Imunisasi | HealthyEnthusiast

You are here: » Imunisasi

Imunisasi

Imunisasi
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Imunisasi

A            DEFINISI

Imun adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka serangan kuman tertentu. Jadi imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin kedalam tubuh. (Depkes RI, 2000)

Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan (imunitas) pada bati atau anak sehingga terhindar dari penyakit.

(Yupi S, 2004)

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. (Ranuh dkk, 2001)

 

 

B             TUJUAN

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar.

 

 

C            JENIS IMUNITAS

Ada 2 jenis klasifikasi imunitas, yaitu :

  1.       Kekebalan aktif

Kekebalan aktif adalah keekbalan yang di buat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu panyakit tertentu dimdnd prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekabalan aktif dapat terjadi apabila terjadi stimulus “ system imunitas” yang menghasilkan antibody dan kekebalan seluler dan bertahan lebih lama disbanding kekebalan pasif. (Depkes, 2000)

Kekebalan aktif ada 2 macam:

a)            Naturally Acquired (kekebalan yang di dapat secara alami)

Misalnya pada terkena difteri /poliomyelitis dengan proses anak terkena infeksi kemudian terjadi silent abortive, sembuh selanjutnya kebal terhadap penyakit tersebut. Hal ini karena paparan penyakit terhadapsistem kekebalan (sel limfosit) tersebut akan beredar dalam darah darah dan apabila suatu ketika terpapar lagi dengan antigen yang sam, sel limfosit akan memeproduksi antibody untuk mengenbalikan kekuatan imunitas terhadap penyakit tersebut.

b)            Kekebalan aktif buatan

Merupakan keekbalan yang di buat tubuh setelah pemberian vaksin. Dikenal dengan imunisasi dasar dan booster. Misalnya pemberian vaksin (cacar dan polio) yang kumannya masih hidup, tetapi sudah dilemahkan (virus, kolera, tipus, pertusis, toksoid (toksis))

 

  1. Kekebalan pasif

Imunisasi pasif merupakan pemberian suntikan atau antibody/immunoglobulin kepada resipien, dimaksudkan untuk pengobatan atau pencegahan terhadap infeksi. Transfer imunitas memberikan proteksi segera terhadap pathogen, akan tetapi bersifat sementara selama antibody masih aktif di dalam tubuh resipien. Pada bayi baru lahir imunitas didapat dari transfer transplasental immunoglobulin B dari ibu. Kadar tergantung umur kehamilan dan spesifik terhadap infeksi lokal.

a)      Kekebalan pasif yang diturunkan (Congenital immunity)

Yaitu kekebalan pada bayi , karena mendapatkan zat anti yang diturunkan dari ibunya, ketika ia masih berada di dalam kandungan. Antibodi dari darah ibu, melalui placenta, masuk kedalam darah si ibu.

Macam dan jumlah zat anti yang didapatkannya tergantung pada macam dan jumlah zat anti yang dimiliki ibunya.

Macam kekebalan yang diturunkan antara lain: terhadap tetanus, diptheri, pertussis, typhus.

Kekebalan ini biasanya  berlangsung sampai umur 3-5 bulan, karena zat anti ini makin lama makin berkurang, sedang ia sendiri tidak membuatnya.

 

b)      Kekebalan pasif yang disengaja (Artificially induced passive immunity)

Yaitu kekebalan yang diperoleh seseorang karena orang itu diberi zat anti dari luar.

Pemberian zat anti dapat berupa pengobatan (therapeutika) maupun sebagai usaha pencegahan (propilactic).

Misalnya: seorang yang luka karena menginjak paku, karena ia takut menderita tetanus ia disuntik ATS (Anti Tetanus Serum), sebagai usaha pencegahan.

 

Indikasi imunisasi pasif secara umum

a)      Defisiensi sintesis antibody akibat defek B-limfosit bawaan maupun didapat.

b)      Rentan terhadap suatu penyakit terpapar atau kemungkinan terpapar ( missal anak dengan leukemia terpapar varisela atau campak) atau tidak cukup waktu untuk memperoleh proteksi dengan vaksinasi (keadaan terpapar campak, rabies, hepatitis B)

c)      Sebagai pengobatan membantu menekan dampak toksin (missal keracunan atau luka bakar, difteria, tetanus) atau menekan proses inflamasi yang terjadi (Penyakit kawasaki)

 

Beberapa prinsip dasar penggunaan imunisasi pasif

a)      Kemampuan antibody untuk segara bereaksi, secara umum efikasi tergantung lamanya terpapar  atau diberikan sebagai profilaksis.

b)      Faktor yang mempengaruhi metabolisme antibody/waktu paruh yang terbatas.

c)      Variasi efektivitas berbagai jenis gama globulin.

d)     Pengaruh supresi respons imu, pemberian antibody spesifik akan menghambat terbentuknys sntibodi.

Pilihan penggunaan dipengaruhi aleh jenis yang tersedia, jenis antibodi yang diinginkan, cara pemberian, dan waktu pemberian.

 

 

D            RESPON IMUN

  1.       Primer

Adalah respon imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibody yang terbentuk dari respon imun primer kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah di banding dengan respon imun sekunder, demikian pula afinitasnya.

  1. Sekunder

Antubody yang terbentuk terutama adalah IgG dengsn titer dan afinitas lebih tinggi dari pada respon imun primer karena sel memori yang terbentuk pada respon imun primer akan cepat mengalami transformasi blast, proliferasi dan diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan antibody. Respon imun sekunder diterapkan dengan memberikan vakasin berulang.

 

E             KEBERHASILAN IMUNISASI 

Tergantung dari:

a               Status imun penjamu

Kekebalan vaksinasi memerlukan maturasi imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, fungsi sel T (T Supresor) relative lebih menonjol dibandingkan dengan bayi atau anak karena fungsi imun masa intra uterin lebih di tekankan pada toleransi dan hal ini dapat terlihat pada saat bayi baru lahir. Pembentukan antibody spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang di bandingkan anak. Maka bila imunitas diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan jangan lupa memberikan imunisasai ulangan. Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, menderita defisiensi imun sekunder seperti penyakit keganasan. Demikian pula individu yang menderita penyakit sian gstemikseperti campak, tuberculosis akan mempengaruhi keberhasilan imunitas. Keadaan gizi buruk akan menurunkan fungsi sel system imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas seluler menurun dan imunitas humoral spesifitasnya rendah. Meskipun kadar globulin normal atau tinggi, immunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibody. Kadar komplemen juga berjurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respon terhadap vaksin atau toksoid berkurang.

 

b              Genetik penjamu

Interaksi sel imun di pengaruhi oleh variabilitas genetic. Secara genetic respon imun manusia dapat dibagi atas respon baik, cukup dan rendah terhadap antigen tertentu, maka tidak heran bila kita menemukan keberhasilan vaksin yang tidak 100%.

 

c               Kualitas dan Kuantitas vaksin

Vaksin adalah mikroorganisme atau toksoid yang di ubah sedemikian rupa sehingga patogenitas atau toksisitasnya hilang tetapi masih tetap mengandung sifat antigenitas. Faktor kualitas dan kuantitas vaksin seperti pemberian, dosis, frekuensi pemberian dan jenis vaksin.

a)      Cara pemberian vaksin

Akan mempengaruhi respon yang timbul. Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal disamping sistemik, sedangkan vaksin polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja.

b)      Dosis vaksin

Terlalu tinggi atau terlalu rendah juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Dosis terlalu tinggi akan menghambat respon imun yang diharapkan, sedang dosis yang terlalu rendah tidak merangsang sel-sel imunokompeten.

c)      Frekuensi pemberian

Juga mempengaruhi respon imun yang terjadi. Sebagimana telah kita ketahui, respon imun sekunder menimbulksn sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Disamping frekuensi, jarak pemberianpun akan mempengaruhi respon imun yang terjadi. Bila pemberian vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar antibody spesifik yang masih tingggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibody spesifik yangi masih tinggi sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten. Bahkan dapat terjadi apa yang dinamakan reaksi Arthus, yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Karena itu pemberian ulang (booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji klinis.

 

d)     Jenis vaksin

Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun lebih baik dibandingkan vaksin mati atau yang inaktivasi (killer atau anactivatid) atau bagian (komponen) dari mikroorganisme. Rangsangan sel Tc memori membutuhkan suatu sel yang terinfeksi, karena itu di butuhkan vaksin hidup.

 

 

F             MACAM IMUN

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

DepKes (2000) menetapkan bahwa ada tujuh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi:

  1. Tuberkulosis:
    Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
    Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
    Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya.
    Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
    Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Imunisasi yang dapat mencegah penyakit ini adalah BCG.

 

  1. Difteri

Penyakit infeksi ini disebabkan oleh Corynebakterium dhyptheriae tipe gravis , milis dan intermedius, yang menular melalaui oercikan ludah yang tercemar. Anak ang terkena difteri akan menunjukkan gejala ringan sampai berat. Kematian dapat terjadi apabila gagal jantung dan obstruksi jalan nafas yang tidak bias dihindarkan. Difteri dapt menjadi endemic pada linhkungan masyarakat yang social ekonominya rendah karena banyak difteri kulit yang diderita anak-anak dan menukar dengan cepat. Imunisasi ang diberikan untuk mencegah penyakit ini adalah DPT pada anak dibawah satu tahun  (imunisasi dasar) dan DT pada anak kelas 1 dan VI SD (booster)

 

 

  1. Pertusis

Penyakit ini disebabkan oleh Bordetella pertusis denagn penularan melalui droplet. Bahaya dari pertusis adalah batuk pilek, kemudian pada hari ke 10 batuk bertambah berat dan sering kali disertai muntah. Imunisasi DPT adalah salah satu cara untuk pencegahan ang dilakukan karena kekebalan ibu tidak bersifat protektif, (DepKes, 2000)

 

  1. Tetanus

Penyakit infeksi ini disebabkan oleh Mycrobacterium tetani yang berbentuk spora masuk kedalam luka terbuka, berkembang biak secara anaerobic, dan membentuk toksin. Tetanus yang khas terjadi pada usia anak adalah tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum dapat menimbulkan kematian karena terjadi kejang, sionosis dan henti napas. Gejala awal dengan mult mecucu dan bayi tidak mau menyusu. Kekebalan pada penyakit ini hanya diperoleh dengan imunisasi atau vaksin lengkap. Imunisasi ang diberikan tidak hanya DPT pada anakn tetapi juga TT pada calon pengantin (TT caten), TT pada ibu hamil yang diberikan saat antenatal care (ANC), dan DT pada saat anak sekolah dasar kelas I dan VI.

 

  1. Poliomielitis

Penyebab infeksi ini adalh virus polio tipe 1, 2 dan 3, yang menyerang myelin atau serabut otot. Gejala awal tidak jelas, dapat timbul gejala ringan dan infeksi pernafasan atas (ISPA), kemudian timbul gejala paralis yang bersifat flaksid yang mengenai sekelompok serabut otot sehingga timbul kelumpuhan. Kelumpuhan dapat terjadi pada anggota badan, saluran napas dan otot menelan. Penularan penyakit ini adalah melalui droplet atau fekal, dan reservoirnya adalah manusia yang menderita polio. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan imunisasi dengan menggunakan vaksinasi polio, bahkan dapat eradikasi dengan cakupan polio 100%.

 

 

  1. Campak

Penyakit infeksi ini adalah virus morbilli yang menular melalui droplet. Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian telinga, dahi dan menjalar kewajah dan anggota badan. Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivitis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh , kulit akan tampak seperti bersisik. Imunisasi diberikan pada anak usi 9 bulan dengan rasional kekebalan dari ibu terhadap penyakit  campak berangsur akan hilang sampai usia 9 bulan.

 

  1. Hepatitis B

Penyakai infeksi ini disebabkan oleh virus hepatitis tipe B menyerang kelompok resiko secara vertical yaitu bayi dan ibu pengidap, sedangkan secara horizontal tenaga medis dan paramedic, pecandu narkotika pasien hemodialisis, pekerja laboratorium, pemakai jasa atau petugas akupuntur.. Gejala yang dapat muncul tidak khas, seperti anoreksia, mual dan kadang-kadang ikterik. Sejak tahu 1992 vaksin hepatitis B menjadi bagian dari program di Indonesia walaupun belum merata di semua propinsi dapat menjalankannya karena harga vaksin yang cukup mahal sehingga dilakukan secara bertahap. Imunisasi hepatitis B diberikan pada bayi 0-11 bulan dengan maksud untuk memutus rantai penularan dari ibu ke bayi.

 

 

G            JENIS VAKSIN

§     Vaksin hidup yang dilemahkan. Beberapa vaksin, seperti vaksin untuk measles (campak), mumps (gondongan) dan chickenpox (varicella), menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan. Vaksin jenis ini mengakibatkan reaksi antibodi yang kuat, dan kadang-kadang hanya membutuhkan satu dosis untuk mendapatkan kekebalan seumur hidup.

§   Vaksin Inaktifasi. Jenis vaksin lainnya yakni berasal dari bakteri atau virus yang        telah dimatikan (di-inaktifasi). Vaksin polio dibuat dengan cara ini. Vaksin jenis ini pada umumnya lebih aman dari vaksin hidup karena organisme penyebab penyakit tersebut tidak dapat bermutasi kembali menjadi penyebab penyakit, seperti statusnya sebelum dimatikan.

§  Vaksin Toxoid. Beberapa jenis bakteri menyebabkan sebuah penyakit dengan cara  memproduksi toksin yang menyerang dalam aliran darah. Vaksin toxoid, seperti vaksin difteri dan tetanus, menggunakan toksin dari bakteri yang telah ‘diamankan’ untuk memberikan kekebalan terhadap toksin.

§    Acellular and Subunit Vaccines. Vaksin jenis ini dibuat dengan hanya menggunakan bagian dari suatu virus atau bakteri. Vaksin hepatitis dan vaksin Haemophilus influenzae type B dibuat dengan cara ini.

 

 

H            JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI

 

        Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004*

 (* Revisi September 2003)

 

Vaksin

Umur pemberian Imunisasi

Bulan

Tahun

Lhr

1

2

3

4

5

6

9

12

15

18

2

3

5

6

10

12

  Program Pengembangan Imunisasi (PPI, diwajibkan)
  BCG
  Hepatitis B

1

2

3

  Polio

0

1

2

3

4

5

  DTP

1

2

3

4

5

6 dT atau TT

  Campak

1

2

  Program Pengembangan Imunisasi Non PPI (Non PPI, dianjurkan)
  Hib   

1

2

3

4

  MMR 

1

2

  Tifoid

Ulangan, tiap 3 tahun

  Hepatitis A

Diberikan 2x, interval
6 – 12bl

  Varisela 

 

 

 

Keterangan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI, periode 2004:

Umur Vaksin Keterangan
Saat lahir Hepatitis B-1 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Polio-0

  • HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah kahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBIg o,5 mlbersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBIg 0,5 ml, sebelum bayi berumur 7 hari.
  • Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi bary lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi di pulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)
1 bulan Hepatitis B-2 Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan
0-2 bulan BCG BCG dapat diberikan sejak lahi. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan pada uji tuberculin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberculin negative.
2 bulan DPT-1 

 

 

Hib-1

 

 

Polio-1

 

  • DPT-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DPT-1 diberikan secara kombinasi denagn Hib-1 PRP-T)
  • Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikandengan DPT-1
  • Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan  DPT-1
4 bulan DPT-2 

 

Hib-2

 

Polio-2

  • DPT-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T)
  • Hib-2 dapat diberikan terpisahatau dikombinasikan dengan DPT-2
  • Poli-2 diberikan bersamaan dengan DPT-2
6 bulan DPT-3 

Hib-3

 

 

Polio-3

 

Hepatitis B-3

  • DPT-3 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hb-3 ( PRP-T)
  • Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan
  • Polio-3 diberikan bersamaan dengan DPT-3
  • HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respon imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan
9 bulan Campak-1
  • Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pad aumur 15 bulan , campak-2 tidak perlu diberikan.

 

15-18 bulan MMR 

 

Hib-4

  • Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan.
  • Hib-4 dibrikan pada 15 bulan (PRP-T ayau PRP-OMP)
18 bulan DPT-4Polio-4
  • DPT-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DPT-3
  • Polio-4 diberikan bersamaan dengan DPT-4

 

2 tahun Hepatitis A
  • Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan 2 kali dengan interval 6-12 bulan.

 

2-3 tahun Tifoid
  • Vaksin tifoid polisarida injeksi direkomendasikanuntuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu di ulang setiap 3 tahun.

 

5 tahun DPT-5Polio-5

 

  • DPT-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap)
  • Polio-5 diberikan bersamaan dengan DPT-5

 

6 tahun MMR
  • Diberikan untuk cacth-up immunization pada anak belum mendapatkan MMR-1

 

10 tahun dT/TT 

 

Varisela

 

  • Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun
  • Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun

 

 

 

I               CARA KERJA DAN EFEK SAMPING

 

  1. a.       Vaksinasi BCG

BacilleCalmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapat basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.

Vaksin BCG tidak mencegah infeksi tuberculosis tetapi mengurangi risiko tuberculosis berat seperti meningitistuberkulosa dan tuberculosis milier. Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan. Efek proteksi bervariasi antara 0-80° %. Hal ini mungkin karena vaksin yang dipakai, lingkungan dengan Mycobacterium atipik atau faktor pejamu (umur, keadaan gizi, dll)

Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk anak, 0,05 ml untuk bayi baru lahir. BCG sebaiknya diberikan pada deltoid kanan, sehingga bila terjadi limfadenitis (aksila)lebih mudah terdeteksi. BCG sebaiknya diberikan pada umur < 2 bulan. BCG sebaiknya diberikan pada anak dengan uji Mantoux (tuberculin) negative.

Efek samping dari pemberian vaksin BCG :

  •    Pada tempat penyuntikan terjadi ulkus yang lama sembuh. Hal ini terutama      bila terjadi suntikan tidak tepat intrakutan, melainkan subkutan
  •    pembengkakan kelenjar regional, yang lambat laun dapat pecah dan kemudian terbentuk fistel dan ulkus.
  •    Infeksi sekunder dari ulkus

Kontraindikasi BCG :

  1. reaksi uji tuberculin > 5 mm
  2. sedang menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi, imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat imuno-supresi, mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau system limfe.
  3. anak menderita gizi buruk
  4. sedang menderita demam tinggi
  5. menderita infeksi kulit yang luas
  6. pernah sakit tuberculosis
  7. kehamilan

Rekomendasi

v  BCG diberikan pada bayi <  2 bulan

v  Pada bayi yang kontak erat dengan penderita TB dengan BTA(+3) sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu, kalau kontaknya sudah tenang dapat diberi BCG.

v  BCG jangan diberikan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi, misalnya HIV, gizi buruk dan lain-lain.

 

  1. b.        Hepatitis B

v  Penularan pada umumnya terjadi melalui :

  •  Inokulasi parenteral, melalui alat-alat kedokteran, darah, ataupun     jaringan .
  • hubungan seksual
  • dari ibu kepada bayinya, pada umumnya terjadi pada proses kelahiran, dapat pula melalui transplasental, atatu pad masa postnatal melalui ASI
  • penularan horizontal antar anak, walaupun sangat jarang.

v  Cara kerja melalui imunisasi pasif dan imunisasi aktif.

Imunisasi  pasif

Imunisasi pasif dilakukan dengan pemberian immunoglobulin. Diberikan baik sebelum terjadinya paparan (preexposure) maupun setelah terjadinya paparan (postexposure). Dapat dilakukan dengan memberikan IG/ISG ( Immune Serum Globulin) atau HBIG (Hepatitis B Immune Globulin)

Indikasi utama pemberian imunisasi pasif  ini ialah,

  1. Paparan dengan darah yang ternyata mengandung HbsAg, baik melalui kulit maupun mukosa.
  2. Paparan seksual dengan mengidapHbsAg (+)
  3. Paparan perinatal, ibu HbsAg(+). Imunusasi pasif harus diberikan sebelum 48 jam.

v  Dosis.

Pada kecelakaan jarum suntik: 0,06 ml/kg, dosis maksimal 5 ml, intramuskuler, harus diberikan dalam jangka waktu 24 jam, diulang 1 bulan kemudian.

  • Paparan seksual: dosis tunggal 0,06 ml/kg, intramuskuler, harus diberikan dalam jangka waktu 2 minggu, dengan dosis maks 5 ml
  • Paparan perinatal: 0,5 ml intramuscular

 

Imunisasi aktif

Imunisasi aktif dapat diberikan dengan pemberian partikel HbsAg yang tidak infeksius. Dikenal dengan 3 jenis vaksin hepatitis B yaitu,

  • Vaksin yang berasal dari plasma
  • Vaksin yang dibuat dengan tehnik rekombinan (rekayasa genetic)
  • Vaksin polipeptida

v  Reaksi KIPI

Efek smping pada umumnya ringan, berupa nyeri, bengkak, panas mual, nyeri sendi maupun otot, walaupun demikian pernah pula dilaporkan adanya anafilaksis, sindrom Guillain-Barre, walaupun tidak jelas terbukti hubungan dengannya dengan imunisasi hepatitis B.

v  Kontra Indikasi

Sampai saat ini belum dipastikan adanya kontraindikasi absolute terhadap pemberian imunisasi hepatitis B, kecuali pada ibu hamil.

 

  1. c.         Difteria, Pertusis, Tetanus (DPT)
  • Difteri, untuk imunisasi  ini dipakai alum precipitated formol toxoid yang diberikan penyuntikan secara subkutan.
  • Pertusis (whooping cough, tussis quinta, batuk rejan), untuk imunisasi yang dipakai adalah alum prepitated vaccine(killed) secara subkutan.
  • Efek samping pertusis yaitu demam ringan, dapat terjadi komplikasi ensefalitis(sangat jarang terjadi) anak menderita hiperpireksia, status konvulsio dan penurunan kesadaran.
  • Tetanus,  untuk imunisasi dipakai alum precipitated formol toksoid yang disuntikan melalui subkutan.
  •  Pemberian pada ibu hamil 3 kali dalam 3 bulan terakhir.

 

  1. d.        Poliomyelitis

v  Vaksin polio ada 2 jenis yaitu

  1. Vaksin virus polio oral (oral polio vaccine = OPV)
  • Vaksin virus polio hidup oral yang dibuat oleh PT Biofarma Bandung berisi virus polio tipe 1,2,3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.
  • Ketika masuk melalui oral maka vaksin ini akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibody baik dalam darah maupun dalam epitel usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang dating masuk kemudian.
  1. Vaksin polio inactivated (inactived poliomyelitis vaccine = IPV)
  • Vaksin polio inactived yang dibuat oleh Aventis Pasteur berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid.
  • Pemberian dengan dosis 0,5 ml dengan suntikan subkutan dengan 3 kali berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memeberikan imunitas jangka panjang terhadap 3 macam tipe virus polio
  • Imunitas mucosal yang ditimbulkan oleh IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh OPV

v  Kejadian ikutan pasca imunisasi

Setelah vaksinasi sebagian resipien dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, dan sakit pada otot.

 

v  Kontra indikasi

  • Penyakit akut atau demam (temp.>38,5°C ),imunisasi harus ditunda.
  • Muntah atau diare, imunisasi ditunda
  • Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresi oral maupun suntikan juga pengobatan radiasi umum (termasuk kontak pasien)
  • Keganasan(untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan system retikuloendotelial( seperti limfoma, leukemia, dan penyakit Hodgkin) dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu.

 

J              CARA PENYIMPANAN

Vaksin yang disimpan dan diangkut secara tidak benar akan kehilangan potensinya. Instruksi pada lembar penyuluhan (brosur) informasi produk harus disertakan. Aturan umum untuk sebagian besar vaksin, bahwa vaksin harus didinginkan pada temperature 2-8° C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin (DPT, Hib, Hepatitis B dan Hepatitis A) akan tidak aktif bila beku. Pengguna dinasehatkan untuk melakukan kkonsultasi guna mendapatkan informasi khusus tentang masing-masing vaksin, karena beberapa vaksin (OPV dan vaksin yello Fever) dapat disimpan dalam keadaan beku.

.  

v  Penyimpanan vaksin membutuhkan suatu perhatian khusus karena vaksin merupakan sediaan biologis yang rentan terhadap perubahan temperature lingkungan.

v  Vaksin akan rusak apabila temperature terlalu tinggi atau terkena sinar matahari langsung seperti pada vaksin polio tetes dan vaksin campak. Kerusakan juga dapat terjadi apabila terlalu dingin atau beku seperti pada toksoid difteria, toksoid tetanus, vaksin pertusis (DPT, DT), Hib conjugated, hepatitis B, dan vaksin influenza.

v  Pada beberapa vaksin apabila rusak akan terlihat perubahan fisik. Pada vaksin DPT misalnya akan terlihat gumpalan antigen yang tidak bisa larut lagi walaupun dikocok sekuat-kuatnya.sedangkan vaksin lain tidak akan berubah penampilan fisik walaupun potensinya sudah hilang / berkurang.

v  Vaksin yang sudah dilarutkan lebih cepat rusak. Dengan demikian kita harus yakin betul bahwa cara penyimpanan yang kita lakukan sudah benar dan menjamin potensi vaksin tidak akan berubah.

 

CATATAN :

v  Waktu penyimpanan yang dinyatakan pada table 18 menggambarkan rekomendasi maksimal ( bukan minimal)

v  Pada setiap tahapan rantai dingin maka transportasi vaksin dilakukan pada temperature 0 sampai 8°C

v  Vaksin polio boleh mencair dan membeku tanpa membahayakan potensi vaksin.

v  Vaksin DPT, DT, dT, hepatitis-B dan Hib akan rusak bila membeku pada temperature 0° (vaksin hepatitis-B akan membeku sekitar -0,5°C)

v  Sekali potensi vaksin akan hilang akibat panas atau dingin maka potensinya tidak dapat dikembalikan walaupun temperature sudah disesuaikan kembali.

v  Apabila vaksin kehilangan potensinya akibat panas, vaksin tidak berubah penampilan fisiknya sehingga tidakmungkin melihat apakah vaksin telah kehilangan potensinya tanpa melakukan pemeriksan laboratorium.

 

Lemari Pendingin untuk Penyimpanan Vaksin Yang Aman

 Thermometer ruangan di bagian tengah lemari pendingin harus ada, temperature dicek, dan dicatat secara teratur setiap hari.

v  Lemari pendingin harus ditutup rapat, tidak boleh ada kebocoran pada sekat pintu.

v  Lemari pendingin tidak boleh dipakai untuk menyimpan makanan atau minuman.

v  Botol atau plastic berisi es atau air garam (1-2 sendok makan per liter) diletakkan di bagian bawah lemari pendingin untuk mempertahankan keseimbangan temperature dalam ruang lemari pendingin, terutama apabila sedang tidak ada arus listrik.

v  Lemari pendingin boleh dibuka seminimal mungkin.

v  Defrosting harus dilakukan secara teratur pada lemari pendingin yang tidak frost free untuk mencegah terbentuknya gumpalan es di ruang pembeku.

v  Letakkan vaksin di rak bagian atas atau tengah, jangan di rak bagian bawah atau di daun pintu karena perubahan temperature terlalu besar apabila pintu dibuka-tutup terlalu sering (>10°C)

v  Jangan memenuhi lemari pendingin dengan vaksin secara berlebihan karena akan mengganggu sirkulasi udara dingin dalam lemari pendingin.

v  Selama dilakukan defrosting atau pembersihan lemari pendingin, maka vaksin harus dipindahkan ke lemari pendingin lainnya atau disimpan dalam kotak berisolasi yang berisi es atau ice pack.

      Penanganan Vaksin

Prosedur yang harus diperhatikan waktu menggunakan vaksin

v   Vaksin yang sudah kadaluarsa harus segera dilkeluarkan dari lemari pendingin untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

v  Vaksin harus selalu ada di dalam lemari pendingin sampai saatnya dibutuhkan, semua vaksin yang sudah tidak digunakan lagi harus dikembalikan ke dalm lemari pendingin.

v  Di lemari pendingin, vaksin yang sudah terbuka atau sedang dipakai diletakkan dalam suatu wadah/ tempat khusus (tray), sehingga dapat dikenali.

v  Vaksin BCG yang sudah keluar lemari pendingin selama pemeriksaan klinik harus dibuang pada saat akhir klinik.

v  Vaksin polio oral dapat cepat dicairkan dan cepat pula dibekukan kembali sampai 10 kali tanpa kehilangan potensi vaksin.

v  Untuk vial vaksin multidosis yang mengandung bakteriostatik misalnya DPT, vial yang terpakai dibuang bila sudah kadaluarsa atau terkontaminasi.

v  Vaksin yang tidak mengandung bakteriostatik segera dibuang dalam waktu 24 jam apabila sudah terpakai.

v  Vaksin campak dan MMR yang sudah dilarutkan agar dibuang setelah 8 jam.

v  Vaksin Hib yang sudah dilarutkan harus dibuang setelah 24 jam.

Catatan

v   Vaksin yang sangat tidak stabil pada temperature ruangan

  •    vaksin polio oral
  •    larutan vaksin campak
  •    larutan vaksin BCG

v  Vaksin yang harus dilindungi dari sinar matahari

  • Vaksin polio oral
  • Larutan vaksin BCG
  • Larutan vaksin MMR

v  Vaksin yang tidak boleh beku

  • DPT, Td, DT, pertusisi, tetanus,
  • Hib
  • Hepatitis A, Hepatitis B,
  • Influenza
  • Pneumokok

v  Cairan pelarut tidak boleh beku, bisa pecah, dan adjuvant-nya akan rusak.

 

 

K            TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM PROGRAM IMUNISASI

Sebelum melakukan imunisasi, dianjurkan mengikuti tatacara sebagai berikut:

  1.    Memberitahukan secara rinci tentang resiko vaksinasi dan resiko apabila tidak imunisasi
  2. Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi ikutan yang diharapkan.
  3.    Baca dengan teliti informasi dengan produk (vaksin) yang akan diberikan jangan lupa mengenai persetujuan yang telah diberikan pada orangtua.
  4. Melakukan tanya jawab dengan orangtua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi.
  5.    Tinjau kembali apakah indikasi kontra terhadap vaksin yang akan diberikan.
  6.    Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan.
  7. Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik.
  8. Periksa vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan; periksa tanggal kadaluwarsa dan catat hal-hal istimewa, misalnya perubahan warna menunjukkan adanya kerusakan.
  9. i.           Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal (catch up vaccination)
  10.    Berikan vaksin dengan teknik yang benar. Lihat uraian di bawah mengenai pemilihan jarum suntik, lokasi suntikan dan posisi penerimaan vaksin.

 

LAMPIRAN

 

  1. A.    IMUNISASI COMBO

Vaksin telah terbukti memiliki peranan yang sangat besar dalam mengendalikan penyakit infeksi. Keampuhan vaksin ini telah teruji. Ambil contoh vaksin cacar. Vaksin ini terbukti mampu membasmi penyakit cacar alias variola dari muka bumi, sehingga pada dekade 80-an WHO  telah    mendeklarasikan         Dunia      Bebas cacar.

Karena itu, tidak mengherankan jika pada 1974 organisasi kesehatan dunia WHO mempropagandakan program Expanded Program on Immunization (EPI). Melalui program tersebut, WHO merekomendasikan imunisasi untuk enam penyakit infeksi yang ada pada awal kehidupan manusia, yaitu polio, difteri, tetanus, pertusis, campak, dan                  tuberkulosis.

Namun, pada tahun 1990-an, WHO menambah lagi rekomendasinya, yaitu pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit hepatitis B. Dampaknya, jumlah suntikan yang harus diterima para bayi meningkat. Bahkan, kadang kala, demi mengejar cakupan imunisasi, tak jarang bayi harus menerima tiga jenis vaksinasi sekaligus, yaitu DPT, hepatitis B, dan polio. Hal ini mendorong PT Bio Farma (Persero) untuk memproduksi vaksin kombinasi yang terdiri dari beberapa antigen. Melalui vaksin Combo yang terdiri atas kombinasi vaksin            difteri, pertusis,      tetanus, dan     hepatitis           B.

Setelah melalui proses penelitian, BUMN ini dapat menghasilkan vaksin kombinasi tersebut. Hal ini memberi harapan baru bahwa untuk mendapatkan vaksin kombinasi ini kita tidak perlu lagi mendatangkan dari luar negeri.
Kelebihan vaksin kombinasi dibandingkan vaksin tunggal yang praktis, ekonomis, dan aman merupakan alasan tepat menjadikan vaksin kombinasi ini sebagai pilihan untuk imunisasi   balita   kita.
Praktis, karena cakupan imunisasi akan lebih mudah dan cepat tercapai. Ekonomis, karena jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan berkurang, jumlah pemakaian jarum suntik berkurang, juga biaya transpor kegiatan pengiriman vaksin dapat dikurangi.
Aman, karena berkurangnya jumlah suntikan dari enam menjadi tiga sehingga kemungkinan timbulnya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) akibat suntikan juga bias    dikurangi.
Kegiatan penelitian pembuatan vaksin Combo di Bio Farma dimulai pada 1999 dengan melibatkan usaha keras dari karyawan Bio Farma dan Tim Vaksin Combo. Dua tahun kemudian, kegiatan penelitian vaksin ini masuk ke tahap uji klinis (clinical trial)         terhadap          manusia.
Uji klinis terhadap manusia ini merupakan tahap yang wajib dilalui oleh setiap produk baru     yang    akan      dipasarkan.

Uji klinis vaksin Combo dimulai sejak Mei 2002 hingga Mei 2003 di tiga tempat, yakni Bandung (Jabar), Bogor (Jabar), dan Banjar Baru (Kalsel). Pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan uji klinis ini adalah Litbangkes Jakarta, Bagian Anak RSHS, dan      Dinas   Kesehatan       Banjar  Baru.

Pengujian yang dilakukan terhadap 730 bayi-bayi sehat tersebut melibatkan para ahli dari Indonesia seperti Prof Dr Sri Rezeki, SpA(K), PhD, Prof Bambang Sutrisna, MHSc, Prof Siti Boedina SpPK, DR Dr, Agus Purwadianto SH, MSi, SpF, DR Dr Julitasari, Dr Kusnandi Rusmil SpA(K), MM, Edi Sampana SKM, MKEs, dan Dra Muljati     Prijanto.

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa vaksin Combo produk Bio Farma mampu menimbulkan seroproteksi (kekebalan) terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B yang sama baiknya dengan seroproteksi yang diberikan oleh vaksin DPT atau hepatitis B yang diberikan         dalam  dosis    tunggal.
Selanjutnya, hasil uji klinis vaksin Combo DPT-HB dilaporkan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Akhirnya, pada tanggal 30 Desember 2003, vaksin Combo DPT-HB tersebut memperoleh persetujuan registrasi dari BPOM.
Setelah mendapat persetujuan registrasi, langkah berikutnya yang dilakukan Bio Farma adalah memasarkan vaksin ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Namun, untuk ekspor vaksin tersebut, Bio Farma masih harus bersabar untuk memperoleh WHO Recognition sebagai salah satu persyaratannya.

 

  1. B.     IMUNISASI POLIO

Apakah polio itu? Poliomyelitis (polio) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus sebagian besar menyerang anak-anak berusia dibawah 5 tahun. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi.

Virus polio masuk kedalam tubuh melalui mulut, dari air atau makanan yang tercemar makanan kottoran penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan. Virus ini menyerang sitem sarafdan bias menyebabkan kelumpuhan seumur hidup alam waktu beberapa lama.

Bagaimana gejala polio?

  • Demam
  • Rasa lelah
  • Sakit kepala
  • Muntah-muntah
  • Rasa kaku pada leher
  • Rasa sakit pada kaki atau tangan

Bagaimana mencegah dan emebasmi polio dari muka bumi?

Satu-satu cara mencegah dan membasmi polio adalah melalui pemberian vaksin polio, yaitu:

  • Pemberian imunisasi polio lengkap kepada bayi (usia kurang dari 12 bulan)elalui program imunisasi rutin atau
  • Pemberian imunisasi polio kepada bayi dan balita (usia 0 – 59 bulan) melalui imunisasi massal, yang disebut PIN (Pekan Imunisasi Naisonal)

 

 

 

Apakah PIN 2006 itu?

PIN (Pekan Imunisasi Nasional) adalah hari-hari yang dicanangkan secara nasional untuk memberikan imunisasi polio dengan dua tetes vaksin polio kepada semua bayi dan balita ( usia 0-59 bulan). Adalah sangat penting bagi para orangtua untuk membawa setiap bayi dan balita ke pos PIN terekat untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan terhadap polio.

 

Apa vaksin polio aman?

Vaksin polio sangat aman dan efektif bagi anak-anak, bahkan yang sedang sakit.

Pastikan imunisasi polio diberikan kepada anak walupun mereka sedang sakit batuk, pilek atay diare. Dan pastikan pula anak anda memeperoleh imunisasi penuh, karena setiap dosis tambahan akan memberikan perlindungan lebih bagi anak-anak.

 

Mengapa perlu PIN lagi?

  • Setelah selama 10 tahun Indonesia bebas polio, penyakit ini kembali menyerang Indonesia dan telah melumpuhkan lebih dari 300 anak.
  • Virus polio mencari kelompok-kelompok anak-anak yang tidak terimunisasi di Indonesia.
  • Penyakit polio sangat menular. Satu orang anak yang belum diimunisasi beresiko menimbulkan penyakit polio pada anak-anak sekitarnya.

 

Bagaimana pelaksanaan Pin 2006?

  • PIN dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dalam dua putaran lanjutan. Putaran IV tanggal 27 Februari 2006 dan putaran V tanggal 12 April 2006
  • Pelayanan imunisasi polio dilakukan di pos PIN yang berlokasi di posyandu, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Rumah Sakit, dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya, baik pemerintah maupun swasta.
  • Tempat-tempat srategis lainnya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pos PIN, seperti terminal, stasiun, pasar, taman kanak-kanak, kelompok bermain, panti asuhan, dan tempat penitipan anak dengan dukungan sumber daya dari mesyarakat dan pemerintah daerah.
  • Pos PIN memberikan layanan imunisasi secara GRATIS.

Jangan ada lagi yang lumpuh seumur hidup karena polio, mari lindungi anak-anak kita dari polio.

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Imunisasi”

  1. Comments are closed.
Apr
19
2012