Morbili | HealthyEnthusiast

You are here: » Morbili

Morbili

Morbili
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Definisi

  1. Morbili adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. (Suriadi & Rita. Asuhan Keperawatan pada Anak. 2001).
  2. Morbili (campak, measles, rubeola) adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan gejala-gejala berupa eksatem akut, demam, radang, radang kataral selaput lendir, kemudian diikuti erupsi makula-papula yang berwarna merah dan diakhiri dengan deskuamasi dari kulit. (Nelson, Waldo. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC).

Etiologi

Penyebab morbili adalah virus morbili (measles) dan cara penularannya dengan droplet dan kontak langsung.

 

Patofisiologi

Virus masuk melalui kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus, dan konjungtiva, maka terjadi eksudat-eksudat yang serius dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus di sekitar kapiler. Masa inkubasi penyakit ini selama 10-20 hari

Click to download Pathway

 

Gambaran Klinis

Gejala penyakit ini dapat mendadak (akut) yang dibagi atas 3 stadium, yaitu :

  1. Stadium Katarals (prodromal)

Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari, disertai panas tubuh, malaise (lemah), batuk, fotofobia (silau), konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam timbul anantema (ruam pada selaput lendir).

Timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili tetapi jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi eritema. Lokalisasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Kadang-kadang terdapat makula halus yang kemudian menghilang sebelum stadium erupsi.

Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia. Secara klinis gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosa sebagai influenza.

  1. Stadium Erupsi

Koriza dan batuk-batuk bertambah, timbul enantema atau titik merah di palatum durum dan palatum molle. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadi eritema yang berbentuk makulla papula disertai meningkatnya suhu tubuh. Di antara makula terdapat kulit yang normal, mula-mula timbul di belakang pipi. Dalam 2 hari bercak-bercak menjalar ke muka, lengan atas dan bagian dada, punggung, perut, tungkai bawah, kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher belakang. Terdapat juga sedikit splenomegali serta sering pula disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan maktus digestivus.

  1. Stadium Konvalensi

Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri.

Selain hiperpigmentasi sering pula ditemukan kulit bersisik. Hiper-pigmentasi merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Suhu tubuh menurun sampai menjadi normal kecuali jika ada komplikasi.

 

E.     Penatalaksanaan Medik

Pengobatan bersifat simptomatis, yaitu :

-          Antipiretika bila suhu tinggi.

-          Sedativa

-          Obat batuk

-          Antibiotik diberikan bila terdapat infeksi sekunder.

-          Memperbaiki keadaan umum, pemberian vitamin A.

 

F.     Prognosis

Baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis buruk bila keadaan umumnya buruk atau anak yang sedang menderita penyakit kronik atau komplikasi.

 

 

I.         Pengkajian

Observasi umum :

-          Kaji kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan.

-          Inspeksi penampilan umum anak.

-          Perhatikan :

1)    Bernapas anak : sesak, batuk, coryza.

2)    Ruam pada kulit, konjungtivitis dan fotofobia.

3)    Suhu tubuh anak.

4)    Pola tidur anak.

5)    Pola eliminasi.

  1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

1)      Riwayat ibu hamil yang menderita morbili.

2)      Riwayat imunisasi.

3)      Riwayat kontak dengan penderita morbili.

4)      Riwayat pengobatan/upaya pengobatan.

  1. Pola nutrisi metabolik

1)      Apakah terjadi penurunan berat badan.

2)      Apakah ada alergi makanan.

3)      Apakah anoreksia.

4)      Mual, muntah.

5)      Kaji makanan kesukaan untuk memodifikasi diet.

6)      Adakah gangguan pada alat pencernaan : bercak koplik.

  1. Pola eliminasi

1)      Diare

2)      BAK : volume, berapa kali sehari, kepekatan urin.

  1. Pola aktivitas dan latihan

1)      Kelemahan

2)      Kebutuhan harian.

  1. Pola tidur dan istirahat

1)      Jumlah jam tidur

2)      Pemakaian obat tidur

3)      Lingkungan nyaman/tidak.

4)      Kebiasaan sebelum tidur.

  1. Pola persepsi dan kognitif

1)      Apakah anak rewel/cengeng/cemas.

2)      Penerimaan anak terhadap tindakan perawatan/medis.

  1. Pola peran dan hubungan sosial

1)      Hubungan dengan orangtua dan saudara

2)      Peran anak dalam keluarga

3)      Kecemasan orangtua

4)      Persepsi dan pengetahuan orangtua.

 

II.      Diagnosa Keperawatan, Hasil Yang Diharapkan dan Rencana Tindakan

Diagnosa keperawatan 1 :

Hipertermi sehubungan dengan proses infeksi virus morbili.

Hasil yang diharapkan :

-          Suhu badan kembali normal : 36-37oC

-          Pasien dalam keadaan nyaman

-          Tidak ada komplikasi akibat infeksi virus morbili.

Intervensi :

  1. Kaji temperatur tiap 4 jam atau lebih/kurang jika ada indikasi.
  2. Beri pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
  3. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
  4. Anjurkan banyak minum jika tidak ada kontraindikasi.
  5. Beri kompres hangat.
  6. Anjurkan anak untuk istirahat baring.
  7. Beri terapi sesuai program medik.

 

Diagnosa keperawatan 2 :

Pola napas yang tidak efektif sehubungan dengan batuk.

Hasil yang diharapkan :

-          Menunjukkan pola napas dan hasil AGD dalam batas normal.

-          Anak bebas dari tanda hiperkapnea, hipexia.

-          Bebas dari sianosis, penggunaan otot dada untuk bernapas.

Intervensi :

  1. Observasi pola napas anak, suara napas dan usaha anak untuk bernapas.
  2. Catat dan laporkan gejala takipnea, napas cuping hidung.
  3. Observasi warna kulit dan selaput lendir.
  4. Observasi sputum : warna, bau, sifat.
  5. Ajarkan napas mulut, teknik relaksasi dan latihan napas.
  6. Isap lendir bila perlu.
  7. Beri posisi semi fowler.
  8. Ciptakan lingkungan yang nyaman, tenang dan bersih.
  9. Beri terapi sesuai program medik : bronchodilator, anti tusif.

 

Diagnosa keperawatan 3 :

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan penurunan absorbsi usus.

Hasil yang diharapkan :

-          BB sesuai dengan usia

-          Turgor kulit elastis, lidah dan mukosa lembab.

Intervensi :

  1. Observasi kemampuan mekanis anak untuk menelan.
  2. Beri posisi semifowler.
  3. Kaji keadaan rongga mulut anak.
  4. Modifikasi makanan sesuai diit.
  5. Hindari tindakan yang menyakitkan seperti ambil darah/pasang infus menjelang waktu makan.
  6. Beri support/reward pada anak untuk menghabiskan porsi makan yang disajikan.
  7. Timbang BB sesuai program.
  8. Beri vitamin sesuai program medik.

 

Diagnosa keperawatan 4 :

Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan proses penyakit morbili.

Hasil yang diharapkan :

-          Permukaan kulit utuh, tidak ada kemerahan dan luka.

Intervensi :

  1. Observasi keadaan kulit selama masa perawatan.
  2. Kaji pola nutrisi dan cairan anak.
  3. Beri pakaian yang tipis dan menyerap keringat.
  4. Ganti pakaian dan alat tenun bila basah.
  5. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering.
  6. Beri terapi sesuai program medik.

 

 

 

 

Diagnosa keperawatan 5 :

Perubahan rasa nyaman : gatal-gatal sehubungan dengan reaksi virus morbili.

Hasil yang diharapkan :

-          Rasa nyaman terpenuhi : gatal-gatal berkurang dan teratasi.

-          Reaksi virus morbili kurang.

Intervensi :

  1. Kaji keluhan anak tentang gatalnya.
  2. Tentukan penyebab rasa gatal.
  3. Gunakan washlap dingin.
  4. Perhatikan kuku anak bila panjang digunting, untuk mencegah iritasi kulit akibat garukan.
  5. Beri/ciptakan rasa nyaman.
  6. Jaga kelembaban kulit anak.
  7. Beri terapi sesuai program medik.

 

Diagnosa keperawatan 6 :

Kekurangan volume cairan sehubungan dengan diare.

Hasil yang diharapkan :

-          TTV normal, turgor kulit membran mukosa serta produksi urine dalam batas normal.

-          Muntah dan diare berkurang dan sembuh.

 

Intervensi :

  1. Kaji tanda dan gejala kekurangan volume cairan.
  2. Berikan cairan/minum dalam jumlah cukup.
  3. Monitor input dan output cairan.
  4. Timbang BB anak sesuai program.
  5. Kolaborasi terapi cairan dan antiemetik, anti diare bila diperlukan.

 

Diagnosa keperawatan 7 :

Gangguan persepsi sensori : penglihatan (photofobia) sehubungan dengan peradangan konjungtiva.

Hasil yang diharapkan :

-          Photofobia berkurang seiring proses penyembuhan infeksi.

-          Peradangan konjungtiva tanpa komplikasi.

Intervensi :

-          Kaji derajat gangguan.

-          Ciptakan lingkungan yang nyaman : hindari penerangan yang berlebihan.

-          Rawat mata ; bersihkan sekret tiap pagi.

-          Hindari penularan konjungtivitis.

-          Beri terapi sesuai program medik.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ball, Jane. Pediatric Nursing. Norwalk. Appleton  and Lange.

Nelson, Waldo. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran. Cetakan 1997.

Panitia SAK. Komisi Keperawatan PK. Sint Carolus. Standar Asuhan Keperawatan Pasien Anak : Morbili. Jakarta. 2000.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Jakarta. 2002.

Wong, Donna. 2004. Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Morbili”

  1. Comments are closed.
May
5
2012