Sirosis Hepatis | HealthyEnthusiast

You are here: » Sirosis Hepatis

Sirosis Hepatis

Sirosis Hepatis
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

Pengertian

Sirosis Hepatis adalah penyakit kronik pada hati, progresif dengan karakteristik adanya fibrosis dan nodula yang meluas pada hepar. (Black & Jacobs, 1997).

Sirosis Hepatis adalah penyakit progresif kronik yang dikarakteristikkan dengan penyebaran inflamasi dan fibrosis pada hepar.

(Barbara Engram, 1999).

 

  1. Anatomi Fisiologi
  1. Struktur Makroskopis

Hati adalah organ yang terbesar permukaan superior cembung dan terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah hati adalah cekung dan merupakan atap ginjal kanan, lambung, pankreas dan usus. Hati memiliki 2 lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan posterior oleh fibula segmentalis kanan yang tidak terlihat dari luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum falsiforme yang dapat dilihat dari luar. Ligamentum falsiforme berjalan dari hati ke diafragma dan dinding depan abdomen. Permukaan hati diliputi oleh peritorium viseralis, kecuali daerah kecil pada permukaan posterior yang melekat langsung pada diafragma.

Beberapa ligamentum  yang merupakan lipatan peritonium terdapat jaringan penyambung padat yang dinamakan kapsula glisson; yang meliputi seluruh permukaan organ; kapsula ini pada hilus antara porta hepatis di permukaan inferior, melanjutkan diri ke dalam. Massa hati, membentuk  rangka untuk cabang-cabang vena porta, arteri hepatika dan saluran empedu.

 

 

 

  1. Struktur Mikroskopis

Unit fungsional hepar: lobulus, berbentuk silinder yang berdiameter + 1,5 mm dengan panjang + 8 mm. Setiap lobus hepar berisikan 50.000 – 100.000 lobulus. Barisan sel-sel hepar (hepatitis) menyebar dari venula sentral seperti jari-jari roda. Cabang-cabang dari A. hepatika dan V. Portal hepatika terletak pada bagian perifer roda. Dari cabang-cabang ini dialirkan ke dalam saluran-saluran terbuka (sinus hepatika) yang menjalar diantara barisan-barisan hepatosit. Sel-sel putih khusus dari RES memfagositosis bakteri dan benda asing di dalam sinus darah. Sinus-sinus ini mengalir ke dalam venula sentral yang selanjutnya membawa darah ke V hepatika. Kanalikuli empedu berujung buntu muncul diantara barisan hepatosit yang lain. Kanalikuli ini membawa empedu yang baru disekresi ke duktus  yang lebih besar, yang terletak di bagian parifer.

Fungsi utama hati :

-          Metabolisme zar-zat makanan karbohidrat, protein dan lemak.

-          Sebagai tempat penyimpanan vitamin dan mineral seperti : vitamin A, D, E, K juga vitamin B 12 dan zat besi.

-          Fungsi detoksitifikasi yaitu menetralkan zat-zat yang bersifat racun.

-          Memproduksi protein plasma : albumin, globulin dan empedu serta mengalirkan ke dalam duodenum.

 

  1. Etiologi
  1. Alkoholisme
  2. Virus hepatitis tipe B, C
  3. Obstruksi atau infeksi saluran empedu

 

  1. Klasifikasi
  1. Portal cirosis/ Laennec’s cirosis

Tipe sirosis hepatis yang merupakan proses degeneratif sel-sel hati yang didahului oleh infiltrat lemak pada sel hati, umumnya disebabkan oleh penggunaan alkohol dan malnutrisi.

  1. Postnekrotik Cirosis

Cirosis ini terjadi setelah peradangan hati, umumnya disebabkan oleh virus Hepatitis B, Hepatitis C, gangguan autoimun dan penggunaan obat-obatan yang lama.

  1. Billier Sirosis

Disebabkan oleh obstruksi kandung empedu dan infeksi, hal ini menyebabkan fibrosis pada hati yang disertai kuning.

 

  1. Patofisiologi
  • Portal cirosis à alkohol merangsang pembentukan trigliserida dan menimbulkan akumulasi lemak. Pada alkoholik juga terjadi malnutrisi protein yang merangsang terjadinya infiltrasi lemak. Akibat dari akumulasi lemak dalam ruang selular menyebabkan hepar membesar, berlemak dan fibrosis dan mengalami gangguan fungsional.
  • Postnekrotik  cirosis à adanya riwayat hepatitis virus sebelumnya, dimana terjadi nekrosis yang menimbulkan nodula-nodula degeneratif besar dan kecil yang dikelilingi oleh jaringan parut.
  • Sirosis biliaris à terjadi akibat obstruksi biliaris post hepatic, dimana statis empedu menyebabkan penumpukan empedu dalam massa hati dan merusak sel-sel hati, membentuk fibrosa di tepi lobulus. Hati membesar, keras dan berwarna hijau.

Click here to download pathway

 

  1. Tanda dan Gejala
  • Cepat lelah setelah beraktivitas
  • Anoreksia
  • Perut kembung, mual dan muntah
  • BB menurun
  • Ikterus
  • Hematemesis dan melena
  • Asites dan edema
  • Hepatomegali dan splenomegali
  • Spider nervi
  • Urine berwarna pekat atau kecoklatan
  • Anemia

 

  1. Test Diagnostik
  1. Pemeriksaan laboratorium :

-          Darah : Hb, trombosit, leukosit menurun

-          LFT : SGOT, SGPT meningkat

-          Protrombin time memanjang

-          Serum albumin menurun

-          Urine : peningkatan urobilinogen

-          Pemeriksaan HbsAg dan HbAb à menentukan etiologi sirosis hepatis.

  1. Pemeriksaan penunjang lain

-          USG

-          CT Scan

-          Biopsi Hepar

 

  1. Penatalaksanaan medik
  1. Berobat secara teratur
  2. Istirahat yang cukup
  3. Pemberian vitamin B komplek
  4. Diit hati
  5. Pasien sirosis hepatis yang diketahui penyebabnya, seperti : alkohol dan obat-obatan lain dianjurkan untuk menghentikan penggunaannya.
  6. Untuk asites diberikan diit rendah garam serta terapi diuretik dan infus albumin
  7. Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid, pada keadaan lain dilakukan terapi terhadap komplikasi yang timbul.

 

  1. Komplikasi
  • Hipertensi portal dan varises esofagus
  • Asites dan edema perifer
  • Koma hepatis

 

  1. Konsep Dasar Keperawatan
    1. Pengkajian
      1. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan

-          Riwayat penggunaan alkohol, obat-obatan dalam waktu lama

-          Riwayat obstruksi saluran empedu dan infeksi (hepatitis)

  1. Pola nutrisi metabolik

-          Anoreksia, mual, muntah

-          Anemik, ikterus

-          Nyeri abdomen dan distensi abdomen

-          Asites, edema perifer

-          Pembesaran hepar, limpa

-          Kehilangan BB

  1. Pola eliminasi

-          Urine gelap, penurunan output urine

-          Feses hitam, perubahan kebiasaan bab

  1. Pola aktivitas dan latihan

-          Lemah, sesak napas

-          Nafas dangkal, cepat lelah

  1. Pola persepsi sensori kognitif

-          Nyeri pada kuadran kanan atas/epigastrik

-          Pruritus

  1. Pola reproduksi dan seksualitas

-          Amenorrhoea

-          Libido menurun

 

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual, muntah.
    2. Kelebihan volume cairan tubuh b.d asites, edema
    3. Ketidakefektifan pola napas b.d tekanan pada diafragma dan penurunan volume paru-paru akibat asites.
    4. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, anemia, asites, dyspnea
    5. Resiko tinggi infeksi b.d leukopenia
    6. Resiko tinggi perdarahan b.d edema, trombositopenia, masa pembekuan memanjang.
    7. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d ketidakmampuan mengeluarkan sekresi serta perdarahan varises esopagus.

 

  1. Perencanaan
    1. DP: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah.

HYD : Intake nutrisi adekuat, BB dalam batas normal.

 

 

 

Rencana Tindakan :

  1. Monitor BB

R/   Mengevaluasi status nutrisi

  1. Anjurkan untuk rawat mulut sebelum makan

R/   Meningkatkan nafsu makan

  1. Beri makan dalam porsi kecil tapi sering

R/   Mengurangi mual dan mempertahankan status nutrisi

  1. Berikan antiemetik sesuai program medik

R/   Mengurangi mual dan muntah

  1. DP: Kelebihan volumen cairan tubuh b.d edema, asites.

HYD : Pruritus berkurang sampai hilang dan integritas kulit dapat dipertahankan.

Rencana Tindakan :

  1. Batasi intake sodium dan cairan sesuai program medik

R/   Mengurangi sekresi cairan

  1. Monitor intake dan output

R/   Mengkaji keseimbangan cairan dan fungsi ginjal

  1. Berikan diuretik sesuai program medik

R/   Mencegah retersi dan meningkatkan deuresis

  1. Kaji edema: lokasi, timbang berat badan dan ukur lingkat perut.

R/   Menentukan respon pasien terhadap pengobatan.

  1. Tinggikan area edema

R/   Melancarkan aliran vena

 

  1. DP: Ketidakefektifan pola nafas b.d tekanan pada diafragma dan penurunan volume  paru-paru akibat dari asites.

HYD : Pola nafas efektif, tidak ada tanda-tanda sianosis dan hipoksia.

Rencana Tindakan :

  1. Beri posisi fowler atau semifowler, sokong tangan dan dada dengan bantal.

R/   Memaksimalkan ekspansi paru dan mengurangi tekanan pada diafragma.

  1. Observasi bunyi napas (auskultasi)

R/   Crackles menandakan adanya cairan dalam paru.

 

 

  1. Kaji irama dan jumlah pernapasan

R/   Mengidentifikasi dyspnea pada pasien

  1. K/p beri O2 sesuai program medik dan therapi

R/   Memenuhi kebutuhan O2 yang adekuat membantu mempercepat penyembuhan.

  1. DP: Intoleransi beraktivitas b.d kelemahan, anoreksia, asites, dispnea.

HYD : Peningkatan kemampuan aktivitas

Rencana Tindakan :

  1. Kaji kemampuan klien beraktivitas

R/   Menentukan intervensi selanjutnya

  1. Anjurkan istirahat dan beraktivitas sesuai kebutuhan

R/   Mengurangi kebutuhan metabolik hepar dan meningkatkan pemulihan sel hepar.

  1. Monitor Hb dan Ht

R/   Mendeteksi perdarahan

  1. Bantu dalam pemenuhan ADL

R/   Memenuhi kebutuhan pasien

  1. DP: Risiko tinggi infeksi b.d leukopenia

HYD : Tidak ada tanda-tanda infeksi

Rencana Tindakan :

  1. Kaji faktor-faktor resiko termasuk leukopenia dan perubahan sirkulasi.

R/   Identifikasi infeksi secara dini.

  1. Observasi nilai leukosit

R/   Peningkatan leukosit merupakan indikasi infeksi.

  1. Monitor suhu setiap 4 jam.

R/   Demam merupakan indikator adanya infeksi.

  1. Hindarkan pasien dari infeksi lain atau pasien dengan infeksi lain

R/   Mengurangi risiko infeksi sekunder

  1. Kolaborasi dokter dalam pemberian therapi antibiotika

R/   Mencegah infeksi

  1. DP: Risiko tinggi perdarahan b.d anemia, trombositopenia, masa pembekuan memanjang.

HYD : Perdarahan tidak terjadi.

 

 

 

Rencana Tindakan :

  1. Monitor perdarahan dengan mengkaji epistaksis, purpura, ptekie, perdarahan gusi, hematuria, melena.

R/   Penyakit hepar mengakibatkan kerusakan sintesis faktor pembekuan.

  1. Observasi perdarahan dari organ, urine dan feses.

R/   Mendeteksi dini dan mengidentifikasi intervensi selanjutnya.

  1. Gunakan jarum suntik kecil saat injeksi dan tekan lama setelah injeksi.

R/   Meminimalkan risiko perdarahan.

  1. Gunakan sikat gigi yang lembut

R/   Mengurangi pada mulut karena membran mukosa membran resiko tinggi trauma.

  1. Monitor Hb, Ht, masa pembekuan/perdarahan.

R/   Indikator anemia, perdarahan aktif atau ancaman komplikasi.

  1. DP: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d ketidakmampuan mengeluarkan sekresi serta perdarahan varises esofagus.

HYD : Jalan napas efektif

Rencana Tindakan :

  1. Kaji bersihan jalan napas

R/   Menentukan intervensi selanjutnya

  1. Lakukan suction secara teratur bila ada slem

R/   Mengurangi resko aspirasi akibat pasien tidak dapat menelan.

  1. Beri posisi fowler/semifowler

R/   Meningkatkan ekspansi paru sehingga memudahkan pengeluaran sekret.

  1. Beri perawatan mulut secara teratur

R/   Memberi/meningkatkan rasa nyaman.

 

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “Sirosis Hepatis”

  1. Comments are closed.
May
10
2012