Pemeriksaan Fisik pada Anak | HealthyEnthusiast

You are here: » Pemeriksaan Fisik pada Anak

Pemeriksaan Fisik pada Anak

Pemeriksaan Fisik pada Anak
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Pemeriksaan Fisik pada Anak

Physical examination merupakan tekhnik maneuver yang terdiri dari beberapa rangkaian, yang masing-masing anak memili sensitifitas yang berbeda baik fisik maupun psikologik. (Wong, 1993)

Pengkajian fisik adalah proses berkelanjutan yang dimulai selama wawancara, terutama dengan menggunakan inspeksi atau observasi. Selama pemeriksaan yang lebih formal, alat-alat untuk percusi, palpasi dan auscultasi ditambahkan untuk memantapkan dan menyaring pengkajian system tubuh. Seperti pada riwayat kesehatan, obyektif dari pengkajian fisik adalah untuk merumuskan diagnosa keperawatan dan mengevaluasi keefektifan intervensi terapeutik. (Wong, 2003)

Pengkajian merupakan tahap pertama dalam proses keperawatan, dimana tiap tahap perawat melakukan pengkajian data yang diperoleh dari hasil wawancara, laporan teman sejawat, catatan keperawatan, atau catatan kesehatan lain dan pengkajian fisik. (Robert Priharjo, 1993)

 

  1. B.     TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK

Urutan yang biasa dalam pemeriksaan fisik pasien adalah head to toe. Fungsi utama dilakukan secara sistematic yaitu memberikan guideline umum pengkajian setiap bagian tubuh yang kecil dalam pemeriksaan. Standar pencatatan dan pelaporan juga merupakan fasilitas penukaran informasi antar tim professional yang lain. Dalam pemeriksaan fisik anak harus memperhatikan kebutuhan perkembangan mental anak, walaupun pemeriksaan ini diikuti perekaman dengan menggunakan model head to toe. Penggunaan perkembangan mental dan kronologi umur sebagai kriteria utama dalam pengkajian tiap sistem tubuh akan memudahkan atau menyelesaikan dari beberapa tujuan  :

  1. Meminimalkan stres dan ansietas yang berhubungan dengan pengkajian pada bagian-bagian tubuh yang berbeda
  2. Memelihara dan membina hubungan saling percaya antara perawat, anak dan orang tua
  3. Memberikan persiapan yang maksimum bagi anak
  4. Memberikan perlindungan esensial terhadap hubungan antara orang tua, anak, terutama dengan anak kecil
  5. Memaksimalkan keakuratan dan realibilitas hasil pengkajian

Pendekatan umum pemeriksaan fisik anak

Pemeriksaan fisik lebih dari suatu rangkaian latihan tekhnikal. Hal itu merupakan tuntutan yang sama sensitifnya dengan kebutuhan fisik dan psikologi anak yang sulit dikenal dan tidak sama dengan yang lainnya. (Wong, 1993)

  1. C.    PERSIAPAN ANAK

Walaupun pemeriksaan fisik dilakukan dengan prosedur yang tidak menyebabkan rasa sakit, tetapi kepada seorang anak dengan menggunakan jari, telapak tangan, lengan, pemeriksan dalam telinga dan mulut, menekan abdomen dan mendengarkan dada dengan permukaan metal yang dingin dapat menimbulkan stresful. Pemeriksaan fisik harus menjadi hal yang menyenangkan dan sama baik hasilnya. Pada umunya bayi dan anak kecil akan merasa lebih aman dan berkurang rasa takutnya dengan kehadiran orang tua, terutama ibunya. Pada bayi yang lebih besar sudah mulai takut kepada orang yang belum di kenalnya, pendekatan menjadi lebih sulit. Dalam hal ini sebaiknya pemeriksa bersifat informal, sedikit santai. Pemeriksaan dapat di mulai pada waktu bayi masih dalam pangkuan ibu. Lambat laun ia dipindahkan ke meja periksa sambil dipegang-pengang dagunya, pipinya, atau diajak bicara dengan kata-kaa manis, sedangkan ibunya memengang tungkainya.

Misalnya dengan anak  preschool dan yang lebih tua, perawat dapat menggunakan gambar atau boneka untuk membantu anak belajar tentang tubuh mereka (Vessey, Braith waite, and Weidman, 1990). Tekhnik ”paper doll” merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengajarkan anak tentang bagian tubuh mereka yang diperiksa. Kesimpulannya adalah saat kunjungan anak dapat mebawa paper doll sebagai pengingat pengalaman. Banyak permintaan anak yang sangat kooperatif ketika orang tua bersama mereka. Hal ini ada yang menyebabkan, bagaimanapun saat anak yang lebih tua terutama adolosence lebih memilih diperiksa sendiri seperti pada pemeriksaan genetalia, sering anak yang sedang diperiksa juga disertai saudara kandungnya yang dapat menyebabkan ketidakteraturan karena ada boredom.

Sebuah taktik ntuk membantu mareka adalah memberikan mereka kesempatan untuk mencoba alat pemeriksaan seperti stetoskop atau spatel lidah dan memuji anak atas ”bantuannya” selama pemeriksaan.

 

  1. D.    PERSIAPAN ALAT
  1. Pengukur/ meteran/ penggaris/ stadiometer
  2. Penimbang BB
  3. Thermometer dan speculum
  4. Optalmoskop
  5. Arloji berdetik
  6. Manset dan stetoskop
  7. Oksilometri
  8. Peniti, kapas, objek dingin/ hangat
  9. Spatel lidah
  10. Garpu tala
  11. Snellen
  12. Senter
  13. Gambar warna

 

  1. E.     TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK SESUAI USIA

POSISI

URUTAN

PERSIAPAN

BayiSebelum dapat duduk sendiri:

Terlentang atau telungkup,atau lebih baik di pangkuan orang tua ;sebelum 4 sampai 4 bulan :dapat ditempatkan diatas meja pemeriksaan.

Setelah dapat duduk sendiri:gunakan posisi duduk di pangkuan orang tua jika mungkin.

Jika diatas meja, tempatkan dan pandangan penuh pada orang tua.

-        Bila tenang, auskultasi jantung, paru, abdomen.

-        Catat frekuensi jantung dan pernafasan.

-        Palpasi dan perkusi area yang sama.

-        Lanjutkan dengan arah biasa, kepala ke kaki.

-        Lakukan prosedur traumatic di bagian akhir mata, telinga, mulut (sambil menangis).

-        Munculkan reflek-refleks saat bagian tubuh tersebut di periksa.

-        Lakukan pemeriksaan reflek Moro di bagian akhir.

-    Lepaskan semua pakaian bila suhu ruangan memungkinkan.

-    Biarkan popok terpasang pada bayi laki-laki.

-    Tingkatkan kerja sama dengan distraksi, obyek terang, bunyi-bunyi dengan mulut, bicara.

-    Berikan kotak kecil di kedua tangan bayi yang lebih besar, sampai pelepasan volunter berkembang di akhir tahun pertama, bayi tidak mampu menggenggam obyek (Misal:stethoscope, otoscop) (farber, 1991).

-    Tersenyum pada bayi; gunakan suara yang lembut dan perlahan.

-    Tenangkan dengan sebotol air gula atau makanan.

-    Minta bantuan orang tua untuk memegang bayi pada pemeriksaan telinga, mulut.

-    Hindari gerakan yang kasar dan mengejutkan.

Usia bermainDuduk atau berdiri diatas / disamping orang tua.

Telungkup atau terlentang dipangkuan orang tua.

-          Inspeksi area tubuh, melalui permainan “hitung jari” gelitik jari kaki.

-          Gunakan kontak fisik uang minimal diawal pemeriksaan.

-          Kenalkan alat dengan perlahan.

-          Auskultasi, percusi, palpasi bila tenang.

-          Lakukan prosedur traumatic terakhir (sama pada bayi).

-    Minta orang tua melepaskan pakaian bagian luar.

-    Lepaskan pakaian dalam saat bagian tubuh tersebut diperiksa.

-    Azinkan untuk melihat-lihat alat, menunjukkan penggunaan alat biasanya tidak efektif.

-    Jika tidak kooperatif, lakukan prosedur dengan cepat.

-    Gunakan restrain bila tepat, minat bantuan orang tua.

-    Bicarakan pemeriksaan bila daapt bekerja sama; gunakan kalimat pendek.

-    Berikan pujian untuk perilaku kooperatif.

Anak pra sekolahLebih suka berdiri atau duduk.

Biasanya kooperatif dengan posisi telungkup/ terlentang.

 

-        Jika koopertif, lakukan dari kepala ke jari kaki.

-        Bila tidak kooperatif, lakukan seperti pada anak usia bermain.

 

-          Minta anak melepaskan pakaiannya.

-          Izinkan untuk menggunakan celana dalam bila malu.

-          Berikan kesempatan untuk melihat alat; tunjukkan dengan singkat penggunaannya.

-          Buat “cerita” tentang prosedur : “saya mau melihat seberapa kuat otot-ototmu” (tekanan ah).

-          Gunakan tekhnik boneka kertas.

-          Beri pilihan jika mungkin.

-          Hargai kerja sama; gunakan pernyataan positif: “buka mulutmu”.

Anak usia sekolahMenyukai duduk

Kooperatif hampir semua posisi anak kecil menyukai kehadiran orang tua.

Anak yang lebih besar menyukai privasi

 

-    Lakukan dari kepala ke kaki.

-    Pemeriksaan genetalia boleh dilakukan paling akhir pada anak yang lebih besar.

-    Hargai kebutuhan privasi.

 

-          Minta untuk melepas pakaian sendiri.

-          Biarkan untuk memakai celana dalam.

-          Beri skort untuk dipakai.

-          Jelaskan tujuan peralatan dan kepentingan prosedur, seperti otoskop untuk meliaht gendang telinga, yang diperlukan untuk mendengar.

-          Ajarkan tentang fungsi tubuhnya dan perawatannya.

RemajaSama dengan anak usia sekolah.

Berikan pilihan tentang keberadaan orang tua.

-    Sama dengan anak usia sekolah yang lebih besar. -          Izinkan melepas pakaian sendiri.

-          Beri skort.

-          Buka hanya area yang akan diperiksa.

-          Hargai kebutuhan privacy.

-          Jelaskan temuan-temuan selama pemeriksaan. “ototmu kuat dan padat”.

-          Beri keterangan tentang perkembangan seksual: “payudaramu sedang berkembang seperti seharusnya”.

-          Tekankan kenormalan perkembangan.

-          Periksa genetalia seperti bagian tubuh yang lain; dapat dilakukan di akhir.

 

  1. F.     PENGKAJIAN FISIK BAYI BARU LAHIR

PENGKAJIAN

TEMUAN BIASA

VARIASI UMUM/ ABNORMALITAS MINOR

TANDA POTENSIAL KEGAWATAN/ ABNORMALITAS UTAMA

Pengukuran umum -    Lingkar kepala 33 sampai 35 cm-    Lingkar dada 30,5 sampai 33 cm

-    Lingkar kepala harus kira-kira 2 sampai 3 cm lebih besar dari lingkar dada

-    Panjang kepala ketumit 48 sampai 53 cm

-    Berat badan lahir 2700 sampai 4000g

-    Molding setelah kelahiran dapat mengubah atau menurunkan lingkar kepala-    Lingkar kepala dan lingkar dada mungkin sama untuk 1 sampi 2 hari pertama setelah kelahiran

-    Berat badan lahir menurun 10% dalam minggu pertama; meningkat kembali dalam 10 sampai 14 hari

-        Lingkar kepala < persentil ke-10 atau > persentil ke-90-        Berat badan lahir < persentil ke-10 atau > persentil ke-90

 

TANDA VITAL:Suhu

 

 

 

 

Frekuensi jantung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernafasan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tekanan darah

 

Axila : 36,5° sampai 37°C

 

 

 

Apikal : 120 sampai 140 denyut / menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30 sampai 60 kali / menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

65 / 41 mmHg

 

-    Menangis dapat sedikit meningkatkan suhu tubuh

 

-    Radian penghangat akan meningkatkan suhu axila

-    Menangis akan meningkatkan frekuensi jantung; tidur akan menurunkan frekuensi jantung

-    Selama periode pertama reaktivitas (6 sampai 8 jam), frekuensi dapat mencapai 180 denyut / menit

 

-    Menangis akan meningkatkan frekuensi pernafasan ; tidur akan menurunkan frekuensi pernafasan

-    Selam periode pertama reaktivasi (6 sampai 8 jam), frekuensi dapat mencapai 80 kali / menit

 

-    Menangis akan meningkatkan tekanan darah

 

-        Hipotermi

-        Hipertermi

 

 

 

-        Bradikardia : frekuensi istirahat dibawah 80 sampai 100 denyut / menit

-        Takikardia : frekunsi kira-kira 160 sampai 180 denyut / menit

-        Irama tidak teratur

-        Takipne ; frekuensi dibawah 60 kali / menit

 

-        Apnea > 15-20 detik

-        Tekanan sistolik pada manset kurang dari 6 sampai 9 mmHg kurang dari tekanan diekstremitas atas

Penampilan umum PosturFleksi kepala dan ekstremitas, dengan istirahat telentang dan telungkup. Frank breechKaki diektensikan, diabduksikan dan paha dirotasi penuh, oksiput didatarkan, leher diekstensikan Postur timpang, ekstensi ekstremitasnya 
Kulit -    Pada saat lahir, merah terang, menggelembung, halus.-    Hari kedua sampai ketiga, merah muda, mengelupas, kering

-    Verniks caseosa

-    Lanugo

-    Edema disekitar mata, wajah, kaki, punggung tangan, telapak, dan scrotum atau labia

-    Perubahan warna normal :

Akrosianosis : sianosis tangan dan kaki

Kutis marmorata

-    Ikterik neonatus setelah 48 jam pertama-    Ekimosis atau petekie karena trauma kelahiran

Milia ; kelenjar sebasea terdistensi tampak sebagai papula putih kecil pada pipi, dagu, dan hidung

Miliaria atau sudamina : kelenjar keringat terdistensi (ekrin) yang tampak sebagai vesikel menit, khususnya pada wajah

Eritema toksikum : ruam papular merah muda dengan vesikel yang tumpang tindih pada dada, punggung, bokong, dan abdomen ; dapat tampak dalam 24 sampai 48 jam dan hilang setelah beberapa hari

Perubahan warna Harlequin : perubahan warna jelas terlihat saat bayi berbaring miring ; setengah bawah tubuh menjadi merah muda dan setengah atas pucat

Nevus flammeus : merah kebiruan gelap (port-wine stain ) biasanya pada leher dan wajah

Mongolian spots : area ireguler pigmentasi biru tua, biasanay pada bagian sakral dan gluteal; terlihat terutama pada bayi baru lahir dari orang asli amerika, afrika, asia, atau keturunan hispanik

Telangiektatik nevi (gigitan bangau) : area terlokalisir merah muda dalam, datar biasanya terlihat dibagian belakang leher

-        Ikterik berlanjut, khususnya pada 24 jam pertama-        Kulit memucat

-        Sianosis umum

-        Pucat

-        Keabu-abuan

-        Pletora (darah dalam jumlah berlebihan)

-        Mottling : umum dan menetap

-        Hemoragi, ekimosis, atau petekie yang menetap

Skelerema : kulit keras dan kaku

Turgor kulit buruk

Ruam, pustula, atau, lepuh

Bercak Cafe au lait  : bercak coklat terang

Kepala Fontanel anterior : bentuk berlian, 2,5 sampai 4,0 cm 

 

 

 

Fontanel posterior :

 

-        bentuk segitiga 0,5 sampai 1 cm

-        Fontanel harus datar, lunak, dan padat

-        Bagian terlebar dari fontanel diukur dari tulang ke tulang, bukan dari sutura ke sutura

-    Molding  setelah persalinan vaginal-    Sagital ketiga (parietal) fontanel

-    Penonjolan fontanel karena menangis atau batuk

Kaput

suksedaneum :

 

-    edema jaringan kulit kepala yang lunak yang melewati garis sutura

Sefalhematoma (tidak rumit) : diantara periosteum dan tulang tengkorak yang dibatasi dengan batas khusus dan tidak melewati garis sutura

-        Sutura menyatu-        Penonjolan atau depresi fontanel ketika bayi tenang

-        Pelebaran sutura dan fontanel

 

Kraniotabes :

-        sensasi tajam sepanjang sutura lambdoidal yang mirip lekukan bola pingpong

 

  1. G.    PROSEDUR PENGKAJIAN

PENGKAJIAN

PROSEDUR

Tinggi / panjang badan
  1. panjang rekumben pada anak dibawah usi 24 sampai 36 bulan
  2. tempatkan terlentang dengan kepala digaris tengah.
  3. pegang lutut dan dorong dengan perlahan kearah meja untuk kaki ekstensi penuh.
  4. ukur dari verteks (puncak) kepala sampai tumit kaki (jari kaki mengarah keatas).
  5. tinggi berdiri pada anak lebih dari 24 sampai 36 bulan.
  6. lepaskan kaus kaki dan sepatu.
  7. minta anak berdiri setinggi mungkin, pungung tegak kepala digaris tengah, dan mata melihat lurus kedepan..
  8. periksa fleksi lutut, kemerosotan bahu, peninggian tumit.
  9. ukur puncak kepala sampai permukaan berdiri.
  10. ukur sampai cm atau ¼ inci yang terdekat.
Berat badan
  1. timbang bayi dan anak kecil telanjang diatas skala tipe platform; lindungi bayi dengan menempatkan tangan diatas tubuh untuk mencegahnya menjatuhkan skala.
  2. timbang anak yang lebih besar dengan memakai pakaian dalam (tanpa sepatu) pada timbangan tegak
  3. periksa apakah skala seimbang sebelum digunakan.
  4. tutupi timbangan dengan selembar kertas bersih untuk masing-masing anak.
  5. ukur sampai 10gr atau ½ once yang terdekat untuk bayi dan 100gr atau ¼ pon untuk anak-anak.
Lingkar kepala (HC) Ukur dengan kertas atau pita tembaga pada lingkar yang terbesar dari puncak alis, mata dan pinna telinga ketonjolan oksipital tengkorak.
Lingkar dada
  1. ukur melingkari dada pada garis putting susu.
  2. idealnya lakukan pengukuran selama inspirasi dan ekspirasi, catat rata-rat dari dua nilai.
Ketebalan lipatan kulit dan lingkar lengan
  1. pengukuran ketebalan lipatan kulit trisep

-        dengan lengan kanan anak fleksi 90˚ pada siku, tandi titik tengah antara akromion dan olekranon pada aspek posterior lengan

-        dengan lengan menggantung bebas, genggaman lipatan kulit antara ibu jari dan jari tengah 1 cm di atas titik tengah

-        dengan perlahan trik lapisan menjauh dari otot dasardan terus pegang sampai pengukuran selesai

-        tempatkan caliper jaws (jangka lengkung) di atas lipatan kulit pada tanda tengah ; bila menggunakan jangka lengkung plastic  (missal, Adipometer Ross), beri tekanan dengan ibu jari untuk mensejajarkan garis pada jangka, ikuti arahn tersebut untuk jangka yang lain

-        perkiraan pembacan sampai paling dekat 1,0mm, 2-3 detik setelah pemberian tekanan

-        lakukan pengukuran sampai kelipatan 1mm

  1. pengukuran lingkar lengan tengah

-        ikuti prosedur seperti di atas, tetapi sebagai ganti penggenggaman lipat kulit dan penggunaan jangka lengkung, tegang kertas atau pita ukur tembaga melingkari lengan atas pada titik tengah

-        ukur sampai dekat 1cm

Pengukuran fisiologis(tanda-tanda vital):

  1. Suhu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Nadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pernafasan

 

 

 

  1. Tekanan darah
 

 

 

Idealnya, diukur ketika anak tenang; karenanya, catat nilai dan perhatikan aktivitas seperti menangis.

  1. Thermometer kaca mercuri
  2. Suhu oral

Letakkan di bawah lidah di dalm kantong sublingual posterior kanan atu kiri, bukan di depan lidah, minta nak untuk tetap mengatupkan mulutnya tanpa menggigit termometer

  1. Suhu aksila

Tempatkan di bawah lengan dengan ujungnya dibagian tengah aksila dan dekatkan dengan kulit, bukan pakaian, tahan tangan anak untuk menjepitnya

  1. Suhu rectal
    1. Masukkan ujung yang telah diberi pelumas tidak lebih dari 2,5cm (1 inci) ke dalam rektum, pegang thermometer dengan hati-hati dengan anus
    2. Anak dapat dimiringkan, telentang, atau posisi telungkup (misal, terlentang dengan lutut fleksi kearah abdomen); tutup penis, karena prosedur ini sering merangsang urinasi
    3. Anak kecil dapat ditempatkan pada posisi telungkup dipangkuan orang tua
    4. Thermometer electronic
      1. Pengukuran suhu dengan komponen elektronik disebut tesmitor yang ditempel pada ujung plastic dan alat tembaga dari baja yang dihubungkan ke alat pencatat elektronik suhu, yang di ukur akan tampak pada display digital dalam 60 detik
      2. Tempatkan prob di dalam mulut, aksila, rectum seperti thermometer merkuri
      3. Sensor membran timpani
        1. Thermometer infra merah mengukur radiasi termal dari membrani timpani; suhu yang di ukur akan tampak pada display digital dalam 1 detik
        2. Masukkan ujung alat yang tertutup dengan perlahan ke dalam liang telinga kea rah titik tengah antara alis mata dan cabang yang berlawanan
        3. Untuk hasil yang paling akurat, perenggangan liang telinga untuk sensor mengukur panas dari gendang telinga, bukan sisi liang, lakukan 3 pengukuran, dan catat pembacaan yang tertinggi
        4. Thermometer strip plastic (termograf)
          1. Perubahan warna sebagai respon terhadap perubahan suhu
          2. Tempatkan pada dahi sampai terjadi perubahan warna, biasanya memerlukan waktu kurang dari 15 detik
          3. Beberapa-digunakan seperti thermometer merkuri oral
          4. Thermometer digital
            1. Terdiri dari alat yang berhubungan dengan chipe mikro prosesor, yang menerjemahkan sinyal ke dalam derajat dan mengirimkan penguukuran suhu
            2. Digunakan seperti termometer merkuri
            3. Tempa Dot
              1. Penggunaan tunggal termometer sekali pakai dengan campuran kimia tertentu pada setiap lingkaran yang mengubah warna untuk mengukur peningkatan suhu setiap 0,2 derajat
              2. Digunakan seperti termometer merkuri diletakkan pada mulut (1 menit), aksila (3 menit), dan rektum (3 menit); perubahan warna dibaca 10-15 detik setelah mengangkat termometer

 

 

  1. Ukuran nadi apikal pada anak-anak usia 2 sampai 3 tahun

Titik intensitas maksimum terletak di bagian lateral sampai ke puting susu pada ruang antar iga keempat sampai ke lima atau garis midklavikular.

  1. Titik nadi radialis pada anak-anak usia lebih dari 2 samapi 3 tahun
  2. Hitung nadi selama 1 menit penuh, khususnya bila terjadi ketidakteraturan.
  3. Untuk mengulang pengukuran, hitung nadi selama 15 atau 30 detik dan kalikan dengan 4 dan 2, berturut-turut

 

observasi frekuensi pernafasan selama 1 menit penuh pada bayi dan ank kecil, observasi gerakan abdomen pada anak yang lebih besar, observasi gerakan toraks.

 

-        Gunakan ukuran manset yang tepat (ukuran maset mengacu hanya pada kantong bagian dalam yang dapat dikembangkan, bukan kain atau plastik penutupnya)

-        Report of the Second Task Force (1987) menganjurkan:

  1. Lebar yang cukup untuk penutup kira-kira 75 % lengan atas diantara puncak bahu dan elekranon
  2. Panjang yang cukup untuk melingkar penuh pada anggota gerak dengan atau tanpa putaran ulang
  3. Ruang yang cukup pada fosa antekubital untuk menempatkan stetoskop
  4. Ruang yang cukup pada tepi atas untuk mencegah obstruksi pada aksila

-        American Health Association  (Frohlich, 1988) menganjurkan:

  1. Lebar 40% sampai 50% lingkar anggota gerak; diukur pada lengan atas bagian tengah antara bahu puncak dan olekranon
  2. Panjang yang cukup untuk melingkar penuh atau melingkar penuh pada tungkai atau tanpa putaran ulang
  3. Untuk sisi pengukuran lain, panduan tersebut diatas, dapat digunakan meskipun ukuran anggota gerak (misal; bentuk paha konikal) mungkin membuat penempatan manset kurang tepat
  4. Gunakan posisi yang sama, misal; berbaring atau duduk, dan lengan kanan untuk pengukuran
  5. Posisikan anggota gerak setinggi jantung
  6. Kembungkan manset dengan cepat kira-kira 20 mmHg diatas titik dimana nadi radial menghilang
  7. Lepaskan tekanan manset  dengan kecepatan kira-kira 2-3 mmHg per detik selama auskultasi arteri
  8. Baca manometer grafisasi air raksa setinggi mata
  9. Catat nilai tekanan sitolik sebagai awal dari bunyi berdeak yang jernih(bunyi korotkop 1)
  10. Catat tekanan diastol pada bunyi korotkop ke 4(K4) dan kelima (K5) (hilangnya semua suara) sejalan dengan tekanan sistolik, anggota gerak, posisi, ukuran manset dan metode, misal; TD = 100/60/54 mmHg, lengan atas, duduk, dengan maset anak dan menggunakan auskultasi
  11. Jika menguganakan monitor elektronik, ikuti petunjuk pabrik dan panduan diatas untuk ukuran maset yang  benar
  12. Dengan alat oskilometrik (misal; dinamp), keempat sisi dapat digunakan, tetapi jadikan paha sebagai pilihan terakhir karena sisi tersebut paling membuat tidak nyaman
  13. Stabilkan anggota gerak selama pengembangan maset, karena gerakkan akan mengganggu kemampuan alat untuk mengukur tekanan darah dengan akurat
Penampilan umum Observasi hal-hal berikut:-        Wajah

-        Postur

-        Hygiene

-        Nutrisi

-        Perilaku

-        Perkembangan

-        Status kesadaran

Kulit -        Observasi kulit pada cahaya matahari alami atau sinar buatan netral-        Warna paling baik jika di kaji pada skera, konjuntiva, punggung kuku, lidah, mukosa bukal, telapak tangan, dan telapak kaki

-        Tekstur perhatikan kelembaban, kehalusan, kekasaran, integritas kulit, dan suhu

-        Suhu bandingkan setiap bagian tubuh untuk semua yang sama

-        Turgor genggam kulit pada abdomen antara ibu jari dan telunjuk, tarik, dan lepaskan dengan cepat

-        Lekukan lekukkan kulit dengan jari

Struktur aksesori -        Rambut inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, elastisitas dan hygiene-        Kuku inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, elastisitas dan hygiene

-        Dermatoglifik observasi lipatan fleksi pada telapak tangan

Nodus limfe -        Palpasi menggunakkan distal jari-        Tekan dengan perlahan tapi tegas dengan gerakkan melingkar

-        Perhatikan ukuran mobilitas, suhu, kekerasan, dan adanya perubahan pada pembesaran nodus

-        Submaksilaris tundukkan sedikit ke bawah

-        Servikal tegadahkkan kepala sedikit keatas

-        Axila rilekskan lengan disamping tetapi sedikit terabduksi

-        Inguinalis tempatkan anak pada posisi terlentang

Kepala -        Perhatikan bentuk dan kesimetrisan-        Perhatikan kontrol kepala (khususnya pada bayi) dan postur kepalanya

-        Evaluasi rentang gerak

-        Palpasi tengkorak akan adanya fontanel, nodus, atau pembengkakan yang nyata

-        Lakukan transluminat tengkorak di ruang gelap, dengan benar pasang senter ke arah karet pada beragai titik

-        Periksa hygiene kulit kepala, ada tidaknya lesi, inspeksi, tanda trauma, kehilanggan rambut, perubahan warna, perkusi sinus frontal pada anak-anak usia 7 tahun

Leher Inspeksi ukuran

  1. Trakea

Palpasi adanya deviasi; letakkan ibu jari dan telunjuk pada setiap sisi dan gerakan jari ke depan dan ke belakang.

  1. Tiroid

Palpasi, perhatikan ukuran, bentuk, kesimetrisan nyeri tekan, nodul,; tempatkan bantalan jari telunjuk dan jari tengah di bawah kartilago krikoid; rasaktimus (jaringan penyambung lobus) naik ketika menelan; rasakan setiap lobus secara lateral dan posterior.

  1. 3.       Arteri karotis

Palpasi di kedua sisi

 

Mata
  1. Inspeksi penempatan dan kesejajaran
  2. Bila abnormalitas dicurigai, ukur jarak kantus bagian dalam
    1. Kemiringan palpebra

tarik garis imajinasi melalui dua titik medial (bagian dalam) kantus

  1. Lipatan epikantus

Observasi adanya kelebihan lipatan dari atap hidung sampai terminasi dalam alis mata

  1. c.    Kelopak mata

Observasi adanya penempatan, gerakan dan warna.

  1. d.    Konjungtiva palpebra
  • Tarik kelopak mata bawah kea rah bawah sementara anak melihat keatas.
  • Tarik kelopak mata atas dengan memegang bulu mata dan tarikke bawah dank e depan
  • Observasi warna
  1. e.    Konjungtiva bulbar

Observasi warna

  1. Pungtum lakrimalis

Observasi warna

  1. g.    Bulu mata dan alis mata

Observasi distribusi dan area pertumbuhannya

  1. h.    Sklera

Observasi warna

  1. i.      Kornea

periksa terhadap opasitas dengan sinar terang terhadap mata.

  1. j.      Pupil
  • Bandingkan ukuran, bentuk, dan gerakan
  • Uji reaksi terhadap sinar; sumber sinar terang terhadap dan menjauh dari mata.
  • Uji akomodasi; biarkan anak memfokuskan pada objek dari jarak jauh dan membawa objek mendekat ke wajah.
  1. k.    Iris

Observasi terhadap bentuk, warna, ukuran, dan kejelasan.

  1. l.      Lensa

Inspeksi

  1. Fundus
  • Periksa dengan oftalmoskop yang diset pada angka mendekati anak dari  sudut 15 derajat; ubah diopter ke positif atau minus untuk menghasilkan focus yang jelas
  • Ukur struktur dalam hubungannya dengan diameter discus (DD)
  • Untuk memudahkan penempatan makula, minta anak secara singkat melihat langsung pada sinar
  • Kaji penglihatan

 

Gunakan tes berikut untuk penglihatan binorukular

  • Tes refleks cahaya corneal

(disebut juga Gemini refleks merah atau tes Hirschberg)-arahkan cahaya langsung ke dalam mata dari jarak kira-kira 40,5 cm

  • Tes cover

Minta anak mendekati objek (33 cm) atau menjauhi (50cm) objek; tutup salah satu mata dan observasi gerakan mata yang tidak ditutup

  • Tes cover alternative

Sama dengan tes cover, kecuali menutup satu mata yang lain beberapa kali; observasi gerakan mata yang ditutup ketika tidak ditutup

  • Penglihatan perifer

Minta anak melihat lurus; gerakan objek seperti jari anda, melebihi lapang pandang anak tersebut ke dalam pandangan; minta anak untuk memberi tanda segera saat objek terlihat; perkirakan sudut dari garis lurus penglihatan ke deteksi pertama penglihatan perifer

  • Penglihatan warna

Gunakan tes Ishihara atau tes Hardy-Rand Rittler.

Telinga 1. PinnaInspeksi Penempatan Dan Kesejajaran

  • Ukur Tinggi Pinna Dengan Menarik Garis Imajiner Dari Orbit Di Luar Mata Ke Oksipital Tengkorak
  • Ukur Sudut Pinna Dengan Menarik Garis Perpendicular Dari Garis Horizontal Imajiner Dan Sejajarkan Pinna Setelah Tanda Ini

2. Observasi Tanda Pinna Umum

3. Perhatikan Adanya Lubang-Lubang Abnormal, Penebalan Kulit, Atau Sinus

4. Inspeksi Hygiene (Bau, Rabas, Warna)

5. Periksa Struktur Luar Kanal Dan Telinga Tengah Dengan  Otoskop

-   Anak Dibawah 3 Tahun.Posisikan Telengkup Dengan Telinga Diperiksa Menghadap Atap, Sandarkan Anak, Gunakan Bagian Tubuh Atasuntuk Merestrin Tangan Dan Tubuh,Dan Tangan Yang Memeriksa Untuk Merestrin Kepala.

  • § Ubah Posisi: Dudukkan Anak Pada Posisi Miring Di Atas Pangkuan Orang Tua Minta Orang Tua Memeluk Anaknya Dengan Aman Melingkari Tubuh Dan Tangan Serta Puncak Kepala
  • § Masukkan Spekulum Diantara Posisi Jam 3 Dan 9 Dengan Miring  Ke Bawah Dan Ke Depan
  • § Tarik Pinna Ke Bawah Dan Ke Belakang Pada Rentang Jam 6 Sampai  9

-   Anak Lebih Dari 3 Tahun , Periksa Saat Duduk Dengan Kepala Miring Sedikit Menjauh Dari Periksa (Bila Anak  Perlu Restrin, Gunakan Salah Satu Dari Posisi Yang Telah Disebutkan Diatas)

  • § Tarik Pinna Keatas Dan Kebelakang Pada Posisi Jam 10
  • § Masukkan Spekulum 0.6 Sampai 1,25cm, Gunakan Spekulum  Yang Terlebar Yang Mudah Masuk Ke Diameter Kanal.
  1. Kaji  Pendengaran
  2. Tes rinne, letakkan batang vibrasi dan garpu tala pada tulang mastoid sampai anak tidak lagi mendengar bunyinya, gerakan gigi garpu dekat lubang telinga.
  3. Tes weber, pegang garpu tala pada garistengah kepala atau dahi
    1. Inspeksi ukuran, penempatan, dan kesejajaran,tarik garis vertikal  imajiner dari titik tengah antara mata dan titik bibir atas
Hidung Vestibula anterior, tengadahkan kepala ke belakang, dorong ujung telinga keatas, dan sinari lubang dengan sinar kilat, untuk mendeteksi perforasi septum, arahkan cahaya kesalah satu lubang hidung dan observasi lewatnya sinar melalui perforasi.
Mulut dan tenggorok
  1. Bibir, Perhatikan Warna, Tekstur, Dan Lesi Sebelumnya
  2. Struktur Internal

-    Minta kerjasama anak untuk membuka mulut lebar-lebar dan mengatakan “aahh”, biasanya tidak perlu menggunakan spatel lidah

-    Dengan anak posisi telentang kedua tangan diangkat disepanjang sisi kepala, minta orang tua memobilisasi kepala, mungkin perlu menggunakan  spatel lidah, tetapi hindari menimbulkan reflek muntah dengan menekan hanya bagian samping lidah, gunakan lampu senter untuk penyinaran yang baik

Dada
  1. Inspeksi ukuran bentuk,kesemetrisan, gerakan dan perkembangan payudara
  2. Gambarkan pertemuan sesuai garis gemografis dan imajiner
  3. Lokalisasi ruang interkosta (ICS), ruang langsung dibawah iga, dengan mempalpasi dada secara inferior dari iga ke dua
  4. Petunjuk lain

-        Putting biasanya pada ICS ke 4

-        Ujung iga ke-11 teraba pada lateral

-        Ujung iga ke-12 teraba pada posterior

-        Ujung scapula pada iga

Paru-paru
  1. Evaluasi gerakan pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, kuantitas dan karakter
  2. Dengan anak pada posisi duduk, tempatkan kedua tangan datar di punggung atau dada dengan ibu jari digaris tengah sepanjang tepi kostal bawah
  3. Fremitus vocal-palpasi seperti diatas dan anak mengatakan “99” atau “eee”
  4. Perkusi kedua sisi dada dalam urutan dari apeks ke dasar
  5. Untuk paru-paru anterior, anak duduk atau terlentang
  6. Untuk paru-paru posterior, anak duduk
  7. Auskultasi pernapasan dan bunyi suara: intensitas nada, kualitas, durasi relative dan inpsirasi dan ekspirasi
Jantung Instruksi umum

  1. Mulai dengan inspeksi, diikuti dengan palpasi, kemudian auskultasi.
  2. Perkusi tidak dilakukan karena nilainya yang terbatas dalam mendefinisikan batasan atau ukuran jantung.
  3. Inpeksi ukuran dengan anak berada pada posisi semifoler, observasi dinding dari sebuah sudut.
  4. Palpasi untuk menentukan lokasi impuls apical, impuls jantung paling lateral yang dapat disamakan dengan apeks.
  5. Palpasi kulit untuk waktu pengisian kapiler :
  • tekan kulit sedikit pada sisi tengah, seperti dahi, dan sisi perifer, seperti bagian atas tangan atau kaki, untuk menghasilkan sedikit pemucatan
  • kaji waktu yang diperlukan area yang memucat untuk kembali pada warna aslinya
  1. Tekanan kulit sedikit pada kulit spada kulit seperti dahi dan sisi perifer seperti bagian atas tangan atau kaki untuk sedikit menghasilkan sedikit pemucatan.
  2. Kaji waktu yang diperlukan area yang memucat untuk kembali pada warna asalnya.
  3. Auskultasi bunyi jantung :
  • dengarkan dengan anak dalam posisi duduk dan bersandar
  • gunakan stetoskop bagian diagfragma dan bel dada
  • evaluasi kualitas, intensitas, frekuensi dan irama bunyi.
  1. Dengarkan dengan anak dalam posisi duduk dan stndar
    1. Gunakan stetoskop bagian diafragma dan bel dada.
    2. Evaluasi kualitas, intensitas, frekuensi, dan irama bunyi
    3. Ikuti urutan berikut :
  • area aortic : ruang intercostal kanan kedua dekat sternum
  • area pulmonik  : ruang intercostals kiri kedua dekat sternum
  • titik Erb :ruang intercostals ketiga dan kedua kiri dekat sternum
  • area apikal atau mitral :ruang intercostals kelima, garis midklavikuler kiri (ruang intercostal ketiga sampai keempat dan lateral pada garis midklavikular kiri pada bayi)

Pola Frekuensi Jantung

Takikardi; peningkatn frekuensi

Bradikardi; penurunan frekuensi

Pulsus alternal; denyut kuat diikuti denyut lemah

Pulsus begiminus; pasangan irama dimana denyut teraba dalam pasangaan karena denyut premature.

Pulsus paradoksus; intensitas atau kekuatan nadi menurun dengan ekspirasi.

Sinus aritmia; frekuensi meningkat dengan inspirasi, menurun dengan ekspirasi.

Nadi water; khususnya denyut kuat yang disebabkan oleh tekanan nadi yang sanagt lebar.

Nadi dikrotorik; nadi radialias gandauntuk setiap denyut apical

Nadi lemah; nadi lemah, cepat, yang hilang dan timbul.

 

  1. Area apical atau mitral ruang interkosta ke 5, garis midklavikula kiri (ruang intercosta ketiga sampai keempat dan lateral pada garis midklavikula kiri pada bayi)

 

 

Abdomen Intruksi umum

  1. Inspeksi, diikuti dengan auskultasi, perkusi dan palpasi, yang dapat mengubah bunyi abdomen normal.
  2. Palpasi mungkin tidak nyaman untuk anak palpasi dalam menyebabkan perasaan tekanan dan palpasi superficial menyebabkan sensasi geli.
  3. Untuk meminimalkan ketidak nyamanan dan mendorong kerjasama, gunakan hal-hal berikut:
  • Tempatkan anak pada posisi terlentang dengan kaki fleksi pada panggul dan lutut
  • Alihkan perhatian anak dengan pernyataan seperti “saya akan menebak apa yang kamu makan dengan memegang perutnya”
  • Minta anak untuk“membantu”mempalpasi dengan menempatkan tangannya sendiri di atas tangan pemeriksa yang mempalpasi
  • Minta anak menempatkan tangannya pada abdomen dengan jari memegang dan palpasi diantara jari-jari, inspeksi kontur, ukuran, dan tonus
  1. Perhatikan kondisi kulit
  2. Perhatikan gerakan
  3. Inspeksi umbilikus akan adanya herniasi, fistula, hygene, dan rabas
  4. Observasi adanya hernia:
  • Inguinalis, Urutkan jari kelingking ke cincin inguinalis eksternal di dasar skrotum; minta anak untuk batuk.
  • Femoralis, Tempatkan jari diatas kanalis femoralis (cari dengan meletakkan jari telunjuk di atas nadi femoralis dan jari tengah di kulit menghadap jari tengah).
  1. Auskultasi bising usus dan pulsasi aortik
  2. Perkusi Abdomen
  3. Palpasi organ abdomen:
  • Tempatkan satu tangan datar diatas punggung dan gunakan palpasi tangan untuk ”merasakan” organ diantara kedua tangan.
  • Dahulukan dari kuadran bawah ke atas untuk menghindari terlewatnya tepi pembesaran organ.
  • Gunakan garis imajiner pada umbilikus untuk membagi abdomen menjadi kuadran.
  • Kuadran kanan atas (KKaA)
  • Kuadran kanan bawah (KKaB)
  • Kuadran kiri atas (KKiA)
  • Kuadran kiri bawah (KKiB)
  1. Palpasi Nadi Femoralis : tempatkan ujung dua atau tiga jari kira-kira di tengah antara puncak iliaka dan simfisis pubis
  2. Timbulkan Refleks Abdomen : regangkan kulit dari samping ke garis tengah pada setiap kuadran
Genetalia Instruksi umum

  1. Lanjutkan dengan cara yang sama seperti pemeriksasan area lain; jelaskan prosebur dan maknanya sebelum melakukan, seperti mempalpasi testis.
  2. Hargai privasi setiap waktu
  3. Gunakan kesempatan untuk mendiskuskusikan masalah tentang perkembangan seksual dengan anak yang lebih besar dan remaja.
  4. Gunakan kesempatan untuk mendiskusikan keamana seksual dengan anak keci, menjelaskan bahwa ini adalah area pribadi mereka dan bila seseorang menyentuhnya dengan cara yang tidak nyaman mereka harus selalu membeti tahu orang tua mereka atau orang lain yang dipercaya.
  5. Bila ada kontak dengan substansi tubuh, gunakan sarung tangan.

Genetalia laki-laki

  1. Penis -  inspeksi ukuran
  2. Glans dan batang – inspeksi adanya tanda-tanda pembengkakan, lesi kulit, inflamasi.
  3. Prepusium – inspeksi pada pria yang disirkumsisi.
  4. Meatus uretral – inspeksi lokasi dan perhatikan adanya rabas.
  5. Sekrotum – inspeksi ukuran, lokasi kulit, dan distribusi rambut.
  6. Testis – palpasi setiap kantong sekrotium dengan menggunakan ibu jari dan  jari telunjuk.
  7. Genetalia eksterna– inspeksi struktur, tempatkan anak pada posisi setengah bersandar pada pangkuan orang tua dengan lutut menekuk dan telapak kaki saling bersebelahan

Genetalia wanita

  1. Labia – palpasi adanya masa.
  2. Meatus uretral – inspeksi terhadap lokasi; teridentifikasi seperti bentuk – V dengan merenggangkan kearah bawah dari klitoris keperineum.
  3. Kelen jar skene – palpasi atau inspeksi
  4. Orifisium vaginalis – pemeriksaan internal biasanya tidak dilakukan; inspeksi terhadap lubang sebelumnya.
  5. Kelenjar Bartholin – palpasi atau inspeksi.
Anus
  1. Area anus – inspeksi penampiolan umum, kondisi kulit
  2. Reflek anal – munculkan dengan mengerutkan atau merenggangkan area perineal dengan perlahan

 

Punggung dan ekstremitas
  1. Inspeksi kurvatura dan simetris tulang belakang
  2. Uji adanya skoliasis:
  • Biarkan anak berdiri tegak; observasi dari belakang dan perhatikan ketidak simetrisan bahu dan panggul.
  • Biarkan anak membungkuk kedepan pada pnggul sampai punggung parallel pada lantai; observasi dari samping dan perhatikan ketidak simetrisan atau penonjolan tulang rangka.
  1. Perhatikan mobilitas tulang belakang.
  2. Inspeksi setiap sendi ekstremitas untuk kesimetrisan ukuran, suhu, warna, nyeri tekan, mobilitas.
  3. Uji adanya perkembangan displasia panggul.
  4. Kaji bentuk tulang:
  • Ukur jarak antara lutut ketika anak berdiri dengan maleolus saling bersebelahan.
  • Ukur jarak antara maleolus bila anak berdiri dengan kedua lutut merapat.
  • Inspeksi telapak kaki; uji apakah deformitas kaki pada saat lahir merupakan akibat dari posisi fetal atau perkembangan oleh peregangan keluar,kemudian kedalam, sisi telapak kaki.
  1. Inspeksi cara berjalan :
  • Minta anak berjalan pada garis lurus
  • Perkirakan sudut cara berjalan dengan menarik garis imajiner melalui bagian tengah kaki dan garis progresi.
  1. Refleks plantars

Timbulkan refleks dengan mengusap telapak kai lateral dari tumit kedepan ke ibu jaru kaki melewati haluks

  1. Inspeksi perkembangan dan tonus otot
  2. Uji kekuatan
Pengkajian neurologis Inspeksi setiap sendi ekstremitas untuk kesimetrisan, ukuran, suhu, warna, nyeri tekan, mobilitas.Uji adanya perkembangan displasia panggul

 

Kaji bentuk tulang

  1. Ukur jarak antar lutut ketika anak berdiri dengan maleolus saling bersebelahan
  2. Ukur jarak antar maleolus bila anak berdiri dengan kedua lutut merapat
  3. Inspeksi posisi telapak kaki; uji apakah deformitas kaki pada saat lahir merupakan akibat dari posisi fetal atau perkembangan oleh peregangan keluar, kemudian kedalam, sisi telapak kaki; bila dapat normal dengan sendirinya, kaki mengambil sudut kanan terhadap kaki

 

Inspeksi cara berjalan:

Minta anak berjalan pada garis lurus

Perkirakan sudut cara berjalan dengan menarik garis imaginer melalui bagian tengah kaki dan garis progresi.

 

Refleks Plantar, timbulkan refleks dengan mengusap telapak kaki lateral dari tumit ke depan ke ibu jari kaki  melewati haluks.

Inspeksi perkembangan dan tonus otot.

 

 

 

Uji kekuatan:

  1. Lengan, minta anak mengangkat tangan sambil melawan tekanan dari tangan anda
  2. Kaki , minta anak duduk dengan kaki menggantung; lanjutkan seperti pada tangan
  3. Telapak tangan, minta anak meremas jari anda sekencang mungkin
  4. Telapak kaki, minta anak memfleksikanplantar (dorong telapak kaki ke arah lantai) sambil menekan telapak kaki.

 

 

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan antara lain:

  1. Pengkajian fisik pada anak memerlukan teknik-teknik dan pengalaman khusus untuk dapat melakukannya, karena masing-masing anak memiliki respon yang berbeda pada setiap tindakan.
  2. Tujuan  dari pemeriksaan fisik sesuai usia adalah untuk memperoleh informasi yang akurat tentang keadaan pasien.
  3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan fisik antara lain :
  4. Posisi pada saat melakukan pemeriksaan fisik
  5. Umur anak
  6. Persiapan anak
  7. Tingkat kesadaran anak
    1. Bagaimana keadaan normal dan abnormalitas baik potensial maupun aktual sistem yang dikaji
  8. Sebelum melakukan pemeriksaan fisik perawat diharapkan mengerti dan memahami sifat dan karakter anak pada tiap-tiap tumbuh kembang anak
  9. Menjaga dan mempertahankan anak supaya kooperatif dalam pemeriksaan maka sangat perlu dilakukan kerja sama orang-tua, karena orang-tua pemegang keputusan utama dan orang yang paling dekat dengan anak.

 

Daftar Pustaka

Engel, Joyce. 1999. Seri Pedoman Praktis Pengkajian Pediatric. Editor. Setiwan. Edisi 2. Jakarta: EGC

Matondang, S Corry,dkk. 2000. Diagnosis Fisis pada Anak. Edisi 2. Jakarta: PT Sagung Seto

Priharjo, Robert. 1993. Pengkajian Fisik Keperawatan.  Editor Ni Luh Gede Yasmin Asih, SKp. Jakarta: EGC

Wong, Donna L. 1993. Essential Of Pediatric Nursing. Fourth Edition. Philadelphia: Mosby

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric. Edisi 4. Jakarta: EGC

 

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Pemeriksaan Fisik pada Anak”

  1. Comments are closed.
Apr
19
2012