PENELITIAN KUANTITATIF | HealthyEnthusiast

You are here: » PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUANTITATIF
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

PENELITIAN KUANTITATIF

  1. Penelitian Deskriftif

Penelitian deskriftif dimaksudkan untuk mendeskriptifkan secara sistematis dan akurat suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat factual. Penelitian deskriftif dapat pula diartikan sebagai penelitian yang dimaksudkan untuk memotret fenomena individual, situasi,m atau kelompok tertentu yang terjadi baru-baru ini. Penelitian deskriftif juga berarti penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan fenomena ataunkarakteristik individual, situasi, atau kelompok tertentu secara akurat. Dengan kata lain, tujuan penelitian deskriftif adalah mendeskriftifkan seperangkat peristiwa atau kondisi populasi saat ini.

Studi deskriftif adalah alat untuk menemukan makna-makna baru, menjelaskan sebuah kondisi keberadaan, menentukan fenomena kemunculan sesuatu, dan mengategorikan informasi. Ada beberapa ciri dominan dari penelitian deskriftif.

  • Bersifat mendeskriftifkan kejadian atau peristiwa yang bersifat factual. Adakalanya penelitian dimaksudkan hanya membuat deskripsi atau uraian semata-mata dari suatu fenomena, tidak untuk mencari hubungan antarvariabel, menguji hipotesis, atau membuat ramalan.
  • Dilakukan secara survey, Karena itu penelitian deskriftip sering disebut sebagai penelitian servei. Dalam arti luas, penelitian deskriftif dapat mencakup seluruh metode penelitian, kecuali yang bersifat historis dan eksperimental.
  • Bersifat mencari informasi factual dan dilakukan secara mendetail.
  • Mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan jastifikasi keadaan praktik-prsktik yang sedang berlangsung.
  • Mendiskripsikan tentang subjek yang sedang dikelola oleh kelompok orang tertentu dalam waktu yang bersamaan.

Langkah umum penelitian deskriftif adalah : 1. Mengidentifikasi masalah, 2. Mendifinisikan masalah secara spesifik, 3. Merumuskan rancangan atau desain pendekatan, 4. Mengumpuklan dan menganalisis data, dan 5. Menyusun laporan penelitian. Adakalanya penelitian ini dilakukan tatkala peneliti hanya merasa hanya sedikit memahami tentangf suatu fenomena. Didalam peneliatian deskriftif, peneliti atau investigator sering mengumpulkan wawancara, observasi tidak berstruktur, observasi berstruktur, dan angket untuk mendeskripsikan fenomena yang telaah. Beberapa contoh penelitian deskriftif adalah :

  • Survei mengenai penyebaran peskesmas saat ini menurut kategorinya berdasarkan wilayah geografis.
  • Penelitian mengenaipendapat pasien dan keluarganya mengenai kualitas layanan keperawatan pada rumah sakit tertentu.
  • Penelitian mengenai pendapat masyarakat akan perlunya sosialisasi jenis-jenis layanan kesehatan dan keperawatan yang dapat diberikan oleh rumah sakit menurut kategorinya.
  • Studi mengenai kebutuhan tenaga perawat atau tenaga paramedia lain dirumah sakit tertentu menurut kurun waktu tertentu pula.
  • Penelitian mengenai kemampuan professional dan keterampilan teknis tenaga perawat pada Puskesmas tertentu.

 

2. Penelitian Perkembangan.

Penelitian perkembangan dimaksudkan untuk meneliti perkembangan suatu pola dan urutan berdasarkan fungsi waktu. Penelitian perkembangan dapat bersifat longitudinal dan dapat lintas-seksional atau cross-sectional. Penelitian perkembangan yang bersifat longitudinal dimaksudkan untuk meneliti perkembangansuatu subyek menurut pola dan urutan berdasarkan fungsi waktu. Misalnya, penelitian mengenai perkembangan berat badan anak dari 0 sampai dengan 10 tahun. Penelitian ini dilakukan terhadap sekelompok subyek yang sama, misalnya sepuluh orang. Dari sepuluh orang itu, berat badannya ditimbang secara rutin, misalnya, dalam satuan waktu 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 11/2 tahun, dan seterusnya, hingga sekelompok anak itumencapai usia 10 tahun. Contoh lain dari studi longitudinal ini adlah studi mengenai pertumbuhan dan perkembangan suatu lembaga rumah sakit swasta, sejak berdiri hingga sekarang. Focus studi dapat berupaperkembangan bangunan fisik, sumber daya, jenis layanan, jumlah pasien pengguna layanan menurut satuan waktu dan unit kerja tertentu, perkembangan biaya dan lain-lain.

Penelian perkembangan perkembangan yang bersifat lintas seksional di maksudkan untuk meneliti perkebangan suatu subjek menurut pola dan urutan berdasarkan fungsi waktu, namun anggota subjek dipilih menurut satuan yang ditetapkan. Misalnya, penelitian mengenai perkembangan nberat badan anak dari 0 sampai 10 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan sekelompok subjek  yang berbeda, misalnya masing-masing lima orang per kelompok. Dari jumlah itu, berat badan di timbangbersama untuk masing-masing kelompok. Misalnya kelompok anak yang berusia 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 11/2 tahun, dan sterusnya, hingga anak berusia 10 tahun.

Penelitian perkmbangan memiliki beberapa ciri dominan, yaitu : (1) memperhatikan beberapa verba lperkemban menurut priode waktu tertentu. (2) objek studi, terutama studi longitudinal, sangat komplek dan teknik sampling sulit duterapkan, (3) objek studi lintas seksional seksional biasanya meliputi subjek yang lebih banyak, tetapi factor-faktor pertumbuhan yang dikaji dan dideskripsi relative sedikit, (4) studi perkembangan berupa peramalan mengenai kecendrungan perubahan suatu subjek baik jangka pendek maupun jangka panjang. Langkah kerja penelitian perkembangan pada umumnya mengikutu arus kerja penelitian lain.

 

3. Penelitian tindakan

Tujuan penelitian tindakan atau penelitian aksi ( action research ) adalah untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan aplikasi langsung pada dunia keperawatan. Proses kerja penelitian tindakan ini terdiri dari empat langkah yang berlangsung secara siklis, yaitu perencanaan, tindakan, evaluasi dan refleksi. Selanjutnya, dilakukan perencanaan ulang (replanning), tindakan ulang, evaluasi ulang, dan refleksi ulang. Proses ini terus berlanjut sampai ditemukan sosok model layanan keperawatan yang dipandang paling baik. Dari siklus ke siklus itu, terbuka kemungkinan luas untuk melakukan modifikasi atas rencana, tindakan,dan evaluasi.

Oleh karena sifatnya demikian, penelitian tindakan bersifat praktis, langsung, dan relevan dengan situasi saat ini dan dunia kerja. Hasil penelitian ini menjadi kerangka dasar bagi tindaka-tindakan atau kebijakan-kebijakan baru. Penelitian tindakan biasanya kurang memiliki ketertiban ilmiah, karena validitas internal dan eksternalnya lemah. Ciri lain dari penelitian tindakan adalah bersifat situasional dan sempelknya terbatas, serta control terhadap variable bebas sangat kecil. Penelitian tindakan di bidang keperawatan lebih beorientasi untuk kepentingan praktis ketimbang untuk pengembangan ilmu.

Contoh penelitian tindakan, missalnya seorang peneliti ingin mengetahui model komunikasi yang efektif antara perawat dan pasien yang dirawat diruma hsakit. Pada tahap awal atau tindakan pertama, peneliti mendesain sebuah model komunikasi persuasive, dilanjutkan dengan implimentasi, observasi, dan refleksi. Berdasarkan hasil reflesi tersebut, peneliti melakukan desain ulang bagaimana model komunikasi persuasife itu dilakukan. Selanjutnya, dilkakukan implementasi ulang. Observasi ulang, dan refleksi ulang. Tindakan ini dapat dilakukan terus-menerus sampai dengan ditemukan model komunikasi yang dipandang paling efektif.

 

4. Penelitian perbandingan klausal

Penelitian perbandingan kausal (causal-comperative research) bertujuan untuk meneliti hubungan sebab-akibat atau kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara mengamati akibat yang ada dan mencari kembali factor-faktor yang mungkin menjadi penyebab Dari akibat itu melalui pengumpulan data teretntu. Berbeda dengan penelitian eksperimen, penelitian ini tidak mengumpulkan data dalam keadaan terkontrol.

Contoh penelitian perbandingan kausal  (causal-comperative research) adalah penelitian mengenai factor-faktor yang mempengaruhi ciri-ciri kepribadian perawat yang akan dipromosikan untuk menduduki jabatan tertentu dengan menggunakan data yang ada pada unit organisasi tempatnya bekerja. Contoh lain, penelitian yang dimaksudkan untuk mencari perilaku dan prestasi kerja seorang dokter kepala Puskesmas yang berkaitan dengan perbedaan usia menduduki jabatan,dengan cara menggunakan data deskriptif mengenai tingkah laku dan prestasi kerja yang di catat atau dapat dicapai sebelum yang bersangkutan menduduki jabatan.

Penelitian perbandingan kausal ini bersifat ex-post facto, yaitu data di kumpulkan setelah semua peristiwa yang dipermasalahkan berlalu. Biasanya, peneliti menentukan satu atau dua akibat sebagai variable terikat. Selanjutnya, mengevaluasi atau menguji data itu dengan mengadakan penelusuran ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab munculnya akibat itu. Karena itu, metode perbandingan kausal sering pula disebut sebagai metode ex post facto. Penelitian perbandingan kausal dilakukan dengan menrapkan langkah-langkah tertentu, sepertinya mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan yang akan diteliti, melakukan studi kepustakaan, merumuskan asumsi hipotesis, menyusun instrument, mengumpulkan dan menganalisanya untuk menguji hipotesis, dan menyusun laporan.

 

5. Penelitian korelasional

Penelitian korelasional ( correlational research) bertujuan untuk menentukan berapa besar variansi-variansi pada satu atau  beberapa faktor lain berdasarkan atas koefisien korelasi. Penelitian korelasional juga dapat didefenisikan sebagai proses investigasi sistematik untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel.Hubungan itu bisa positif atau negatif, signifikan atau tidak signifikan.Sifat utama penelitian ini adalah menjelaskan hakikat dunia nyata, meski tidak dimaksudkan untuk menelaah hubungan sebab akibat ( causes-and-effect relationship). Meski begitu, penelitian korelasional merupakan alat untuk merumuskan hipotesis yang sering digunakan di dalam penelitian eksperimental-semu atau eksperimental-sungguhan yang biasanya dimaksudkan untuk menguji hubungan sebab akibat itu.

Ada beberapa ciri penelitian korelasional, yaitu: (1) variabel yang diteliti relatif rumit, tidak dapat di eksperimentasi dan dimanupulasikan ; (2) mengukur variabel yang berhubungan secara serentak di dalam situasi yang realistik; (3) koefisien korelasi yang ingin dicari adalah positif dan negatif, signifikan atau tidak signifikan, bukan ada atau tidak korelasi itu; dan (4) satu atau lebih variabel lain disebut variabel terikat atau tergantung ( dependent variabel).penelitian korelasional secara umum dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah.

b. Mengidentifikasi masalah.

c. melakukan studi kepustakaan dalam kerangka pendalaman teori dan perumusan hipotesis.

d. Merancang pendekatan yang akan digunakana.Termasuk didalam kegiatan ini adalah mengidentifikasi variabel yang relevan, menentukan subjek penelitian secara tepat, memilih dan menyusun alat ukur yang cocok, dan memilih metode korelasional yang cocok.

e. Melakukan pengumpulan data

f. melaksanakan analisis dan interpretasi data.

g. Menarik kesimpulan, merumuskan rekomendasi dan implikasi dan membuat laporan penelitian.

Di dunia penelitian keperawatan, penelitian korelasional kerap dilakukan.Meski begitu, penelitian ini harus dilakukan secara sangat hati-hati karena memiliki kelemahan mendasar. Beberapa kelemahan penelitian korelasional adalah sebagai berikut:

  • Hasil penelitian cenderung hanya mengidentifikasi suatu variabel sejalan atau berkorelasi dengan variabel lain, bukan atau tidak menunjukan kausalitas hubungan.
  • Tidak melakukan kontrol terhadap variabel, seperti melaksanakan pada penelitian eskperimental, sehingga terbuka lebar peluang untuk lahirnya bias data dan kesimpulan
  • Pola hubungan antar variabel seringkali kabur dan tidak menentu.
  • Seringkali dimanipulasikan atau menggunakan short-gun approach, yaitu memasukkan sejumlah data tanpa melakukan seleksi yang ketat
  • Seringkali hanya menggunakan interpretasi yang berguna atau bermakna saja dengan bersamaan dengan itu mengaburkan interpretasi lain.

 

Beberapa contoh penelitian korelasional adalah sebagai berikut:

  • Penelitian yang dimaksudkan untuk mempelajari hubungan antara mutu pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien dan keluarganya.
  • Penelitian untuk mengetahui hubungan antara nilai ujian masuk calon mahasiswa Akademi Keperawatan dengan prestasi belajarnya selama kuliah.
  • Penelitian untuk mengetahui hubungan antara penguasaaan materi dasar keperawatan dengan kemampuan profesional dan keterampilan teknis perawat dalam melaksanakan tugas-tugas keperawatan.
  • Studi untuk meramalkan keberhasilan mahasiswa keperawatan berdasarkan nilai tes bakat, tes motif  berprestasi dan tes kepribadian.

 

6. Penelitian Eksperimental Semu

Penelitian eskperimental-semu ( quasi-experimental research) dimaksudkan untuk memperoleh informasi tertentu, berupa prakiraan informasi yang dapat diperoleh pada eksperimen yang sebenarnya.Penelitian ini dilakukan pada kondisi yang tidak memungkinkan mengontrol atau memanipulasikan semua variabel yang relevan.Aspek validitas internal dan eksternal yang seharusnya diperhatikan oleh peneliti dalam membuat rancangannya, kurang menjadi titik tekan dalam makna bahwa peneliti bekerja dengan keterbatasan-keterbatasan itu.

Dilihat dari perspektif lain, penelitian eksperimental-semu bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan, mengklarifikasi mengapa suatu peristiwa terjadi, atau keduanya ( Cook & Campbell, 1979).Penelitian ini menonjolkan sifat-sifat hubungan kausalitas. Karenanya, cocok dijadikan dasar untuk memprediksi fenomena. Namun demikian, oleh karena kontrolnya berada pada tingkat rendah, “derajat ilmiahnya” kurang dibandingkan dengan penelitian eksperimental sungguhan, karena adanya kelemahan pada salah satu atau lebih dari faktor-faktor berikut ini:

(1). Manipulasi variabel perlakuan, (2) manipulasi situasi, dan (3) pemilihan subjek penelitian.

Ada beberapa ciri dominan studi eksperimental-semu, yaitu: (1) aspek yang diteliti bersifat praktis dengan tidak mungkin mengontrol semua variabel yang relevan, kecuali beberapa variabel; (2) menggunakan kontrol parsial; (3) sering kali dilakukan secara tidak formal, sehingga perlu diberi kategori tersendiri agar tidak menjadi sebuah penjelajahan semata. Penelitian eksperimental-semu dapat dilakukan di bidang keperawatan, meski paling sering dipakai pada bidang psikologi.

Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan penelitian ini? Langkah-langkah penelitian eksperimental sungguhan seperti diuraikan pada bagian berikut dapat diikuti dan diterapkan dalam kerangka penelitian ini.Namun demikian, peneliti perlu mengakui masing-masing keterbatasan, khususnya dalam hal kelemahan validitas internal dan eksternalnya

Beberapa contoh penelitian eksperimental-semua adalah sebagai berikut.

  1. Penelitian untuk menyelidiki efek kecepatan membaca mengenai prosedur perawatan pada tiga kelompok belajar mahasiswa keperawatan tanpa menentukan penempatan meraka pada perlakuan secara random, berdasarkan tingkat kecerdasan, jenis kelamin, atau mengawasi waktu membaca mereka secara cermat.
  2. Penelitian untuk menilai tingkat efektivitas tiga jenis layanan komunikasi keperawatan ( Satu arah, dua arah dan persuasif) jika perawat dapat  secara sukarela melakukannnya karena tertarik terhadap cara berkomunikasi didalam bekerja.
  3. Penelitian dalam pendidikan keperawatan yang menggunakan tes awal dan tes akhir, yang didalamnya variabel-variabel seperti kematangan, efek pentesan, resgresi statistik, dan adaptasi tidak dapat dihindari atau terlewat di dalam penelitian.

 

7. Penelitian Eksperimental

Penelitian dengan pendekatan percobaan atau eksperimental ( experimental research ) atau penelitian eksperimental-sungguhan ( true-experimental research) dimaksudkan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab- akibat ( cause-and-effect- relationship) dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan atau treatment. Penelitian eksperimental juga dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematik, dan terkontrol untuk tujuan memprediksi atau mengontrol fenomena. Tujuan penelitian ini, karenanya, dimaksudkan untuk menguji hubungan kausalitas.

 

Penelitian eksperimental memiliki ciri yang berbeda dengan penelitian lainnya, termasuk penelitian eksperimental-semu. Ciri-ciri Penelitian eksperimental antara lain dideskripsikan seperti berikut ini.

  1. Variable-variabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib-ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan control, memanipulasi langsung, meupun random.
  2. Menggunakan kelompok control sebagai data dasar (base-line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.
  3. Memusatkan diri pada pengontrolan vriansi, untuk memaksimalkan variansi variable pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Juga, meminimalkan variansi kekeliruan atau rambang, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek ke dalam kelompok-kelompok dilakukan secara rambang.
  4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
  5. Validitas eksternal (external validity) berurusan dengan sampai sejauh mana penemuan penelitian itu representative dan dapat digeneralisasikan pada kondisi yang sama.
  6. Semua variable penting diusahakan konstan, kecualu variable perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
  7. Perlakuan sering kali artificial atau buatan, dan karenanya sering kurang objektif diterapkan pada kondisi kehidupan social.

 

Bagaimana penelitian eksperimental itu dilakukan secara baik dan benar? Penelitian ini umumnya dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.

  1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah
  2. Melakukan studi pustaka
  3. Merumuskan hipotesisatas atas dasar hasil studi pustaka
  4. Merumuskan definisi istilah atau definisi operasional variable.
  5. Menyusun rancangan eksperimental, yang meliputi identifikasi variable yang relevan, identifikasi variable non-eksperimen, menentukan rancangan, memilih sampel yang representative bagi populasi tertentu, perlakuan, meyususn alat ukur hasil eksperimen, rancangan prosedur pengumpulan data, dan menguji hipotesis.
  6. Melaksanakan eksperimen
  7. Menganalisis data dan melakukan tes signifikan untuk  menentukan tahap signifikan untuk menetukan tahap signifikan hasilnya.
  8. Interpretasi hasil, perumusan kesimpulan, diskusi, dan pembuatan laporan

 

Beberapa contoh penelitian eksperimental yaitu:

  1. Penelitian mengenai pengaruh dua jenis metode kuliah terhadap prestasi mahasiswa keperawatan sebagai fungsi ukuran kelas (besar dan  kecil) dan taraf intelegensi mahasiswa (cerdas, tinggi, dan sedang), dengan menempatkan dosen secara random berdasarkan intelegensi, model mengajar, dan ukuran kelas tersebut.
  2. Penelitian untuk menyelidiki dampak pemberian makanan tambahn di sekolah bagi anak-anak sekolah keperawatan di daerah tertentu, dengan memperhatikan tingkat social-ekonomi orang tua dan inteligensi mereka.

Penelitian untuk menyelidiki efek program pelatihan bagi pertumbuhan profesioanl perawat, dengan menggunakan kelompok eksperimen (yang menerima program itu) dan kelompok control (yang tidak menerima program itu), dan dengan menggunakan rancangan tes awal-tes akhir (pretest and posttest), yang hanya setengah dari mereka tersebut secara randommenerima tes awal;untuk menentukan berapa besar perubahan pertumbuhan professional itu dapat dikatakan akibat dari pengetesan awal atau oleh program pelatihan.

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “PENELITIAN KUANTITATIF”

  1. Comments are closed.
May
17
2012