikan proses berfikir, ini dibuktikan dengan:

  • Memperlihatkan perbaikan fungsi kognitif.
  • Mengidentifikasi waktu, tempat, tanggal dan kejadian dengan benar.
  • Bereaksi ketika dirangsang.
  • Mengadakan interaksi secara spontan dengan keluarga dan lingkungan.
  • Menjelaskan bahwa perubahan dalam proses mental dan kognitif merupakan hasil dari proses penyakit.
  • Menggunakan obat seperti yang dipreskripsikan untuk mencegah penurunan pada proses kognitif.

Intervensi dan Rasionalisasi Keperawatan

a)      Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal, dan kejadian di sekitar dirinya.

Rasionalisasi:

Memudahkan orientasi realitas pada pasien

b)      Berikan stimulasi lewat percakapan dan ajktivitas yang tidak bersifat mengancam.

Rasionalisai:

Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stres.

c)      Jelaskan pada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif dan mental merupakan akibat dari proses penyakit.

Rasionalisasi:

Meyakinkan pasaien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan bahwa hasil akhir yang positif dimungkinkan jika dilakuan terapi yang tepat.

d)     Pantau proses kognitif serta mental dan responnya terhadap pengobatan serta terapi lainnya.

Rasionalisasi:

Memumngkinkan evaluasi terhadap efektifitas pengobatan.

  1. Gangguan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lambatnya laju metabolisme tubuh

Kriteria hasil: Pasien akan menunnjukkkan berat badan yang normal, ini dibuktikan dengan penuruna berat badan kukrang lebih 2 pound/ minggu

Intervensi dan rasionalisasi kaeperawatan:

Dengan pengobatan tiroid, tingkatan aktivitas klien dan penurunan edema  dapat menurunkan berat badan secara signifikan tanpa perubahan  dari dietnya. Biasanyna nafsu makan meningkat karena obat sedang bekerja. Ini penting untuk menghasilkan diet kalori rendah sampai berat badan stabil pada berat badan ideal.

  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup.

Kriteria hasil: Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan. Hal ini dibuktikan dengan:

  • Mengurikan program pengobatan dengan benar
  • Mengenali hasil akhhir terapi penggantian hormone tiroid yang positif.
    • Menggunakan obat bagi diiri sendiri sesuai yang diresepkan
    • Mengenali efek samping yang merugikan dan segera melapor kepada dokter:  jika timbul kembalil gejala hipotiroidisme dan terjadinya gejala hipertiroidisme

Intervensi dan rasionalisasi keperawatan

a)      Jelaskan dasar pemikiran untuk terapi pengantian hormone tiroid.

Rasionalisasi: memberikan rasional pengunaan terapi penggantian hormone tiroid seperti yang diresepkan kepada pasien.

b)      Uraikan efek pengobatan yang dikehendaki pasien.

Rasionalisasi: mendorong pasien untk mengenali perbaikan status fisik dan kesehatan yang akan terjadi pada terapi hormone tiroid.

c)      Bantu pasien menyusun jadwal dan checklist untuk memastikan pelaksanaan sendiri terapi pengagn tian hormon tiroid.

Rasionalisasi: Memastikan bahwa obat digunankan seperti yang direasepkan.

d)     Uraikan tanda dan gejala pemberian obat dengan dosis yang kurang/ berlebihan.

Rasonalisasi: Berfungsi sebagai pengecekan bagi pasien untuk menentukan apakah tujuan terapi terpenuhi.

e)      Jelaskan perlunya ti ndak lanjut jangka panjang kepada pasien dan keluarganya.

Rasionalisasi: Meningkatkan kemungkinan bahwa kadaan hipo atau hipertiroidisme akan dapat dideteksi dan diobati.

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Hipotiroid”

  1. Comments are closed.
Apr
30
2012