ULKUS PEPTIKUM | HealthyEnthusiast

You are here: » ULKUS PEPTIKUM

ULKUS PEPTIKUM

ULKUS PEPTIKUM
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

PENGERTIAN

Ulkus peptikum adalah kerusakan pada mukosa yang melapisi saluran pencernaan akibat serangan asam dan pepsin, ulkus dapat berlangsung akut dan kronis, (JCE Underwood,1999). Ulkus peptikum adalah kerusakan pada jaringan mukosa dan lapisan otot saluran pencernaan bagian atas yang dapat terjadi di esophagus, gaster, duodenum, dan yeyenum, (Qrs Supriyadi,dkk,2000).

Ulkus peptikum adalah ulkus yang terjadi pada mukosa, submukosa dan kadang-kadang sampai lapisan muscularis, dari traktus gastrointestinalis yang selalu berhubungan dengan asam lambung yang cukup mengandung HCL, (Sujono,hadi,1995). Ulkus peptikum adalah keadaan dimana kontinuitas mukosa lambung terputus dan meluas sampai dibawah epitel, (Peter,Anugrah,1994).

ETIOLOGI

Penyebab yang pasti belum diketahui, namun beberapa kasus dihubungkan dengan peningkatan sekresi asam lambung dan lemahnya barier mukosa lambung. (Supriyadi,2000). Dapat juga disebabkan oleh asapirin, alcohol, prostaglandin, indometasin, phenilbutazon, dan kortikosteroid, (Peter,Anugrah,1994).

Penyebab lain adalah asam getah lambung terhadap resistensi mukosa lambung, golongan darah O, SSP, inflamasi bacterial dan non bacterial, infark, factor hormonal, factor obat-obata, herediter, factor penyebab lain (hernia, sirosis hepatic, penyakit paru, penyakit kardiovascular.

ANATOMI PATOLOGI

Ulkus peptikum sering disebut sebagai nulukus lambung, duodenal / esophagus tergantung lokasinya. Ulkus ini disebabkan oleh erosi area terbatas dari membrane mukosa. Erosi ini dapat meluas sedalam lapisan otot / seluruh otot di peritoneum, ulkus peptikum lebih mungkin terjadi pada duodenum daripada lambung biasanya ini terjadi secara tunggal ataupun  dalam bentuk multiple. Ulkus petikum kronis cenderung terjadi pada kurfatura minor dari lambung dekat pylorus. Ulkus stress, yang secara klinis berbeda dari ulkus peptikum adalah ulserasi pada mukosa yang dapat terjadi pada area gastrointestinal kedua kondisi ini mengancam pada ulkus petikum. Lesi peptic dapat terjadi pada esophagus ( esopagitis ), lambung ( gastritis ), duodenum ( duodenitis ). Perhatikan sisi ulkus peptikum dan sisi inflamasi umum. Asam hidrodorida dibentuk oleh sel B dalam antrum. Kelenjar duodenal mensekresi larutan mucus alkalin, (Smeltzer,SC,2002).

PATOFISIOLOGI

Ulkus peptikum terjadi terutama pada mukosa gastroduodenal karena jaringan ini tidak dapat menahan kerja saam lambung pencernaan (asam HCL) dan pepsin. Erosi yang terjadi berkaitan dengan peningkatan konsentrasi dan kerja asam pepsin atau berkenaan dengan penurunan pertahanan normal dari mukosa. Mukosa yang rusak tidak dapat mensekresi mucus yang cukup untuk bertindak sebagai barier terhadap asam klorida.

Sekresi lambung terjadi pada tiga fase :

  1. Serolitik
  2. lambung
  3. usus

Karena fase ini terkait dan tidak saling tergantung satu sama lain, gangguan pada salah satu fase  dapat terjadi ulcerogenik.

  • Fase sefalik (psikis) : fase pertam ini dimulai dengan rangsangan seperti pandangan , bahu, atau rasa makanan yang bekerja pada reseptor kortikalcerebral yang pada gilirannya, merangsang saraf vagal. Intinya makanan yang tidak menimbulkan nafsu makan mempunyai sedikit efek pada sekresi lambung
  • Fase lambung: pada fase lambung, asam lambung dilepaskan sebagai akibat dari rangsangan kimiawi dan mekanis terhadap reseptor di dinding lambung. Reflek vagal menimbulkan sekresi asam sebagai respon terhadap distensi lambung oleh makanan.
  • Fase usus : makanan dalam usus halus menyebabkan pelepasan hormon dianggap menjadi gastrin yang pada waktunya akan merangsang sekresi asam lambung .
  • Barier mukosa lambung :asam hidroklorida disekresi secara continue, tetapi sekresi meningkat karena mekanisme neurogenik dan hormonal yan dimulai oleh rangsangan lambung dan usus. Bila asam hidroklorida bersamaan dengna pepsin, akan merusak lambung. Asam hidroklorida kontak hanya dengan sebagian kecil permukaan mukosa lambung, kemudian menyebar kedalamnya dengan lambat. Mukosa yang tidak dapat dimasuki disebut barier mukosa lambung. Barier ini adalah pertahanan terhadap pencernaan yang dilakukan oleh sekresi lambung itu sendiri. Faktor ini yang mempengaruhi pertahanan mukosa adalah suplai darah, keseimbangan asam basa, integritas sel mukosal dan regenerasi epitel.
  • Oleh karena itu seseorang mungkin mengalami ulkus peptikum karena satu dari 2 faktor yaitu :
  • hipersekresi asam pepsin
  • kelemahan barier mukosa lambung.

 

 Download Pathway Ulkus Peptikum Click here

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis ulkus peptikum yaitu nyeri abdomen seperti terbakar terutam terasa apabila lambung atau duodenum tidak terisi makanan. Kerena makanan dalam keadaan normal menyangga kadar HCL bebas, nyeri sering timbul pada malam hari, (Corwin,JC,2000). Biasanya pasien dengan ulkus sering mengeluh nyeri tumpul, seperti tertusuk/ sensasi terbakar di epigastrum tengah atau dipunggung. Hal ini diyakini bahwa nyeri terjadi bila kandungan asam lambung dan duodenum meningkat menimbulkan erosi dan merangsang ujung saraf yang terpajan. Nyeri hilang dengan makan, karena makanan menetralisasi asam atau dengan menggunakan alkali.

Pirosis (nyeri ulu hati) beberapa pasien mengalami sensasi luka bakar pada esofagus dan lambung, yang naik ke mulut dan kadang-kadang disetai eruptasi asam, eruptasi atau sendawa umumnya terjadi pada lambung pasien kosong. Muntah meskipun jarang pada ulkus duodenal tak terkomplikasi, muntah dapat menjadi gejala ulkus peptikum. Hal ini dihubungkan dengan obstruksi jalan keluar lambung oleh spasme mukosa pilorus serta oleh obstruksi mekanis. Konstipasi dan perdarahan dapat terjadi pada pasien ulkus, kemungkinan sebagai akibat dari diet dan obat-obatan, (Smeltzer,SC,2002).

FOKUS PENGKAJIAN

Aktivitas dan istirahat

Gejala: kelemahan, kelelahan

Tanda : Takikardi, takipnea atau hiperventilasi (respon terhadap aktivitas)

Sirkulasi

Gejala : hipotensi, takikardi, kelemahan atau nadi perifer lemah, pengisian kapiler lambat, warna kulit pucat, sianosis

Integritas EGO

Gejala : faktor stres atau kronis, perasaan tidak berdaya

Tanda : ansietas( gelisah, pucat, gemetar, perhatian menyempit)

Eliminasi

Gejala : riwayat perawatan dirumah sakit karena perdarahan atau masalah yang berhubungan dengan perubahan pola defekasi/ karakteristik feses.

Tanda : nyeri tekan abdomen, distensi

Makanan dan cairan

Gejala : anoreksia, mualdan muntah, masalah menelan, cegukan, nyeri ulu hati, sendawa bau asam, penyakit ulkus peptik sebelumnya, berat badan menurun

Neurosensori

Gejala : rasa berdenyut, pusing/ sakit kepala, kelemahan, pingsan

Nyeri atau Ketidaknyamanan

Gejala: nyeri, rasa tidak nyaman/ distres samar-samar seteklah makan, nyeri epigastrik kiri sampai tengah menyebar ke punggung , faktor pencetus

Tanda : wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat

Keamanan

Gejala : alergi terhadap obat atau sensitif

Tanda : peningkatan suhu, (Doenges,1999)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan ulcerasi mukosa lambung
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungna dengan anoreksia, nausea, mual muntah
  3. Diare/ konstipasi berhubungna dengan efek ,(Doenges,1999).

INTERVENSI

Nyeri berhubungan dengan ulcerasi mukosa lambung

Kriteria Hasil :

  1. Keluhan nyeri berkurang
  2. Pasien dapat beristirahat tidur.
  3. Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan

Intervensi dan Rasionalisasi :

kaji skala nyeri, termasuk lokasi, lama dan intensitas, selidiki laporan perubahan karakterristiknya

R/ : bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit

catat petunjuk non verbal, missal gelisah, menolak bergerak, berhati-hati, menarik diri dan depresi

R/: bahasa tubuh dapat secara psikologis dan fisiologik digunakan untuk menunjukkan beratnya masalah

kaji factor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri

R/: dapat menunjukkan dengan tepat pencetus/ pemberat serta membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi

observasi dan catat distennsi abdomen, peningkatan suhu, penurunan TD

R/: menunjukan adanya obstruksi usus karena inflamasi, cedera

kolaborasi pemberian obat analgesik

R/: menangani nyeri, memudahkan istirahat dan penyembuhan

 

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungna dengan anoreksia, nausea, mual muntah

Kriteria Hasil :

  1. Berat badan stabil
  2. Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat.
  3. Berpartisipasi dalam masukan diet.

Intervensi dan Rasionalisasi :

lakukan pengkajian nutrisi dengan seksama

R/:mengidentifikasi kekurangan atau kebutuhan untuk membantu memilih intervensi

auskultasi bising usus

R/ : kembalinya fungsi usus menunjukan kesiapan untuk mulai makan

mulai dengan makanan/ cairan dengan perlahan

R/ : menurunkan insiden kram abdomen, mual

beri makanan sedikit tapin sering dan bervariasi

R/ : meningkatkan nafsu makan

timbang BB setiap hari

R/ : untuk mengetahui BB ideal

kolaborasi pemberian nutrisi tambahan parenteral

R/ : untuk melengkapi jika nutrisi peroral belum mencukupi

Diare/ konstipasi berhubungna dengan efek pengobatan

Kriteria Hasil :

  1. Mendapatkan fungsi usus normal
  2. Mempertahankan konsisitensi/ pola defekasi umum.

Intervensi dan Rasionalisasi :

observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik, jumlah dan factor pencetus

R/ :membantu membedakan pernyakit individu dan mengkaji beratnya episode

indentifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare, misal sayuran segar dan buah, sereal, bumbu, minuman karbonat, produk susu.

R/ : menghindarkan iritan,  meningkatkan istirahat usus

mulai lagi pemasukan cairan secara bertahap peroral, tawarkan minuman jernih tiap jam, hindari minuman dingin

R/ :memberikan istirahat kolon dengan menghilangkan/ menurunkan rangsang atau cairan

beri obat sesui indikasi antikolinergik dan antasid

R/:menurunkan motilitas atu peristaltic dan menurunkan sekresi digestif untuk menurunkan diare (antikolinergik) dan menurunkan iritasi gaster, mencegah infklamasi dan menurunkan resiko infeksi (antacid). (Doenges,1999).

Incoming search terms:

Posted by 0 Responses
 

Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates..

And then confirm your email subcription

   

No Comment to “ULKUS PEPTIKUM”

  1. Comments are closed.
Jul
7
2012