Penatalaksanaan Pasien Gawat Napas
Manusia termasuk makhluk yang “ obligate aerobe “ artinya agar bias hidup mutlak memerlukan Oksigen ( O2 ). Oleh karena itu segala hal yang mengganggu proses masuknya oklsigen dari alam bebas ( udara ) ke dalam tubuh manusia adalah merupakan suatu kegawatan medis yang sesungguhnya, sebab mengancam jiwa manusia.
System dalam tubuh manusia yang bertanggung jawab terhadap masuknya O2 dari udara bebas sampai ke seluruh tubuh sel adalah system pernafasan dan system kardiovaskuler. Oleh karena itu sebagai petugas kesehatan mutlak perlu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yanmg memadai dalam hal pengenalan tenteang gawat nafas secara dini dan sekaligus penanganannya. Mengapa demikian? sebab keterlambatan penentuan gawat nafas dan penanganan yang memadai akan berakibat fatal atau cacat seumur hidup.
FISIOLOGI SISTEM PERNAFASAN
Secara garis besar system pernafasan terdiri dari :
- Pusat pernafasan.
- Organ pelaksana
Keduanya dihubungkan dengan system neurohormonal, sehingga segala perintah dari pusat nafas dapat dilaksanakan oleh organ pelaksana.
PUSAT NAFAS
Pusat nafas terletak di batang ( medulla oblongata ). Tugas pusat nafas adalah memerintahkan ke organ pelaksana untuk melakukan aktifitas ke organ pelaksana apabila pusat nafas terangsang oleh rangsangan.
Rangsangan ke pusat nafas dapat secara langsung atau tidak langsung melalui reseptor di tepi ( di luar pusat nafas ).
Beberapa rangsangan yang dapat merangsang pusat nafas antara lain :
- a. Zat asam arang ( CO2 )
Bila kadar di dalam tubuh berlebih maka akan terangsang.
- b. Zat asam ( O2 )
Bila kadar dalam tubuh menurun maka akan merangsang.
- c. Ion hydrogen ( H+ )
Bila kadar dalam tubuh berlebih maka akan terangsang.
- Lain – lain, seperti regangan pada otot/ sendi, rasa sakit, suhu tubuh yang meningkat dan beberapa obat- obatan.
Sebaliknya bila tidak ada rangsangan yang merangsang pusat nafas atau bahkan menekan pusat nafas maka aktifitas organ pelaksana akan berkurang, bahkan dapat tidak ada sama sekali.
GAWAT NAFAS
Yaitu suatu keadaan dimana system p;ernafasan tidak berfungsi dengan baik sehingga mengakibatkan kadar O2 dalam darah kurang dari normal ( hypoxemia ) dan kadar CO2 dalam darah lebih dari normal ( hypercarbia ).
Penyebab gagal nafas :
- Gangguan di tingkat pusat.
Gangguan berupa penekanan ( depresi ) pusat pernafasan yang disebabkan oleh :
Obat – obatan
Misalnya : Golongan narkotika ( morphine, pethidine )
Golongan sedatifa ( diazepam, thiopentone )
Golongan obat anastesi umum ( ketamine )
Penyakit susunan syaraf pusat ( encephalitis, CVA, tumor otak )
Trauma kepala
Akibat penekanan terhadap pusat pernafasan akan terjadi apnea (tidak bernafas) atau bradypnea (frekwensi nafas kurang dari normal).
- gangguan system otot pernafasan, yang disebabkan oleh :
Obat – obatan
bat pelumpuh otot ( pancuronium ), keracunan obat (organophospat )
penyakit otot : myasthenia gravis, degenerasi otot.
trauma otot.
- gangguan di tingkat syaraf penghubung, misalnya polyneuritis.
- gangguan di tingkat jalan nafas, misalnya sumbatan jalan nafas.
- gangguan di tingkat gelembung alveoli : ARDS, Atelektasis.
- gangguan di tingkat dinding rongga dada, misalnya patah tulang iga, pneumothorax, rongga dada kaku.
- gangguan di tingkat aliran darah paru ( perfusi paru )
DIAGNOSA
Diagnose gawat nafas di dasarkan atas pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. (analisis gas darah dan respirator ).
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum.
- Pasien gelisah.
Awas ! pasien yang tenang disertai penurunan kesadaran adalah gejala akhir / terlambat
- Pucat pasi.
Awas ! cyanosis adalah tanda akhir yang sudah berat.
- Nafas yang distress ( tidak enak ).
- Nadi cepat.
Awas ! nadi ytang melambat bias berarti proses sudah lanjut
- Tekanan darah meningkat.
Awas ! tekanan darah yang menurun bisa berarti proses lebih berat / lanjut.
- Kadangkala disertai keringat dinggin terutama di daerah dahi.
Keadaan khusus
- Keadaan ini terdapat pada :
ü Sumbatan jalan nafas bagian atas :
- Stridor inspirasi
- Cekungan di subastrenal
- Retraksi sela iga
- Retraksi sub diagframa
ü Sumbatan jalan nafas bagian bawah :
- Wheezing ekspirasi.
Pemeriksaan penunjang
~ Analisa gas darah
Secara akurat, diagnose gawat nafas adalah berdasar atas pemeriksaan gas darah, yaitu PaO2 < 60 mmHG dan PaCO2 > 46 mmHG.
Berdasarkan atas pemeriksaan gas darah maka ada tiga macam gawat nafas, yaitu:
|
no |
macam |
PaO2 |
PaCO2 |
PA-aO2 |
|
1 |
Gagal oksigenasi |
↓ |
N/↓ |
↑ |
|
2 |
Gagal ventilasi |
↓ |
↑ |
N |
|
3 |
Kombinasi |
↓ |
↑ |
↑ |
Catatan :
↓ : menurun.
↑ : meningkat
N : normal
~ Spirometri
apabila gawat nafas disertai dengan gangguan ventilasi, pemeriksaan dengan spirometer menghasilkan antara lain :
- kecepatan nafas : < 8X / sec atau > 35X / sec.
- volume tidal : < 5 cc / kg BB
- kapasitas vital : < 15 cc / kgBB
- daya inspirasi maksimal : < 25 cm H2O
- perbandingan ruang rugi dan volume tidal > 0,6
~ Foto dada
apabila gawat nafas disebabkan karena kerusakan paru, pada foto dda akan terlihat kelainan yang mendasarinya, seperti : pneumonia, edema paru, pneumothorax dan sebagainya.
ingat ! dasar utama menegakkan diagnose gawat nafas bukan dengan pemeriksaan foto dada
PENATALAKSANAAN
- langkah pertama ( harus ).
Menguasai danmembebaskan jalan nafas.
Tujuannya : agar jalan nafas bebas dari sumbatan ( karena lidah, posisi, lender, benda asing, dsb. ) sehingga dengan demikian O2 dapat lewat dengan lancer.
Caranya :
v Mengatur posisi
ü Eksistensi kepala topang leher ( tidak dikerjakan apabila ada dugaan patah tulang leher )
ü Eksistensi kepala angkat dagu
ü Perasat tiga cara;
- Eksistensi kepala
- Dorong rahang bawah ke depan
- Buka mulut
v Menguasai jalan nafas dengan alat.
ü Pasang pipa orofaringeal ( guidel )
ü Pasang pipa nasofaringeal
ü Pasang pipa endotracheal ( intubasi )
v Menguasai jalan nafas dengan operatif
ü Krikotirotomi
ü Trakheostomi
Indikasi Intubasi dengan pipa endotracheal
v Sumbatan jalan nafas bagian atas yang tidak bisa di bebaskan dengan mengatur posisi atau alat sederhana.
v Tidak ada reflek pertahanan jalan nafas ( mis : pada gangguan kesadaran )
v Untuk membersihkan lender jalan nafas yang produktif.
v Hypoxemia yang refraktur
v Memerlukan alat Bantu nafas
Indikasi krikotirotomi / trakheostomi
v Bila penguasaan jalan nafas bagian atas dengan menggunakan alat sederhana atau pipa endotrakheal gagal ( acute trakheostomi )
v Bila penguasaan jalan nafas bagian atas dengan menggunakan pipa endotrakheal memerlukan waktu lebih lama dari 7 hari ( elektif trakheostomi )
- Langkah kedua
Menilai fungsi ventilasi paru
Bila gangguan ventilasi ( lihat criteria pada pemeriksaan dan spirometer ) dan analisa gas darah menunjukkan hasil yang PaCO2 > 60 mmHg dan PH darah < 7,2 serta PaO2 tidak membaik dengan cara I, maka lakukan bantuan ventilasi.
Tujuannya : memperbaiki ventilasi paru sehingga menghasilkan PaCO2 : 40 – 45 mm Hg dan PH darah : 7,35 – 7,45.
Caranya :
*Tanpa alat
Dari mulut ke mulut
Dari mulut ke hidung
Dari mulut ke alat
*Dengan alat sederhana : AMBU baG
*Dengan alat canggih : ventilator.
- langkah ketiga
pemberian O2
tujuannya : memeberikan fraksi inspirasi oksigen ( FiO2 ) yang cukup sehingga menghasilkan PaO2 yang memadai ( acceptable ) untuk pasien yang bersangkutan atau saturasi oksigen ( SaO2 ) > 90%.
Tekanan parsial oksigen dalam arteri ( PaO2 ) dipengaruhi oleh kondisi pasien (termasuk umur). Secara kasar hubungan antara umur dan PaO2 yang memadai adalah sbb :
PaO2 = 100 – ( 0,3 X umur )
Caranya :
Cara pemberian O2 akan berpengaruh terhadap FiO2 ( LIHAT TABEL )
TABEL CARA PEMBERIAN O2 DAN FiO2
|
CARA PEMBERIAN |
ALIRAN O2 ( L / sec ) |
FiO2 ( % ) |
|
Nasal chateter/ canule/ prong |
1 – 2 |
24 – 28 |
|
3 – 4 |
30 – 35 |
|
|
5 – 6 |
38 – 44 |
|
|
Masker sederhana |
5 – 6 |
40 |
|
6 – 7 |
50 |
|
|
7 – 8 |
60 |
|
|
Masker dengan kantong |
6 |
60 |
|
7 |
70 |
|
|
8 |
80 |
|
|
9 – 10 |
90 – 99 |
|
|
Masker dengan venture |
Aliran tetap |
24 – 35 |
|
Tanpa oksigen |
8 – 10 |
40 |
|
ventilator |
- |
21 – 100 |
- langkah keempat
memberikan cairan infuse NaCl 0,9 % atau lainnya dan melakukan resusitasi jalan siatem cardiovascular.
- langkah kelima
memantau keadan pasien
ingat ! jangan biarkan pasien gawat nafas lepas dari pemantauan.
Tujuan :
mengikuti perembangan pasien lebih lanjut agar setiap perubahan yang menjurus ke arah jelek segera dapat diantisipasi sedini mungkin.
Yang di pantau:
- Tingkat kesadaran
- Tekanan darah
- Nadi ( kwalitas dan kuantitas )
- Pernafasan
- Produksi urine
- Analisa gas darah
Ingat ! di dalam pemantauan, yang labih berharga adalah nilai kecenderungan (trend) bukan nilai nominalnya.
PENUTUP
Gawat nafas merupakan kegawatan medis yang harus sedini mungkin di identifikasi dan segera di tanggulangi dengan cepat dan tepat. Dari uraian di atas dapat di fahami bahwa di dalam mengidentifikasi dan penatalaksanaannya di perlukan pengetahuan yang mendasar karena mempunyai tujuan yang mendasar pula.bukan sekedar rutinitas. Oleh karena itu diperlukan dedikasi yang tinggi.
Team ICU
Incoming search terms:
- gawat nafas
- penatalaksanaan jalan nafas
- penanganan pasien apnoe
- penanganan pasien apnea
- penatalaksanaan gangguan jalan nafas
- penatalaksanaan pasien apneu
- penatalaksanaan Apneu
- penatalaksanaan apnea
- diagnosa gawat darurat analisa gas darah
- gawat nafas dan penanganannya
- penanganqn pasien apnoe
- tatalaksana gangguan pernafasan
- pemeriksaan fisik gagal nafas
- penanganan gawat darurat pernapasan
- penanganan pada pasien dengan gangguan pernapasan
- penatalaksanaan gawat nafas
- penatalaksanaan perawatan pasien dengan sistem gangguan pernapasan
- penatalaksanaan gagal napas
- penanganan pasien apneu
- penanganan pasien apnew
- penatalaksanaan gagal nafas
- penatalaksanaan depresi pernafasan akibat diazepam
- penatalaksanaan depresi nafas akibat diazepam
- penanganan pasien apnue adalah
- penatalaksanaan apnea atau gagal nafas
Free Email Newsletter
And then confirm your email subcription

No Comment to “Penatalaksanaan Pasien Gawat Napas”