TRANSPLANTASI Dan Cangkok GINJAL | HealthyEnthusiast

You are here: » TRANSPLANTASI Dan Cangkok GINJAL

TRANSPLANTASI Dan Cangkok GINJAL

TRANSPLANTASI Dan Cangkok GINJAL
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)
  1. Pengertian Transplantasi Ginjal
  • Menurut Brunner and Suddarth

Transplantasi ginjal melibatkan menanamkan ginjal dari donor hidup atau kadaver menusia resipein yang mengalami penyakit ginjal tahap akhir.

transplantasi ginjal dapat dilakukan secara “cadaveric” (dari seseorang yang telah meninggal) atau dari donor yang masih hidup (biasanya anggota keluarga). Ada beberapa keuntungan untuk transplantasi dari donor yang masih hidup, termasuk kecocokan lebih bagus, donor dapat dites secara menyeluruh sebelum transplantasi dan ginjal tersebut cenderung memiliki jangka hidup yang lebih panjang.

 

2. Etiologi

Penyakit gagal ginjal terminal (stadium terakhir).

 

  1. Beberapa terminologi dalam transplantasi, yaitu
    1. Autograft adalah transplantasi dimana jaringan yang dicangkokkan berasal dari individu yang sama.
    2. Isograft adlah transplantasi dimana jaringan yang dicangkokkan berasal dari saudara kembar.
    3. Allograft adalah transplantasi dimana jaringan yang dicangkokkan berasal dari individu dain dalam spesies yang sama.
    4. Xenograft adalah transplantasi dimana jaringan yang dicangkokkan berasal dari spesies yang berbeda. Misalnya ginjal baboon yang ditransplantasikan kepada manusia.


Click here to download pathway transplantasi ginjal

 

 

Komplikasi

    1. Penolakan pencangkokan

Yaitusebuah serangan dari sistem kekebalan terhadap organ donor asing yang dikenal oleh tubuh sebagai jaringan asing. Reaksi tersebut dirangsang oleh antigen dari kesesuaian organ asing. Ada tiga jenis utama penolakan secara klinik, yaitu hiperakut, akut, dan kronis.

  1. Infeksi

Infeksi meninggalkan masalah yang potensial dan mewakili komplikasi yang paling serius memberikan ancaman kehidupan pada periode pencangkokan jaman dulu. Infeksi sistem urine, pneumonia, dan sepsis adalah yang sering dijumpai.

  1. Komplikasi sistem urinaria

Salah satunya adalah terputusnya ginjal secara spontan. Komplikasi yang lain adalah bocornya urine dari ureteral bladder anastomosis yang menyebabkan terjadinya urinoma yang dapat memberi tekanan pada ginjal dan ureter yang mengurangi fungsi ginjal.

  1. Komplikasi kardiovaskular

Komplikasinya bisa berupa komplikasi lokal atau sistem. Hipertensi dapat terjadi pada 50%-60% penderita dewasa yang mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya stenosis arteri ginjal, nekrosis tubular akut, penolakan pencangkokkan jenis kronik dan akut, hidronefrosis.

  1. Komplikasi pernafasan

Pneumonia yang disebabkan oleh jamur dan bakteri adalah komplikasi pernafasan yang sering terjadi.

  1. Komplikasi gastrointestinal

Hepatitis B dan serosis terjadi dan mungkin dihubungkan dengan penggunaan obat-obatan hepatotoksik.

  1. Komplikasi kulit

Karsinoma kulit adalah yang paling umum. Penyembuhan luka dapat menjadi lama karena status nutrisi yang kurang, albu,in serum yang sedikit dan terapi steroid.

  1. Komplikasi-komplikasi yang lain

Sistem lain juga diakibatkan oleh komplikasi sesudah pencangkokan diabetes militus yang disebabkan oleh steroid, mungkin bisa berkembang. Akibat terhadap muskuluskeletal yang termasuk adalah osteoporosis dan miopaty. Nekrosis tulang aseptik adalah utamanya disebabkan oleh terapi kortikosteroid. Masalah reproduksi yang digambarkan dalam frekuensi CRF muncul setelah transplantasi.

  1. Kematian

Rata-rata kematian setelah 2 tahun pelaksanaan transplantasi tersebut hanya 10%. Hal ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kematian yang berarti dalam dua dekade yang lalu, sebelumnya tingkat ketahanan hidup hanya 40-50%. Khususnya rata-rata kematian yang menurun yang diakibatkan oleh infeksi pada dua tahun pertama setelah dua tahun pencangkokkan telah terjadi.

 

  1. Keberhasilan transplantasi ginjal menurut harapan klinis
    1. Lama hidup ginjal cangkok (Graft Survival)

Lama hidup ginjal cangkok sangat dipengaruhi oleh kecocokan antigen antara donor dan resipien. Waktu paruh ginjal cangkok pada HLA identik 20-25 tahun, HLA yang sebagian cocok (one-haplotype match) 11 tahun dan pada donor jenazah 7 tahun. Lama hidup ginjal cangkok pada pasien diabetes militus lebih buruk daripada non diabetes.

  1. Lama hidup pasien (Patient Survival)

Sumber organ donor sangat mempengaruhi lama hidup pasien dalam jangka panjang. Lama hidup pasien yang mendapat donor ginjal hidup lebih baik dibanding donor jenasah, mungkin karena pada donor jenasah memerlukan lebih banyak obat imonosupresi. Misalnya pada pasien yang ginjal cangkoknya berfungsi lebih dari satu tahun, didapatkan lama hidup pasien 5 tahun (five live survival)  pada donor hidup 93 % dan pada donor jenasah 85 % penyakit eksternal seperti diabetes militus akan menurunkan lama hidup pasien.

 

  1. Faktor-faktor yang berperan dalam keberhasilan transplantasi ginjal

Transplantasi ginjal merupakan transplantasi yang paling banyak dilakukan dibanding transplantasi organ lain dan mencapai lam hidup paling panjang. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan transplantasi ginjal terdiri faktor yang bersangkut paut dengan donor, resipien, faktor imunologis, faktor pembedahan antara lain penanganan pra-operatif dan paska operasi.

 

  1. Donor ginjal

Kekurangan ginjal donor merupakan masalah yang umum dihadapai di seluruh dunia. Kebanyakan negara maju telah menggunakan donor jenasah (cadaveric donor). Sedangkan negara-negara di Asia masih banyak mempergunakan donor hidup (living donor). Donor hidup dapat berasal dari individu yang mempunyai hubungan keluarga (living related donor) atau tidak ada hubungan keluarga (living non related donor). Kemungkinan mempergunakan donor hidup bukan keluarga berkembang menjadi suatu masalah yang peka, yaitu komersialisasi organ tubuh.

  • Donor hidup

Donor hidup, khususnya donor hidup yang mempunyai hubungan keluarga harus memnuhi beberapa syarat :

a)      Usia lebih dari 18 tahun s/d kurang dari 65 tahun.

b)      Motivasi yang tinggi untuk menjadi donor tanpa paksaan.

c)      Kedua ginjal normal.

d)     Tidak mempunyai penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal dalam waktu jangka yang lama.

e)      Kecocokan golongan darah ABO, HLA dan tes silang darah (cross match).

f)       Tidak mempunyai penyakit yang dapat menular kepada resepien.

g)      Sehat mental.

h)      Toleransi operasi baik.

Pemeriksaan calon donor meliputi anamnesis, pemeriksaan fisis lengkap; termasuk tes fungsi ginjal, pemeriksaan golongan darah dan sistem HLA, petanda infeksi virus (hepatitis B, hepatitis C, CMV, HIV), foto dada, ekokardiografi, dan arteriografi ginjal.

  • Donor jenazah

Donor jenazah berasal dari pasien yang mengalami mati batang otak akibat kerusakan otak yang fatal, usia 10-60 tahun, tidak mempunyai penyakit yang dapat ditularkan seperti hepatitis, HIV, atau penyakit keganasan (kecuali tumor otak primer). Fungsi ginjal harus baik sampai pada saat akhir menjelang kematian. Panjang hidup ginjal transplantasi dari donor jenasah yang meninggal karena strok, iskemia, tidak sebaik meninggal karena perdarahan subaracnoid.

  1. Resipien Ginjal

Pasien gagal ginjal terminal yang potensial menjalani transplantasi ginjal harus dinilai oleh tim transplantasi. Setelah itu dilakukan evaluasi dan persiapan untuk transplantasi. Frekuensi dialisis menjadi lebih sering menjelang opersi untuk mencapai keadaan seoptimal mungkin pada saat menjalani operasi.

Dilakukan pemeriksaan jasmani yang teliti untuk menetapkan adanya hipertensi, penyakit pembuluh darah perifer dan penyakit jantung koroner, ulkus peptikum dan keadaan saluran kemih. Disamping itu pemeriksaan laboratorium lengkap termasuk pertanda infeksi virus (hepatitis, CMV, HIV) foto dada, USG, EKG, ekokardiografi, pemeriksaan gigi geligi dan THT.

Resipien yang potensial untuk transplantasi ginjal

a)      Dewasa

b)      Pasien yang kesulitan menjalani hemodialisis dan CAPD.

c)      Saluran kemih bawah harus normal bila ada kelainan dikoreksi terlebih dahulu.

d)     Dapat mnejalani terapi imunosupresi dalam jangka waktu lama dan kepatuhan berobat tinggi.

Kontra indikasi

a)      Infeksi akut : tuberkolosis, infeksi saluran kemih, hepatitis akut.

b)      Infeksi kronik, bronkietaksis.

c)      Aterotema yang berat.

d)     Ulkus peptikum yang aktif.

e)      Penyakit keganasan.

f)       Mal nutrisi

  1. Imunologi transplantasi

Ginjal donor harus mempunyai kecocokan secara imunologi dengan ginjal resepien agar transplantasi berhasil baik. Golongan darah (ABO) yang sama merupakan syarat yang utama. Kesesuaian imunologis pada transplantasi ginjal dinilai dengan memeriksa pola HLA.

Bila ginajal yang dicontohkan tidak cocok secara imunologis akan timbul reaksi rejeksi. Reaksi ini sebenarnya merupakan usaha tubuh resepien untuk menolak be3nda asing yang masuk ketubuhnya. Ada tiga jenis reaksi rejeksi yang dikenal pada transplantasi ginjal, yaitu :

  • Reaksi hiperakut

Terjadi segera dengan beberapa menit atau beberapa jam setelah klem pembuluh darah dilepas. Disebabkan adanya antibodi terhadap sistem ABO atau sistem HLA yang tidak cocok. Rejeksi hiperaktif tidak bisa diatasi harus dilaksanakan nefrektomi ginjal cangkok. Rejeksi hiperakut saat ini jarang terjadi oleh karena dapat dihindarkan dengan pemeriksaan reaksi silang.

  • Rejeksi akut

Biasanya terjadi dalam waktu 3 bulan pasca transplantasi, dapat dicetuskan oleh penghentian atau pengurangan dosis obat imunoisupresi. Manifestasi klinis : demam, mialgia malaise, nyeri pada ginjal baru, produksi urine menurun, berat badan meningkat, tekanan darah naik, kreatinin serum meningkat, histopatologi.

Terapi rejeksi akut :

  1. Metil prednisolon: 250 mg-1 gr IV/hari selama 3 hari. Respon umumnya setelah didapatkan 3 hari.
  2. 2.      ALG (anti limphocyte globulin), ATG (anti thympocyte globulin) atau antibodi monoklonsl (OKT-3) sebagai terapi alternatif bila tidak teratasi.
  • Rejeksi kronik

Terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun pasca transplantasi. Pada rejeksi kronik terjadi penurunan fungsi ginjal cangkok. Belum ada pengobatan yang spesifik untuk mengobati rejeksi kronik.

 

  1. 7.     Persiapan pembedahan (Pra-Operatif dan perioperatif)

Persiapan pra-operatif untuk calon resipien bertujuan untuk :

  • Menilai kemampuan menjalani operasi besar.
  • Menilai kemampuan menerima obat imunosupresi untuk jangka waktu yang lama.
  • Menilai status vaskular tempat anastomosis.
  • Menilai traktus urinarius bagian bawah.
  • Menghilangkan semua sumber infeksi.
  • Menilai dan mempersiapkan unsur psikis.

 

Persiapan pra-operatif untuk calon donor bertujuan untuk ;

  • Menilai kerelaan (tak ada unsur paksaan atau jual beli)
  • Menilai kemampuan untuk nefrektomi
  • Menilai akibat jangka panjang ginjal tunggal
  • Menilai kemungkinan anastomosis
  • Menilai kecocokan golongan darah ABO, HLA dan crossmatch.

 

  1. 8.     Obat-obat imunosupresi

Untuk mencegah terjadinya rejeksi, kepada pasien yang mengalami transplantasi ginjal diberikan obat-obat imunosupresi. Pilihan obat, kombinasi obat serta dosis obat tergantung kepada respons dan kecocokan antara antigen donor dengan resepien disamping faktor lain. Ada berbagai macam obat imunosupresi yang tersedia, pada umumnya dikelompokkan menjadi :

  1. Obat imunosupresi Konvensional :

ü  Siklosporin- A

ü  Kortikosteroid

ü  Azatioprin

ü  Antibodi monoklonal: OKT-3

ü  Antibodi poliklonal : ALG (antilyphocyte globulin), ATG (anti thympocyte globulin)

  1. Obat imunosupresi baru

Ada lebih dari 12 obat imunosupresif baru yang diteliti, namun sampai saat ini yang dianggap memenuhi syarat dari hasil percobaan klinis dan sudah dipakai luas hanyalah tacrolimus dan mycophenolate mofetil (MMF).

Catatan :

ü  Efek samping tacrolimus hampir sama dengan siklosporin

ü  Infeksi yang timbul biasanya CMV (cytomegalo virus)

ü  ATG (anti thympocyte globulin)

ü  ALG (anti limpocyte globulin)

ü  MMF (micophenolate mofetil)

  1. 9.     Proses transplantasi ginjal
  • Ø Ginjal yang rusak diangkat. Kelenjar adrenal dibiarkan ditempatnya arteri dan vena renal diikat.
  • Ø Ginjal transplan diletakkan di fosa iliaka.
  • Ø Arteri renal dari ginjal donor dijahit ke arteri iliaka dan vena renal dijahit kevena iliaka.
  • Ø Ureter ginjal donor dijahit kekandung kemih atau ke ureter pasien.

 

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

  1. 1.      PENGKAJIAN

Pre-operative

  • Status nutrisi : kebutuhan nutrisi ,obesitas , penggunaan obat dan alcohol
  • Status pernafasan : pola pernafasan , frekwensi dan kedalaman
  • Status kardiovaskuler :fungsi system kardiovaskuler
  • Fungsi hepatic : fungsi hepar
  • Fungsi endokrin: pemeriksaan kadar gula darah
  • Fungsi imonologi : reaksi alergi sebelumnya , medikasi ,transfuse darah
  • Terapi medikasi sebelumnya : segala medikasi sebelumnya , termasuk obat –obatan yang dijual bebas dan frekwensi penggunaanya
  • Pertimabanagn gerontology : lansia dianggap memiliki resiko pembedahan yang lebih buruk dibandingkan pasien yang lebih muda

 

Pasca operatif

  • Status pernafasan : frekwensi kedalaman , pola pernafasan
  • Status sirkulasi dan kehilangan darah : tanda-tanda vital , tekana darah arteri dan vena sentral , warna dan suhu kulit , keluaran urin , keadaan luka insisi , dan selang drainase
  • Nyeri : lokasi dan intesitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian preoart analgesic , adanya distensi abdomen
  • Drainase ; keluaran urin dan drainase ( jumlah,warna,tipenya ) dari selang yang di pasang pada saat pembedahan, penurunan atau tidak adanya drainase urin.

 

 

 

  1. 2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN, PERENCANAAN, IMPLEMENTASI DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

Pre-operatif

  1. Diagnosa keperawatan : anxietas yang berhubungan dengan pengalaman bedah ( anastesi,nyeri ) dan hasil akhir pembedahan

Tujuan : menurunkan anxietas dan cemas praoperatif

Intervensi :

a)      kaji ketakutan dan kecemasan pasien sebelum dilakukan pembedahan .

R / : memberi data dasar untuk pengkajian praoperatif

b)      kaji pengetahuan pasien mengenai prosedur pembedahan dan kemungkinan hasil akhir pembedahan.

R / :memberiakn dasar yang lebih lanjut

c)      Evaluasi perubahan makna bagi pasien dan anggota keluarga atau pasangannya .

R / :memudahakan pemahan akan reaksi atau respon pasien terhadap kemungkinan hasil akhir pembedahan.

d)     Dorong pasien untuk mengutarakan dengan kata-kata reaksi , perasaan dan ketakutannya.

R / : verbalisasi respon sering diperlukan untuk mengkaji pemahan pasien terhadap hal-hal tersebut dan pemecahannya.

e)    dorong pasien untuk membagi perasaanya denagn pasangannya.

R / :memudahkan pasien dan pasanagnya untuk menerima dukungan bersama dan mengurangi perasaan terisolasi satu sama lain.

 

 

 

  1. Diagnosa keperawatan ; defisut pengetahuan mengenai prosedur dan protocol praoperatif dan harapan pasca operatif.

Tujuan ; meningkatan pengetahuan tentang persiapan  praoperatif dan harapan pasca operatif

Intervensi ;

a)      mengikut sertakan pasien dalam persiapan      praoperatif.

R/ :keikut sertaan pasien dalam prosedur persiapan praoperatif akan dapat sedikit mengurangi resiko yang didapat pada pasca operatif.

b)      Menjelaskan dan mendemostrasiakn tentang latihan-latihan pasca operatif.

R/ :   latiahn latihan iniakan dibutuhkan oleh apsien setelah operasi.

c)       Memberikan penjelasan yang jelas dan sederhana tentang perawatan pasca operatif.

R / ;pasien harus mengetahui segala informasitentang perawatan pasca operatif

d)     Memberikan penjelasan tentang medikasi praanestesi

R/;pasien tidak akan menolak medikasi-mediska prasnestesi yang akan dilakukan oleha perawat,dokter,ataupun ahli anestesi

e)      Menganjurkan pasien untuk tetap berada ditempat tidur sebelum prisedur dilakukan.

R/:minimalnya aktifitas yang dilakukan akan sangat berpengaruh pada saat dilakukan pembedahan

f)       Menganjurkan pasien untuk rileks selama masa transformasi keunit operasi

R/:suasana rileks sanagt dibutuhkan karma apabila  pasien cemaas akan berpenagruh pada hasil akhir pembedhan.

g)      Menjelaskan penggunaan pagar tem,pat tidu pada pasien dan keluarga.

R/:penggunaan tempat tidur sanagt dibutuhkan untuk mengurangi resiko cedera/kecelakaan.

 

Post-operatif

  1. Diagnosa keperawatan : nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi operatif , pengaturan posisi dan peregangan otot selamapembedahan ginjal.

Tujuan: penguranagn rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman

Intervensi :

  • kaji tingkat nyeri pasien

R/ :memberikan data dasar untuk mengevaluasi keberhasilan strategi dalam meredakan rasa nyeri

  • berikan preparat analgesic yang diresepkan.

R/ :meningkatkan pengurangan rasa nyeri

  • Lakukan kompres hangat dan masase pada daerah yang terasa pegal serta mengalami gangguan rasa nyaman

R/ :meningkatkan relaksasi dan peredaan nyeri otot serta gangguan rasa nyaman

  • Fiksasi luka insisi dengan kedua belah tangan atau bantal pada saat melakukan gerakan atau melakukan latihan batuk

R/ :meminimalkan tarikan atau tegangan pada luka insisi dan memberikan dukungan pada pasien

  • Bantu dan dorong ambulasi dini

R/ :dimudahkan dilanjutkannya kembali latihan aktivitas otot

  1. Diagnosa keperawatan : resiko bersihan jalan nafas yang tidak efektif yang berhubungan denagn rasa nyeri akibat insisi abdomen yang tinggi atau insisi di daerag ginjal , ganguan rasa nyaman pada abdomen dan immobilitas , resiko pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan insisi abdomen yang tinggi

Tujuan : bersihan jalan nafas adekuat;pola pernafasan normal.

Intervensi :

  • Berikan preparat analgesic seperti yang diserapkan

R/ :peredaan rasa nyeri memudahkan pasien untuk menarik nafas dalam dan batuk

  • Fiksasi luka insisi dengan kedua belah tangan atau bantal untuk membantu pasien pada saat batuk

R/ :Fiksasi luka insisi akan meningkatkan batuk yang adekuat dan mencegah atelektasis

  • Bantu pasien untuk mengganti posisi dengan sering

R/ :penggantian posisi dengan sering akan meningkatkan drainase dan pengembangansemua lobus paru

  • Dorong penggunaan spirometer insetif jika terdapat indikasi atau tindakan ini diresepkan

R/ :mendorong pernafasan dalam yang adekuat

  • Bantu dan dorong ambulasi dini

R/ :menggerakkan atau memobilisasi sekresi paru

  1. Diagnosa keperawatan ; perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan drainase urin ; resiko tinggi infeksi berhubungan denagn draianse urin

Tujuan : mempertaahnkan eliminasi urin ; saluran kemih yang bebas dari infeksi.

Intervensi :

  • kaji system drainase urin dengan segera

R/ :memberikan dasar bagi pengkajian dan tindakan selanjutnya

  • kaji keadekuatan keluaran urin dan potensi system drainase

R/ :memberikan data dasar

  • pertahankan sistem drainase urin yang tertutup

R/ :mengurangi resiko kontaminasi bakteri dan infeksi

  • observasi warna , volume, bau dan konstituen urin

R/ :memberikan informasi mengenai kecukupan keluaran urin, kondisi dan patensi system drainase, serta debris dalam urin

  • pertahankan asupan cairan yang adekuat

R/ :meningkatkan keluaran urin yang adekuat dan mencegah stasis urinarius.

 

  1. Diagnosa keperawatan : resiko kelebihan atau  kekurangan cairan berhubungan denagn kehilanagn cairan akibat pembedahan,perubahan keluaran urin, pemberian cairan parenteral

Tujuan ; mempertahankan keseimbanagn cairan yang normal

Intervensi :

  • timbang berat badan pasien setiap hari

R/ :penimbangan berat setiap hari merupakan indicator yang sensitive untuk menunjukkan kehilangan atau penambahan cairan

  • ukur asupan dan keluaran cairan yang akurat

R/ :mendeteksi retensi urin akibat curah jantung atau keluaran ginjal yang buruk

  • berikan semua terapi parenteral dengan pompa infuse

R/ :memastikan agar cairan infuse tidak kelebihan atau kekurangan tanpa disengaja

  • pantau jumlah dan karakteristik urin

R/ :membantu mendeteksi secara dini komplikasi dari pembedahan atau pemasangan selang yang mungkin terjadi

  • pantau tanda-tanda vital : suhu tubuh , denyut nadi , pernafasan dan tekanan darah

R/ :apabila volume cairan atau curah jantung mengalami perubahan, tanda-tanda vital akan terpengaruh

  • lakukan auskultasi jantung dan paru setiap pergantian shift

R/ :apabila volume cairan meningkat akibat curah jantung atau keluaran renal yang buruk, cairan akan tertumpuk. Demikian pula suara jantung akan berubah ketika terjadi gagal jantung kongestif. Auskultasi yang sering dilakukan akan menjamin deteksi dini.

  1. Diagnosa keperawatan : takut dan cemas berhubungan denagn diagnosis, hasil akhir pembedahan dan perubahan fungsi urinarius.

Tujuan : penguranagn rasa takut dan cemas .

Intervensi :

  • kaji ketakutan dan kecemasan pasien sebelum pembedahan jika hal ini dimungkinkan

R/ :memberi data dasar untuk pengkajian pasca operatif

  • kaji pangetahuan pasien mengenai prosedur pembedahan dan kemungkinan hasil akhir pembedahan

R/ :memberikan dasar yang lebih lanjut

  • evaluasi perubahan makna bagi pasien dan anggota keluarga atau pasangannya

R/ :memudahkan pemahaman akan reaksi atau respon pasien terhadap kemungkinan hasil akhir pembedahan

  • dorong pasien untuk mengutarakan dengan kata reaksi , perasaan dan ketakutannya

R/ :verbalisasi respon sering diperlukan untuk mengkaji pemahaman pasien terhadap hal-hal tersebut dan pemecahannya

  • dorong pasien untuk membagi perasaannya dengan pasangannya

R/ :memudahkan pasien dan pasangannya untuk menerima dukungan bersama dan mengurangi perasaan terisolasi satu sama lain

  • tawarkan dan atur kunjungan dari anggota kelompok pendukung. (misalnya kelompok ostomi jika diperlukan )

R/ :memberikan dukungan dari orang lain yang pernah menjalani prosedur bedah yang sama atau serupa dan memberikan contoh bagaimana orang lain mengatasi permasalahan tersebut.

 

  1. 3.      EVALUASI

Pre-operatif

1)      Ansietas dikurangi

a)      Mendiskusikan kekawatiran yang berkaitan dengan tipe anastesi dan induksi dengan ahli anastesi/anastesi

b)      Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi praanestesi dan anestesi umum

c)      Mendiskusikan kekawatiran saat-saat terakhir dengan perawat atau dokter

d)     Mendiskusikan masalah-masalah financial dengan pekerjasosial, bila diperlukan

e)      Meminta kunjungan pemuka agama bila diperlukan

f)       Benar-benar rilaks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan.

2)      Peningkatan pengetahuan pasien tentang persiapan praoperatif dan harapan pasca operatif

  1. Ikut serta dalam persiapan pra operatif
  2. Menunjukkan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi
  3. Menelaah informasi tentang perawatan pasca operatif
  4. Menerima medikasi praanestesi
  5. Tetap berada ditempat tidur
  6. Refleks selama transformasi penggunaan pagar tempat tidur.

 

Pasca operatif

1)      Pengurangan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman.

a)      Melaporkan pengurangan rasa nyeri yang hebat dan gangguan rasa nyaman.

b)      Menggunakan preparat analgesic seperti yang diresepkan

c)      Menyebutkan rasional penggunaan kompres hangat dan masase

d)     Melatih otot yang pegal dalam batas-batas yang direkomendasikan.

e)      Secara bertahap meningkatkan aktivitas dan latihan.

f)       Menggunakan teknik untuk mengalihkan perhatian , melakukan latihan relaksasi dan imajinasi untuk mengurangi rasa nyeri.

g)      Memperlihatkan tidak adanya manifestasi pada timgkah laku akibat nyeri dan gangguan rasa nyaman ( missal :kegelisahan,perspirasi, ekspresi nyeri secara lisan ).

h)      Turut berpartisipasi dalam latihan menarik nafas dalam dan batuk efektif.

 

2)      Pengurangan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman.

  1. Menarik nafas dalam dan batuk secara adekuat ketika dianjurkan dan dibantu
  2. Memperlihatkan frekwensi pernafasan 12-18/ mnt
  3. Memperlihatkan suara pernafasan yang normal tanpa suara tambahan.
  4. Memperlihatkan perkembangan toraks yang penuh tanpa adanya pernafasan dangkal.
  5. Menggunakan spirometer insentif
  6. Memfiksasi luka insisi pada saat menarik nafas dalam dan batuk.
  7. Melaporkan semakin berkurangnya nyeri dan gangguan rasa nyaman ketika batuk dan nafas dalam.
  8. Memperlihatkan pemeriksaan gas darah dan foto toraxs yang normal.
  9. Memperlihatkan suhu tubuh yang normal tanpa tanda-tanda atelektasis atau pneumonia pada pengkajian.

3)      Mempertahankan eliminasi urin: saluran kemih yang bebas dari infeksi.

a)      Memperlihatkan keluaran urin yang adekuat dan system drainase urin yang paten

b)      Memperlihatkan keluaran urin yang konsisten dengan asupan cairan.

c)      Memperlihatkan urin yang steril dan pemeriksaan kultur urin.

d)     Mempertahankan system draiase urin tertutup.

e)      Mempertahankan pengalihan urin seperti yang dianjurkan.

4)      Mempertahankan keseimbangan cairan yang normal.

  1. Berat badan pasien berada dalam rentang 1-1,5 kg (2-3 pound) dari nilai normal.
  2. Asupan cairan yang melampaui keluarannya akan dideteksi secara dini.
  3. Jumlah larutan infuse tepat tanpa menimbulkan efek yang merugikan akibat pemberian infuse yang berlebihan atau kurang.
  4. Urin tampak jernih dan tidak mengandung darah, pus atau benda asing lainnya.
  5. Suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah berada dalam batas-batas normal.
  6. Bunyi jantung dan paru normal.

5)      Pengurangan rasa takut dan cemas.

  1. Mengutarakan dengan kata-kata reaksi dan perasaan kepada staff perawat.
  2. Membagi reaksi dan perasaan dengan keluarga dan pasangannya.
  3. Mengalami perasaan sedih yang sesuai (tidak berlebihan) bagi diri dan bagi perubahan peranan serta fungsi.
  4. Mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk meningkatkan adaptasi dan koping.
  5. Turut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dan kejadian di sekitar lingkungannya.
  6. Menerima kunjungan dari orang  yang memberikan dukungan atau turut berpartisipasi dalam kelompok pendukung.
  7. Mengidentifikasi individu yang memberikan dukungan dari pengalaman dan kelompok sebaya.

 

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “TRANSPLANTASI Dan Cangkok GINJAL”

  1. Comments are closed.
May
15
2012